Dari Roti: Aku Bangkit dan Mandiri

Nama saya adalah Ibu Tukinem dari Desa Kampung Kecamatan Ngawen Kabupaten Gunungkidul Yogyakarta usia saya sekarang 43 tahun dan saya mempunyai 2 anak laki-laki. Sekarang ini saya mempunyai usaha yaitu produksi roti. Kemudian pekerjaan suami saya sekarang adalah membantu menjalankan usaha yang saat ini saya jalankan sementara 2  anak saya 1 telah lulus S1 dari perguruan tinggi negri ternama di Yogyakarta dan satunya lagi menjalankan kuliah di S1 di perguruan tinggi yang sama dengan kakaknya.

Sebelum mempunyai usaha saya hanya menjadi buruh karyawan di pabrik pembuatan roti. Dimana saya akan mendapatkan upah ketika saya bekerja sesuai berdasarkan jumlah barang yang diproduksi atau sering dibilang “Borongan”. Suamiku bekerja disebuah hotel di Yogyakarta dan ditempatkan dibagian koki special roti pula. Tapi belum lama bekerja di hotel suamiku di PHK dari tempat bekerja. Dimana alasan yang diberikan oleh pihak hotel karena baru mengalami kebangkrutan sehingga harus ada pengurangan karyawan. Pasca di PHK suami saya tidak bekerja dan menganggur. Kemudian kondisi tersebut memberi efek pada perekonomian keluarga yang amburadul dan tidak tertata. Padahal pada waktu itu pula saya masih membiayai sekolah anak dan memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari serta kebutuhan social yang lainnya.

            Melihat kondisi tersebut, saya memutar otak dan berfikir bagaimana jika saya mendirikan usaha roti secara mandiri? Tanpa berfikir panjang saya mencoba membuat roti sendiri dan kemudian saya minta temen-temn saya mencoba dan jika berminat untuk kemudian dia bisa pesan. Dari percobaan tersebut akhirnya ada yang pesan juga meskipun sekalanya masih kecil. Meskipun demikian diawal saya merintis usaha saya belum melepas pekerjaan pokok saya karena saya takut kalau usaha saya tidak lancer justru tambah mempersulit kondisi perekonomian rumah tangga. Berselang 1 minggu usaha saya berjalan akhirnya banyak pesanan yang dating dank arena kewalahan akhirnya saya melepas pekerjaan utama saya dan saya focus pada pekerjaan saya.

            Setelah saya lepas dari pekerjaan, saya totalitas menjalankan usaha yang saya rintis. Dimana dengan awal pinjaman dari salah satu lembaga keuangan senilai Rp 10.000.000,- dan ditambah modal sendiri Rp 10.000.000,0, saya belikan peralatan dengan skala besar untuk membuat roti dan bahannnya. Kemudian selain itu saya juga membuat catatan kencil untuk pesanan-pesanan yang masuk sehingga mudah untuk mengetahui jumlah produk yang akan diproduksi dan berapa jumlah laba dari usaha.

            Awal Usaha saya menjual roti pada waktu itu dengan harga Rp 1.500,- sampai Rp 4.000,- . Kemudian usaha saya dibantu oleh suami dan anak-anak saya sepulang sekolah. Karena pada waktu itu masih sedikit orang yang mempunyai usaha roti jadi banyak masyarakat yang mendukung atas usaha saya tersebut. 1 bulan pertama saya menjalankan usaha telah ada 10 orang yang memesan produk roti saya. Kemudian untuk memperluas jaringan saya menerapkan beberapa strategi, diantaranya adalah:

  1. Pengenalan produk kepada relasi yang sebelumnya telah terbangun.
  2. Menghubungi teman-teman SD, SMP dan teman-teman lainnya.

Dari setrategi tersebut,  semakin meningkatkan jumlah pesanan produk yang saya jalankan. Dimana dengan banyaknya pesanan pada akhirnya saya merekrut tenaga kerja baru seperti saudara saya yang belum bekerja dan ibu-ibu tetangga yang pengangguran. Meskipun mereka mau untu diajak bekerja tapi saya harus mengajari mereka cara membuat roti yang baik dan sesuai dengan takaran.

            Dari Usaha yang saya jalankan, saya mendapatkan keuntungan rata-rata selama satu tahun bersi Rp 60.000.000,-. Dengan keuntungan yang saya peroleh setiap tahunnya saya bisa meluluskan anak saya kuliah S1, membeli kendaranaan, memperbaiki rumah, membeli mobil, menguliahkan anak lagi, menabung dan mampu memenuhi kebutuhan rumah tangga sehari-hari serta mampu mengembalikan pinjaman ke pihak ke-3.

            Kunci dari kesuksesan saya terletak pada keberanian saya mengambil resiko, keuletan dan kedisiplinan. Selain itu support dari keluarga dan lingkungan menjadikan motivasi saya untuk mengembangkan dan memajukan usaha saya. Akan tetapi masih banyak kendala yang saya hadapi dari usaha saya yaitu ketika harga bahan baku dalam pembuatan roti terus melonjak maka harga produk juga akan meningkat dan kemudian permintaan menurun. Meskipun sudah ada wacana untuk menggunakan tepung tapioca dari tela tapi ternyata bahan baku setelah dibuat tepung juga masih terbatas. Selain itu tenaga kerja yang terbiasa kurang bersih juga berdampak pada kualitas produk dan dimana pada akhirnya saya harus merubah kebiasaan yang kurang baik itu sedikit demi sedikit. Terkait dengan persaingan, saya tidak ambil pusing karena saya sudah punya langganan dan saya selalu menjada kualitas.

            Harapan bagi perempuan-perempuan lain adalah ketika mengawali atau menjalankan usaha jangan takut mengambil resiko dan jalankan usaha dengan jujur disiplin,ulet dan yang paling penting adalah jangan gengsi. Terkait kritik dan saran dari orang lain itu dijadikan sebuah masukan yang positif dan membangun sehingga usaha bisa lebih maju dan berkembang. Kemudian dengan perempuan mempunyai usaha secara mandiri perempuan tiak akan tergantung pada suami dan perempuan mampu mengontrol atas dirinya sendiri.

Surakarta, 9 April 2013

Yuliana

This entry was posted in Success Story and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s