Mengikis Budaya Ewuh Dalam Gratifikasi Bantuan Sosial (Bansos)

Akhir-akhir ini sering terndengarkan beberapa lembaga atau koperasi di beberapa wilayah banyak yang menerima bansos (Bantuan Sosial). Dimana Bantuan Sosial tersebut berupa uang tunai dengan setatus hibah. Sedangkan penggunaannya itu macam-macam tergantung MoUnya. Ada yang digunakan untuk modal usaha, ada yang digunakan untuk membangun pesantren atau untuk membangun gedung dan aktivitas lainnya.

Hampir semua kementrian mempunyai program untuk menyalurkan Bantuan Sosial ke lembaga atau kelompok masyarakat yang membutuhkan. Dimana penyaluran Bansos tersebut biasa difasilitasi oleh dinas terkait yang berkedudukan di wilayah kabupaten/ kota. Kemudian dinas mengajukan ke kementrian dengan mengisi beberapa form dan melengkapi persaratan yang telah ditentukan. Sedangkan dalam proses pencairannya apabila memperoleh biasanya kementrian langsung mentransfer uang ke rekening bank yang dimiliki oleh klompok atau lembaga yang akan diberi bansos. Hanya saja untuk mengambil uang yang ada di bank biasanya lembaga atau kelompok yang mendapatkan program bansos tersebut harus ada rekomendasi dari dinas terkait.

Budaya Ewuh

Budaya ewuh adalah budaya yang biasa dan sering terjadi di wilayah pulau Jawa. Dimana dalam konteks ini, ketika suatu kelompok atau lembaga memperoleh Dana Bansos dari sebuah kementrian kelompok atau lembaga tersebut sebagai tanda jasa sering memberikan upeti/ materiel kepada pihak yang memfasilitasi dalam proses memperoleh bansos. Meskipun tidak dibenarkan dan sebenarnya itu adalah bentuk tindakan KKN (Korupsi Kolusi dan Nepotisme), masyarakat menganggap hal tersebut adalah hal yang wajar.

Kenapa masyarakat melakukan itu?

Meskipun tahu dengan memberi itu sudah termasuk KKN dan bisa dikenakan pasal mengenai gratifikasi. Tapi kejadian itu sebenarnya masih ada dan bisa ditelusuri. Hanya saja dari pihak baik yang menerima atau pemberi sering bungkam dan menutup-nutupi apabila ditanya atau di konfirmasi.

kelompok atau lembaga penerima bansos melakukan itu karena terdapat beberapa faktor diantaranya adalah:

1. Budaya ewuh pekiwuh.

2. Takut kalau tidak diberi kedepan tidak akan diajukan dana

     Bansos lagi atau dilibatkan secara aktif dalam program tertentu

3. sebagai tanda jasa atau ucapan terimakasih

Atas dasar tersebut, biasanya kelompok masyarakat atau lembaga yang mendapat program bansos sebagai tanda terimakasih memberikan barang atau uang senilai kurang lebih 3 jt. Dimana masing-masing penerima program bansos relatif berbeda dalam memberikan tanda terimakasih.

Cara Menghilangkan

Tidak mudah menghilangkan budaya yang sudah membudaya dimasyarakat seperti tersebut diatas. Dimana dibutuhkan kerja yang luar biasa bagi pendamping lapangan. adapun hal-hal yang biasa dilakukan pendamping lapangan diantaranya adalah:

1. Memberikan penjelasan mengenai kegunaan Bansos

2. Memberikan penjelasan mengenai bentuk-bentuk korupsi

    dan dampaknya.

3. Memberikan penjelasan bahwa memfasilitasi kelompok atau

    lembaga untuk mendapatkan Bansos itu adalah tugas dinas ter

    kait.

4. Melakukan diskusi jika budaya tersebut masih dipelihara.

5. Membuat strategi bersama agar uang bisa cair tanpa pihak yang

     memfasilitasi merasa tersinggung dll.

Pastinya, budaya tersebut harus dikikis sedikit demi sedikit agar tidak membudaya dan susah dihilangkan.

This entry was posted in article and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s