Peta Jalan Penanggulangan Kemiskinan Berbasis Aset Lokal Kabupaten Gunungkidul

“Indeks pembangunan manusia jika hanya mengacu pada pendidikan formal itu sebenarnya pembodohan. Karena tidak ada pembangunan manusia yang berkelanjutan…..” (Prof. Susetiawan)

Selasa, 2 Juli 2013 adalah hari dimana saya mengikuti seminar yang diadakan oleh IRE (Institute Risearch And Empowerment). Dimana acara tersebut diadakan di ruang BAPPEDA Gunungkidul. Adapun peserta yang ikut banyak dari unsure SKPD, kelompok atau organisasi masyarakat dan beberapa LSM yang berprogram di Kabupaten Gunungkidul. Acara seminar tersebut tepat dimulai pukul 10.00 WIB yaitu molor 2 jam dari waktu yang telah dijadwalkan. Selain itu dalam seminar ini juga menghadirkan beberapa narasumber diantaranya adalah Guru Besar UGM Prof Susetiawan, Bpk Pri (Bappeda Gunungkidul) dan Bpk Sunaji Zamroni (Peneliti IRE).

Proses dalam seminar cukup menarik dan dinamis. Dimana semua peserta terlibat aktif dalam diskusi dan narasumber mampu membuka wacana peserta sehingga diskusi tidak monoton. Semua narasumber memaparkan materi sesuai dengan porsinya baik terkait dengan kajian ideologis mengenai konsep kemiskinan, kebijakan pemerintah terkait dengan penanggulangan kemiskinan dan hasil penelitian mengenai memperbesar dan memperkuat keberlanjutan untuk menanggulangan kemiskinan.

Menurut Prof. Susetiawan terdapat beberapa pandangan terkait dengan kemiskinan diantaranya adalah;

  1. Miskin dilihat dari ketidak mampuan seseorang untuk memenuhi kebutuhan. Penanggulangannya biasanya “member kail jangan beri ikan”. Karitatif filantrofis. Mengapa konsep ini menjadi konsep dominan?
  2. Miskin dilihat dari ketidak mampuan untuk hidup kreatif (Creative living). Konsep ini tidak akan menanyakan apa yang dikerjakan orang sekarang, kemarin dan kemungkinan mendatang, mengapa? Proses kreatif macam apa yang dimiliki. Penanggulangannya support terhadap kreatifitas.
  3. Miskin bukan dilihat dari individu akan tetapi dari komunitas dan wilayah yang didiami. Ada sumber-sumber apa dalam wilayah itu? Bagaimana wilayah itu dikelola yang berakibat pada perbaikan hidup warganya.

Dalam konteks penanggulangan kemiskinan saat ini dari penelitian IRE akan menggunakan konsep yang ke-3. Dimana perlu adanya identifikasi sumber-sumber penghidupan yang bisa dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat yang berkelanjutan. Hal tersebut penting karena selama ini kebinjakan pemerintah dalam penanggulangan kemiskinan lebih banyak menggunakan konsep kemiskinan yang pertama maupun yang kedua. Sehingga banyak program atau aktivitas yang dilakukan oleh pemerintah hanya “by project”. Dimana setelah aktivitas atau project selesai ya ditinggalkan dan biasanya masyarakat juga mengalami kebingungan mau apa setelah ini?

Berkaitan dengan indeks pembangunan manusia, perlu adanya kretifitas di dunia pendidikan. Harapannya dengan kretaifitas yang sesuai dengan kearifan local para penerus atau cendrungnya pemuda tidak lupa dan meninggalkan budaya atau kearifan local yang ada disebuah wilayah. Hal tersebut penting karena dalam realitas dengan perkembangan teknologi komunikasi dan informasi banyak masyarakat atau khususnya orangtua mengarahkan putra-putrinya untuk menjadi lebih baik dari orangtuanya. Hanya saja hal tersebut menjadi serba salah ketika dalam sebuah komunitas sumber matapencahariannya membuat topeng, kemudian ditengah perjalanan tidak ada penerusnya maka para pengrajin susah mencari SDM yang bisa meneruskan usahanya. Sementara anak-anak sudah tidak mau tahu aktivitas yang ada diwilayahnya bahkan ada keengganan untuk melanjutkan usaha yang telah dirintis orangtuanya.

Kenudian hasil penelitian IRE menyebutkan bahwa peran pemerintah dalam pengembangan livelihood, seperti tumbuhnya industry kreatif, lebih kecil daripada peran masyarakat. Dimana temuan tersebut dipertegas oleh pemerintah Gunungkidul bahwa minimnya peran pemerintah dalam menumbuhkembangkan industry kreatif karena selama ini SKPD yang ada belum mampu bersinergi dengan baik. Meskipun secara tertulis sudah bersinergi, tapi dalam praktek dan relaitasnya masih berjalan sendiri-sendiri dan mempunyai komunitas dampingan sendiri-sendiri.

Melihat fenomena dan temuan tersebut, pemerintah Gunungkidul mempunyai strategi dalam penanggulangan kemiskinan diantaranya adalah:

  1. Unifikasi dan validasi data sasaran penanggulangan kemiskinan.
  2. Membangun dan meningkatan kemitraan dengan pihak swasta, dunia usaha dan perguruan tinggi
  3. Pengembangan industrialisasi perdesaan
  1. Memperkuat institusi lokal menjadi energi positif dalam penanggulangan kemiskinan
  2. Penguatan kelembagaan penanggulangan kemiskinan

Selain itu melalui pengembangan industrialisasi pedesaan pemerintah Gunungkidul akan mengembangankan industrialisasi di 3 desa yaitu Tepus, Banyusuco dan Mertelu. Dimana dalam konteksini pemerintah Gunungkidul akan melakuka kolaborasi yang solid antar SKPD dan hasilnya akan direplikasikan di desa lain.

This entry was posted in Catatan Lapangan and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s