Pendampingan Koperasi#30

“………..Semakin besar koperasi, semakin kompleks  hal-hal yang perlu dibenahi………”. Itulah ungkapan yang pas untuk saat ini bagi Koperasi Wanita Karya Perempuan mandiri, Desa Watusigar, Ngawen, Gunungkidul, Yogyakarta

Senin, 9 September 2013 adalah hari dimana Koperasi Wanita Karya Perempuan Mandiri Desa Watusigar, Ngawen, Gunungkidul, Yogyakarta mengadakan rapat pengurus. dalam rapat pengurus tersebut dihadiri oleh seluruh pengurus dan pengawas koperasi. Adapun hal-hal yang menjadi agenda pembahasan dalam rapat pengurus tersebut diantaranya adalah:

  1. Penggunaan Dana Bansos yang masih tersisa Rp. 25.000.000,-
  2. Laporan penggunaan Dana Bansos.
  3. Tindak lanjut pasca lomba tingkat provinsi.
  4. Administrasi keuangan (buku tabungan, slip setoran rangkap 2, bunga simpanan sukarela, pembagian job terkait dengan pengangsuran, kajian terkait dengan gaji)
  5. Studi Banding
  6. Pembelian buku koperasi yang dianjurkan oleh Dinas
  7. Kredit Macet
  8. Wacana terkait dengan peminjaman uang Kas ditangan atau istilah lain adalah “Sebrak’an”

Banyaknya topik bahasan yang akan didiskusikan, cukup menguras tenaga bagi pendamping, pengurus dan pengwas koperasi. tapi hal tersebut tak menjadi soal, dimana akhirnya semua hal yang menjadi agenda dalam rapat pengurus bisa terselesaikan. Adapun hasil dari rapat pengurus diantaranya adalah sebagai berikut:

  1. Terkait dana bansos yang masih Rp. 25.000.000, agar tidak mengendap di bank, maka akan segera disalurkan kepada nasabah yang meminjam. Harapannya dengan disalurkannnya uang tersebut tingkat produktivitas koperasi semakin baik.
  2. Laporan keuangan akan dibagi menjadi 2 yaitu Induk dan Sub Induk. Laporan keuangan Induk itu adalah laporan keuangan secara keseluruhan yang menggambarkan kondisi keuangan koperasi secara menyeluruh . Sedangkan untuk laporan keuangan sub-Induk adalah laporan keuangan khusus penggunaan dana bansos untuk keperluan laporan ke Dinas atau instansi yang membutuhkan.
  3. Tindak lanjut pasca lomba, ibu-ibu meminta kepada istri kepala Dinas Kelautan yang waktu itu berjanji akan ada tindak lanjut pasca lomba yaitu dengan pelatihan membuat wingko babad dan bolu gulung. Kenapa ibu-ibu meminta pelatihan tersebut, karena ibu-ibu ingin merintis usaha ketring sehingga paling tidak ibu-ibu bisa membuat bolu gulung terlebih dahulu. kemudian kenapa wingko babad, karena di lingkungan banyak bahan baku ketela pohon yang bisa dimanfaatkan untuk membuat wingko dan harapanya wingko bisa  menjadi ciri khas produk desa Watusigar.
  4. Terkait dengan buku tabungan, hal tersebut akan menjadi program tahun 2014. Untuk slip setoran rangkap 2 akan segera dipesankan pada tanggal 14 Sepetember 2013. Kemudian untuk bunga tabungan simpanan sukarela akan diberikan minimal setoran Rp 100.000,- sebesar 0,5%. Terkait dengan pembagian job saat terdapat angsuran, Ketua Bendahara (Mbk Jumikem) memegang pencatatan dan wakil bendahara akan memegang uang. Dan terkait pelaksanaan skim kredit wakil bendahara (Sri Lestari) yang akan menerima formulir ajuan dari para nasabah dan saat pencairan ketua bendahara yang bertanggung jawab. Kemudian untuk sistem penggajian akan diperhitungkan @jam kerja. Dimana @jam pengurus yang melakukan aktivitas dikantor koperasi akan memperoleh upah senilai Rp 5.000,-. Sebagai controls, pengurus yang bekerja dikantor harus mengisi form yang telah disediakan. Adapun format form berisi tentang: tanggal, nama, aktivitas yang dilakukan, hasil, jam hadir, jam pulang dan tandatangan serta beberapa dokumen sebagai bahan verifikasi.
  5. Terkait studi banding, karena untuk saat ini hal tersebut belum menjadi prioritas utama maka hal tersebut akan diprogramkan pada tahun 2014.
  6. Koperasi akan membeli buku yang dianjurkan oleh Dinas Koperasi. hal tersebut dikarenakan selain sebagai pelengkapan administrasi yang sudah ada, pengurus koperasi merasa risi dengan perkataan dinas yang setiap kali kunjungan menyarankan koperasi untuk membeli buku tersebut.
  7. Terkait kredit macet, pengurus telah memberikan surat peringatan kepada nasabah yang bermasalah.
  8. Wacana “sebrakan” yang awalnya dilontarkan oleh ketua dan bendahara koperasi dalam rapat akhirnya menghasilkan beberapa rekomenadasi, diantaranya adalah “Nyebrak” boleh tapi dengan alasan orang yang nyebrak benar-benar membutuhkan seperti orang tersebut benar-benar mebutuhakan untuk biaya untuk anggota keluarga yang sakit atau pendidikan anaknya. Dimana hal tersebut dibuktikan dengan dokumen-dokumen yang berkaitan. Selain itu, temponya maksimal 10 hari dan jelas apa yang akan menjadi agunannya.
  9. Kemudian untuk Workshop Usaha Dagang koperasi, pengurus meminta waktu kepada pendamping untuk dilaksanakan pada tanggal 16-17 September 2

Koordinasi dengan ketua KOPWAN_MUP

Pasca pendampingan rapat pengurus KOPWAN_KPM, pendamping melakukan koordinasi dengan ketua koperasi KOPWAN_MUP. dalam bincang-bincang yang kami lakukan, tanggal 11 September pyukul 09.30 WIB akan diadakan rapat pengurus koperasi. Setelah itu pendamping melanjutkan perjalanan dengan berkunjung disalah satu dusun yaitu Jurangjero untuk melihat pertunjukan seni Reog dalam rangka “Rasulan”. Setelah sejenak melihat dan memperhatikan, pendamping berpendapat bahwa hal tersebut menarik untuk diteliti.

 

This entry was posted in Catatan Lapangan, KOPWAN Karya Perempuan Mandiri, KOPWAN Mitra Usaha Perempuan and tagged , , , . Bookmark the permalink.