Menabung vs Meninjam

“Gali Lubang Tutup Lubang…” seperti judul lagunya Rhoma Irama, itulah kondisi Bangsa Indonesia sekarang, dari tingkat level yang paling rendah sampai yang paling atas. Kondisi tersebut dapat dilihat dengan menjamurnya jasa simpan-pinjam baik yang legal maupun illegal dan baik bantuan pinjaman dari pemerintah maupun non pemerintah. Dengan banyaknya lembaga atau bantuan pinjaman dari pihak ke-3 seperti tersebut diatas bukan menjadikan masyarakat yang mandiri tapi malah membudayakan budaya “Gali Lubang Tutup Lubang”

Hal tersebut diperkuat dengan beberapa pernyataan narasumber, di sebuah dusun di kabupaten Gunungkidul, sebut saja namanya Bu Sayem, dimana beliau ketika ditanya punya hutang Bu? Beliau menjawab, “siapa to mbak di masyarakat sini yang gak punya hutang? hampir 90% masyarakat sini punya hutang.” Kemudian ketika ditanya lagi, di berapa tempat ibu meminjam uang? Beliau menjawab, “yang jelas lebih dari satu tempat yaitu ada pinjam di koperasi, PNPM, arisan RT, arisan Trah dll.” Lebih lanjut ia menambahkan uang hasil meminjam di beberapa tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, membayar hutang di tempat lain, “yang jelas kita hutang untuk menyambung hidup mbak,” ungkap Bu Sayem.

Gambaran diatas adalah kondisi yang sangat memprihatinkan bagi bangsa Indonesia. Karena hal tersebut dirasa tidak hanya terjadi pada satu atau dua orang tapi hampir secara umum masyarakat Indonesia melakukannya. Salah Siapa? Dan siapa yang bertanggung jawab?

Era Orde baru

Di era Orde baru masyarakat mau meminjam uang saja jarang bahkan takut atau enggan karena takut kalau tidak bisa mengembalikan. Justru masyarakat gemar menabung, dimana dengan menabung mereka berharap mampu memenuhi kebutuhan jangka panjang dan kebutuhan yang tidak terduga. Masyarakat dapat menyisihkan pendapatnya dari bekerja atau berwirausaha untuk ditabung.

Kondisi tersebut sampai tertanam pada jiwa anak-anak, dimana mereka setiap  pulang sekolah masih menyisihkan uang sakunya untuk ditabung di “Celengan” atau dikumpulkan di dompet. Sehingga setelah “Celengan” penuh, uang yang ada di dalamnya digunakan untuk membeli pakaian atau ayam yang bisa dikembangkan. Dimana setelah ayam dibeli dan ayam itu dipelihara dengan diberi makanan, minuman yang baik maka ayam tersebut diharapkan dapat bertelur banyak. Sehingga setelah ayam-ayam tersebut berkembang biak menjadi banyak dan besar, ayam-ayam tersebut bisa dijual untuk dibelikan kambing. Dari kambing-kambing yang sudah berkembang dan tumbuh besar bisa sebagian dijual untuk dibelikan sepeda, untuk membayar biaya pendidikan, membeli kebutuhan pokok dll. Dari kambing bisa dikembangkan menjadi sapi atau kerbau atau yang lainnya sehingga rantai usaha selalu berjalan sesuai siklusnya dan tidak akan terputus.

Identifikasi Kebutuhan

Dari pemaparan diatas untuk mengontrol nafsu konsumsi sehari-hari, masyarakat perlu mengidentifikasi jumlah pendapatan per bulan/ per hari dengan jumlah kebutuhan sehari-hari. Dalam hal pemenuhan kebutuhan sehari-hari, masyarakat perlu memilah-milah mana kebutuhan pokok dan mana yang bukan kebutuhan pokok. Dimana menurut Abraham Maslow dalam teori Humanistik dan Aktualisasi Diri, dia mengemukakan bahwa hirarki kebutuhan manusia itu diantaranya adalah kebutuhan dasar (fisiologi), rasa aman, untuk dicintai dan disayangi, dihargai dan aktualisasi diri

Dalam kebutuhan dasar (fisiologi) sendiri, masyarakat harus bisa membedakan mana kebutuhan Primer, mana kebutuhan sekunder dan mana kebutuhan tersier. Dimana yang dimaksud kebutuhan primer itu adalah kebutuhan pokok sehari-hari yang harus di penuhi dan apabila tidak dipenuhi maka orang tersebut tidak akan bisa meneruskan keberlangsungan hidupnya. Contoh kebutuhan Primer adalah sandang, pangan, papan. Sedangkan kebutuhan sekunder adalah kebutuhan yang harus dipenuhi setelah kebutuhan primer terpenuhi seperti meja, kursi, alamari dan lain-lain. Untuk kebutuhan tersier adalah kebutuhan yang tidak mutlak untuk dipenuhi, karena apabila tidak terpenuhi kebutuhan tersebut tidak akan menghambat orang tersebut untuk hidup. Adapun contoh dari kebutuhan tersier adalah sepeda motor, mobil, kulkas, TV dll.

