Inilah Kisah Perjalananku ke Jakarta…….

Selasa, 29 Oktober sebelum saya pergi ke Jakarta menghadiri Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan tahun 2013 di Universitas Indonesia saya memesan tiket kereta api di Stasiun Balapan. Dalam pikiranku saya akan pesan tiket pulang-pergi Jakarta biar sekali jalan. Tapi fakta menunjukan berbeda, saya hanya bisa pesen tiket untuk brangkat saja, sementara tiket untuk pulang tidak ada dan sudah habis terjual satu minggu yang lalu karena bertepatan dengan long holiday. Kemudian kuputuskan untuk brangkat naik kreta dengan tujuan Stasiun Gambir, Jakarta dan pulang naik bis. Dalam hati kecilku sebenernya kalau pulang naik bis saya takut (takut ada kejadian yang diluar kendali saya), karena dahulu sempat trauma kena copet dan pelecehan seksual. Kemudian saya lanjutkan perjalananku untuk mencoba pesen tiket bis di salah satu agen bis ternama. Pikirku pasti bisa, tapi ternyata sesampainya di agen bis, pelayannya bilang,”Mbk kalau pesen tiket dari Jakarta-Solo, itu belinya harus di Jakarta, karena kami belum melayani online.” Gubrak!!!! langsung saya bingung dan agak cemas. Mau tidak mau saya pulang pasti naik bis dan pada kesempatan itu juga saya putuskan untuk beli tiket bis waktu di Jakarta.

Naik Kereta Api

Rabu, 30 Oktober mulailah saya berangkat ke Jakarta dengan naik Kereta “Argo Lawu” pemberangkatan jam 08.00 WIB. Agara tidak telat pukul 07.30 WIB saya  sudah sampai di stasiun. Dengan penuh kewaspadaan dan kehati-hatian saya naik kereta pada gerbong A-3 dan duduk pada kursi nomer 7. Awal saya duduk temen disamping kursi saya belum datang dan saya berharap temen samping kursi saya adalah seorang perempuan. Ternyata kondisi tersebut tidak sesuai dengan harapan, dimana temen samping saya adalah laki-laki. Munculah kemudian pikiran yang aneh-aneh. Dalam hati berkata, “Gimana kalau di copet, gimana kalau di orang yang nggak bener?”Merinding dan tegang seluruh badan ini, karena tidak terbiasa duduk disamping laki-laki, apalagi perjalanan cukup lama yaitu kurang lebih 9 jam.

Selang beberapa jam kereta diberangkatkan, laki-laki disamping saya (sebut saja namanya Mas Agus) mulai pembicaraan dan terjadilah perbincangan seperti ini:

Mas Agus:”Mbk, mau pergi kemana?”

Saya (Yuli): “Ke Jakarta Mas, lha njenengan?”

Mas Agus:”Saya mau ke Palembang.”

Yuli: “Lho kok naik kreta, bukannya enak dan cepat naik pesawat?”

Mas Agus:”Karena tiketnya sudah dibeliin dari kantor mbk, lha mbk ke jakarta ada acara apa?”

Yuli: “saya ke Jakarta ada acara di UI tentang penanggulangan kemiskinan tahun 2013.”

Mas Agus: “lha mbk kerjanya dimana to?”

Yuli:”di NGO mas atau LSM.”

Mas Agus:” Dulu lulusan mana.”

Yuli:”UMS (Universitas Muhammadiyah Surakarta)”

Mas Agus: “Jurusan apa?”

Yuli:”Jurusan Ekonomi Manajemen, lha njenengan mas?”

Mas Agus: “Saya dulu di UGM (Universitas Gajah Mada) jurusan sastra.”…………..

