Pendampingan Koperasi#33

Senin, 16 September 2013 anggota koperasi KOPWAN_MUP yang berada di Dusun Gununggambar, Kampung, Ngawen, Gunungkidul Yogyakarta melakukan pertemuan rutin bulanan. Pertemuan kali ini dihadiri oleh seluruh anggota yang ada yaitu sejumlah 18 orang. Aktivitas pertemuan kali ini sedikit berbeda dengan pertemuan sebelumnya. Dimana jika pada bulan-bulan sebelumnya hanya diisi dengan aktivitas simpan-pinjam dan arisan serta pengarahan dari pengurus atau pendamping, kali ini pertemuan diisi dengan nonton film bareng, membaca dan diskusi.

Nonton Film

Film yang mereka lihat adalah film mengenai kemandirian seorang perempuan dan pentingnya berkoperasi. Dari film yang telah dilihat, mereka berpendapat bahwa seorang perempuan harus mandiri dan tidak tergantung pada laki-laki. Kemudian selain itu mereka mampu menganalisa bahwa dusunnya juga mempunyai potensi yang bisa di kembangankan dan melalui koperasi seharusnya perempuan bisa saling bekerjasama dalam menjalankan usaha secara mandiri. Hal tersebut seperti yang diungkapkan oleh beberapa ibu-ibuk berikut:

“……mbk sebenarnya dengan produk unggulan “manggleng” kita bisa lebih dari apa yang difilm itu.’ (Bu Lastri/45th)

“……sekarang ini kita sudah ada pengusaha besar….lha itu bu Lastri…dengan “manggleng” sekarang dia bisa membuat rumah,  selain itu dia telah berani membeli produk ibuk-ibuk yang lain.” (Bu Heni/ 35th)

“……dan dengan koperasi kita telah dibantu dalam kebutuhan modal usaha.” (Ibu Rini/ 35th)

Membaca artikel: Perempuan Kepala Rumah Tangga

Membaca buku adalah salah satu aktivitas yang jarang atau bahkan sama sekali tidak pernah dilakukan oleh ibu-ibu diwilayah pedesaan. Pernyataan tersebut seperti yang dilontarkan oleh para ibu-ibu berikut ini;

“…….aduh mbk……..gak pernah baca kok mbk diminta baca…..tulisannya aja susah dilihat.” (Marinem/50th)

“…….ibu-ibu sini itu sering bacanya ya surat undangan dari orang yang mau punya hajat itu mbk..”(Martini/ 50th)

Dengan dimintanya ibu-ibu membaca sebuah artikel dengan judul “Perempuan Kepala Rumah Tangga”, ibu-ibu dengan seksama dan dengan hening mencoba mendalami apa yang ada dalam artikel tersebut. Setelah 15 menit selesai membaca, ibu-ibu mulai mengungkapkan pendapatnya bahwasanya dari bacaan tersebut terdapat beberapa pesan yang tersirat maupun tidak tersirat, diantaranya adalah:

1. Terdapat perbedaan status janda di desa dengan di kota. Kalau di Desa janda itu karena rata-rata suaminya meninggal tapi kalau di kota mungkin karena masalah ekonomi atau yang lainnya.

2. Perempuan kepala rumah tanggapun mampu secara mandiri menghidupi keluarganya, apalagi jika dalam satu keluarga masih ada suami, pasti jauh lebih ringan.

Selain nonton film dan diskusi, pengurus koperasi menginformasikan terkait dengan beberapa perkembangan koperasi. Dimana usaha dagang akan dialihkan keusaha gaduhan kambing dan setelah diumumkan terdapat 5 anggota yang mau untuk menggaduh. salin itu kantor kesekretariatan pindah di rumah pengawas koperasi.

This entry was posted in Catatan Lapangan, KOPWAN Mitra Usaha Perempuan and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s