Pada dasarnya masyarakat sekarang mampu membedakan mana yang kebutuhan primer, mana yang sekunder dan mana yang tersier. Hanya saja kebutuhan primer masyarakat sekarang bermacam-macam, misalnya ketika bicara makanan, sekarang kebutuhan makanan pokok sangat bervariatif mulai dari yang harganya Rp. 1.000,- sampai dengan ratusan ribu. Sementara lidah masyarakat sekarang cenderung menginginkan makanan yang mahal-mahal.

Hal tersebut sebenarnya tidak menjadi masalah ketika masyarakat mampu memenuhinya dengan tidak harus hutang. Dimana masyarakat harus bekerja atau mempunyai usaha untuk memperoleh pendapatan yang lebih. Sehingga kebutuhan dan keinginannya bisa terpenuhi sesuai dengan kemampuannya dengan kata lain masyarakat tidak meminjam untuk konsumtif tapi benar-benar untuk usaha.

Oleh karena itu peran pemerintah atau lembaga non pemerintah adalah mendorong masyarakat untuk mempunyai usaha atau pekerjaan. Dengan difasilitasi, didampingi dan diberikan bekal untuk berwirausaha maka masyarakat akan dengan mudah memberdayakan setiap potensi yang dimilikinya. Sehingga dengan kondisi masyarakat yang mempunyai usaha maka secara tidak langsung masyarakat pendapatannya meningkat. Oleh karena itu perlu ditumbuhkan jiwa-jiwa entrepreneurship pada masyarakat.

Menumbuhkan jiwa entrepreneurship

Dalam rangka meningkatkan budaya menabung dan  mengikis budaya “Gali Lubang Tutup Lubang” salah satunya adalah dengan meningkatkan pendapatan dan mampu mengidentifikasi kebutuhan yang lebih pokok. Dan dalam rangka meningkatkan pendapatan masyarakat, maka perlu menumbuhkan jiwa entreprenuership agar  masyarakat mampu bertahan dan berkembang untuk memulai usaha.

Adapun cara untuk membangun jiwa entrepreneurship pada masyarakat diantaranya adalah:

1. Menumbuhkan tekad yang kuat untuk memulai

Dimana dengan pondasi yang kuat maka usaha yang akan dilakukan tidak akan mudah digoyah oleh segala sesuatu. Banyak masyarakat menilai bahwa untuk memulai usaha diperlukan modal yang besar padahal pemikiran tersebut salah. Dimana modal utama untuk mempunyai usaha adalah tekad yang kuat pada personal individunya bukan modal yang besar. Selain hal tersebut, perlu disingkirkan pikiran-pikiran negative yang melintas dibenak dan manfaatkan sumber daya yang ada.

2. Mengajak masyarakat untuk memulai dari bakat dan minat yang mereka miliki

Ketika berpikir menjadi seorang entrepreneur, masyarakat disarankan tidak perlu takut dan bingung untuk memilih ide usaha yang paling sesuai. Dan masyarakat diminta untuk memulai dari hal-hal yang dicintai, misalnya hobi atau bakat dalam bidang tertentu yang mereka miliki. Meskipun dari ide yang kecil apabila di tekuni maka yang kecil akan menjadi sesuatu yag besar.

3. Mengajak masyarakat untuk fokus dan konsisten

Untuk memulai usaha tentukan focus utama dalam menjalankan usaha dan terus ditingkatkan pengetahuan serta skill yang dibutuhkan masyarakat untuk menunjang usahanya. Jangan pernah berhenti berkarya sebelum akhirnya berhasil dan meraih mimpi.

4. Mengajak masyarakat belajar dari kisah para pengusaha sukses.

Untuk memotivasi masyarakat pemula dalam menjalankan usaha maka masyarakat perlu belajar dari seseorang yang sudah berpengalaman di bidang usaha. Dengan belajar dari kisah perjalanan para pengusaha sukses yang dulunya pernah jatuh bangun dalam menjalankan usaha, maka masyarakat pemula bisa termotivasi untuk berani mengalahkan ketakutan dan semakin terdorong segera memulai sebuah usaha

5. Mengajak masyarakat untuk memulai dan melakukannya saat itu juga

Untuk mengajak masyarakat memulai usaha tidak hanya berhenti ditataran teori akan tetapi harus segera dilakukan dan ditentukan saat itu juga.

Dengan adanya tips membangun jiwa entrepreneurship, diharapkan masyarakat saling berlomba-lomba untuk mempunyai usaha. Sehingga masyarakat sejahtera dan budaya menabung lebih meningkat, serta budaya “gali lubang tutup lubang” semakin terkikis. (Yuliana)

This entry was posted in article and tagged , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Menabung vs Meninjam

  1. Pingback: Menabung vs Meninjam | YAYASAN SATU KARSA KARYA (YSKK)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s