Cukup lama kita berbicang-binjang dimana pada suatu kesempatan saya bertanya,”Sudahkah njenegan sering ke Jakarta?” kemudian orang tersebut menjawab, “Nggak terhitung mbk, karena kerjaanku itu sebagai IO.” Dengan bekal pengalaman yang telah dimiliki oleh orang tersebut, saya mencoba untuk mencari informasi mengenai transportasi untuk saya menuju ke tempat tujuan. Dengan cerita yang cukup panjang,  saya mendapat banyak informasi salah satunya adalah  sebagai berikut;kalau saya nanti turun di Stasiun Gambir nanti naik ojek menuju stasiun Juanda atau Gondangdia untuk naik kreta jurusan Bogor, selain itu untuk naik kereta harus beli tiket terlebih dahulu yang model bentuknya seperti kartu ATM dimana tiket tersebut bisa ditukarkan jika tidak akan dipakai lagi. Selanjutnya beliu memberi arahan kalau nanti kurang jelas atau tersesat saya diminta untuk bertanya pada ada petugas keamanan saja atau pusat informasi.

Menuju Kampus UI

Alkamdulillah, akhirnya kecemasanku berkurang, tapi masih ada satu kecemasan lagi yaitu naik ojek dari setasiun Gambir menuju stasiun Gondangdia. Dalam hatiku berkata,”Haduh,,,,,Kenapa harus naik ojek……dalam hatiku berkata nanti baik gak ya tukang ojeknya….nanti kalau aku diapa-apain gimana?” Tapi saya mencoba untuk menetralisir kecemasan itu dengan sedikit bicara agak tegas.

Sesampainya di Stasiun Gambir, saya keluar dan disekililing terlihat banyak tukang ojek yang menawarkan jasa. Dalam kesempatan ini saya bingung,” mau pakai tukang ojek yang mana ya?”Kemudian saya mencoba untuk bertanya-tanya kepada beberapa tukang ojek dan tidak lupa menanyakan berapa ongkosnya. Dan pada kesempatan itu terjadilah tawar menawar dan tidak lama kemudian bapak saya yang kebetulan bekerja di Jakarta menelephon dan menanyakan tentang posisi saya. Bapak saya ngasih saran untuk saya naik taxi saja, karena beliu juga cemas kalau saya naik ojek. Akan tetapi, saya pikir kalau naik taxi pasti macet dan nati telat sampai tujuan. Akhirnya pendapat bapak tidak saya pakai dan saya nekat untuk naik ojek biar dengan ongkos 25rb. Dengan keadaan Jakarta yang super macet, tukang ojek tersebut membawaku ke stasiun Gondangdia dengan kecepatan luar biasa cepatnya, menerobos jalur busway, melawan arah, ditambahi dengan saya tidak memakai helm. Hatiku kecilku berdo’a,”Ya Allah beri perlindungan hambamu ini Ya Allah agar selamat sampai tujuan……”, 30 menit kemudian saya sampai di stasiun Gondangdia dan Naiklah saya kereta Jurusan Bogor. Tidak pernah terlintas dipikiranku, ternyata didalam kereta sebelum saya naik semua penumbang berdiri dan berjubelan. Dalam hatikupun berkata lagi,” Ya Allah, seperti inikah perjuanganku, dan  kayak ginikah perjuangan mereka setiap hari untuk mengais rejeki di kota besar……..” Saya cukup tercengang dan Shock melihat keadaan itu, tapi apa boleh buata mau tidak mau saya harus naik kereta tersebut. Sayapun naik kereta dari Gondangdia menuju UI dengan berdiri dan dihimpit oleh penumpang yang lainnya.

Sesampainya di Stasiun UI perjalananku tidak semulus yang ada dalam pikiranku. Dengan merujuk pada undangan yang saya bawa tujuan gedung yang harus saya tuju adalah di Gedung Balai Tirta. Tapi setelah saya turun dari bis kampus mahasiswa ataupun dosen kurang tahu dengan nama gedung tersebut. Kemudian saya naik bis lagi dan tanya pak sopir,  dan ternyata saya seharusnya tinggal menyebrang tidak usah naik bis lagi untuk menuju gedung tersebut (penjelasan dari pak sopir). Apa boleh buat akhirnya saya muter-muter dengan bis kampus mengelilingi Kampus UI yang sangat luas itu. Tidak hanya sampai disitu perjalananku, saya harus melalui jalan-jalan ditaman dengan pepohonan yang cukup lebat untuk menuju Balai Tirta. Karena saya bingung akhirnya saya tanya lagi pada dosen dan pada mahasiswa, dan mereka ngasih petunjuk serta jalan menuju Balairung. Ternyata petunjuk yang diberikan salah. Dengan bawaan yang cukup banyak saya sudah mulai kelelahan dan kelaparan, itupun saya harus balik lagi. Kemudian saya tanya lagi kepada mahasiswa yang kebetulan berjalan dibelakang saya, dimana letak gedung tersebut.Akhirnyapun saya diantar oleh mahasiswa tersebut sampai depan gedung yang saya maksud.

Perjalanan Selama Di Jakarta

Selama saya di Jakarta, memang saya tidak berniat untuk tidur di hotel. Dimana niat awal saya akan menginap dirumah ohm atau temen. Hari pertama saya menginap di tempat ohm di Bogor, ternyata rumahnya cukup jauh. Meskipun di jemput, saya cukup kelelahan karena jam 11 malam baru samapai rumah. Kemudian dihari kedua, saya diantar ohm menggunakan sepeda motor. Sayapun dikagetkan dengan fenomena kota depok yang sangat macet, ramai dan bising.Tapi Alkhamdulillah saya tidak telat, bahkan yang tidur hotelpun malah justru kena macet dan datang terlambat. Selanjutnya hari kedua saya menginap dirumah temen lama yang sudah saya anggap seperti mbk sendiri, saya kesana pulang pergi naik kereta jurusa Bogor-Jakarta atau sebaliknya. Cukup lega rasanya bisa lancar saya mengikuti aktivitas di sana. Hanya saja waktu hari terakhir saya sempet kebingungan mau mencari tiket bus dimana. Lalu bapak saya memberi arahan kepada saya untuk beli tiket di Kampung Rambutan.

Perjalanan Pulang

Jum’at, 1 November 2013 saya pulang bersama dengan temen-temen saya dari Universitas Brawijaya Malang naik taxi menuju pangkalan bis Kampung Rambutan. Perjalanan menuju Kampung Rambutan kita di temani dengan hujan yang cukup deras, tatapi sesampai di pangkalan bis hujan sudah cukup reda. Kitapun langsung mencari tiket jurusan Solo maupun Surabaya. Dalam proses pencarian, bis yang kita harapkan semua tidak ada dan akhirnya kita memutuskan untuk cari sendiri-sendiri. Tidak lama kemudian ada agen yang menawari kursi bis yang masih kosong karena penumpang membatalkan. Tapi tidak lantas saya langsung menerima tawaran itu, saya selalu konsultasikan dengan bapak. Sampai-sampai dari agen bis meyakinankan saya dengan menawaran berbagai fasilitas yang ada didalam bis dan menakut-nakuti saya kalau sudah tidak adalagi bis jurusan Solo. Daripada saya pusing akhirnya saya naiklah bis yang ditawarkan itu dan kami akhirnya berpisah dengan temen-temen Surabaya.

Setelah naik bus, ternyata saya naik bis dikursi paling depan dan temen samping saya saya adalah laki-laki. Karena tidak terbiasa perasaan awal ketika saya brangkat naik kereta muncul lagi dan bahkan jauh lebih parah. Awalnya memang tidak ada pembicaraan sesuatu apaun hanya saja untuk menentramkan hati saya hanya basa-basi tanya, “masnya turun mana?”, kemudian dia jawan,”Ponorogo mbk?”kemudian dia tanya balik ,”lha mbke?” saya jawab, “Solo.”

Pada waktu itu keadaan masih hujan ringan sehingga situasi lumayan dingin dan didalam AC yang ada dalam bis sangat dingin. Meskipun sudah saya tutup tetep saja dingin, karena yang lainnya tidak ditutup. Kondisi tersebut diperparah ketika pintu bis depan tidak ditutup dan sopir atau kenek merokok. Itu adalah penderitaan besar bagiku, hidung jadi mampet, kepala sakit rasanya gak karuan dan mau-tidak mau saya harus berinisiatif untuk menutup sendiri pintu itu. Dengan membawa headshet akhirnya saya menikmati perjalanan naik bis dengan mendengarkan musik. Awalnya gak enak sama laki-laki yang duduk dikursi sampingku, tapi aku mencoba untuk cuek. Selain itu, karena sepanjang merasa kedinginan saya memakai selimut untuk menghangatkan tubuh saya. Dalam hati sebenernya saya malu, tapi apa boleh buat saya mencoba cuek aja. Karena takut masuk angin dan hidung tersumbat.

Tidak lama kemudian batrai Hp saya habi, hal tersebut di karenakan hp saya gunakan untuk mendengarkan musik dan saya tidak ada power bank. Akhirnya sepanjang perjalanan saya hanya diam dan mencoba melihat keadaan diluar. Diluar saya melihat banyak pabrik-pabrik yang beroperasi dan dalam hati saya berkata, “pantas banyak orang desa yang bekerja di Jakarta, ternyata disini adalah ladang untuk mengais rejeki bagi mereka.” Tapi kalau dipikir-pikir lagi pertanyaan besar saya, “Siapa ya…yang kemudian akan membangun desa?”. Terlintas dipikiranku karena saya adalah pekerja sosial, maka sudah tepat saya untuk melakukan pemeberdayaan dan memandirikan masyarakat desa, meskipun saya tinggal di kota.

Tiba saatnya waktunya makan malam, Bis berhenti disalah satu resoran. Dengan penuh percaya diri dan cuek akhirnya saya langsung antri mengambil makan bersama penumpang lain. Setelah itu karena sudah masuk waktu magrib saya sempatkan untuk menunaikan ibadah sholat magrib dan sekaligus Isyak. Setelahnya saya tanya-tanya pada kenek bis mengenai,  ada dan tidaknya fasilitas untuk mengecash HP. Dengan ketidak ramahan kenek itu memberi tahu, sayapun lekas mengecash HP saya. Karena saya orangnya pendek dan saya tidak sampai pada stop kontak, akhirnya saya naik ke kursi dan menancapkan cash hp saya ke stop kontak.

Sepanjang perjalanan saya susah tidur, karena selalu kaget ketika melihat bus yang menggunakan rem-nya secara mendadak. Selain itu efek dari malam sebelumnya yang tidur jam 2 pagi yang masih kebawa. Tidak lama kemudian orang disamping saya menawari premen dan dikasihlah saya 2 permen. Tapi gara-gara premen itu saya tambah jadi nggak ngantuk, akhirnya saya cuma makan satu permen. Berawal dari itu pula , akhirnya kita mulai berbincang-bincang dengan topik yang mungkin tidak jauh berbeda dengan waktu naik kereta diawal berangkat.

Ditengah malam yang gelap dan dingin penyakit untuk selalu ingin ke belakang itu muncul, dan terpaksa saya harus berjalan kebelakang menuju kamar mandi bis yang telah disediakan. Ternyata sesampainya di kamar mandi dan saya lihat kondisinya sangat kotor dan bauk menyengat yang tidak sedap. Apa boleh buat, mau tidak mau saya harus menggunakan kamar mandi tersebut dengan ditambahi gerakan dari bis yang membuat saya terombang-ambing. Keadaan tersebut diperparah dengan fasilitas air yang sedikit. lalu saya gunakan tisu untuk membersihkannya. Setelahnya perut saya sakit dan agak sedikit mual. Selain itu karena tidak bawa bekal akhirnya saya di bis kelaparan, karena waktu pemberangkatan saya lupa tidak beli makanan kecil apapun. Rasanya malu kalau bertanya atau minta makanan kepada orang disamping saya. Akhirnya kondisi tersebut mau tidak mau saya tahan sampai rumah.Tidak lama kemudian tepat pukul 02.15 WIB saya sampai Solo. Paginya saya dapat informasi dari temen-temen Malang yang sampai Solo pukul 10.00WIB.

Demikian perjalananku dari Jakarta-Solo dan Solo Jakarta yang luar biasa menguras tenaga dan pikiran. Tapi tak apalah, dibalik semua itu terdapat pembelajaran bagi saya yang sangat luar biasa.

This entry was posted in Catatan Lapangan and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s