Pendampinganku di 2 Wilayah Yang Berbeda….

Jum’at, 15 November 2013 adalah hari dimana saya melakukan dua pendampingan masyarakat di dua wilayah yang berbeda yaitu satu di Watusigar dan yang satunya di Gununggambar, Ngawen, Gunungkidul, Yogyakarta. Adapun agenda dalam pendampinganpun antar satu wilayah dengan wilayah yang lainpun juga berbeda. Dimana untuk yang di Watusigar adalah pendampingan rapat pengurus usaha dagang koperasi dengan agenda evaluasi operasionalisasi usaha dagang “Perempuan Mandiri”. Sedangkan yang di Gununggambar adalah pendampingan peretemuan rutin bulanan anggota KOPWAN “Mitra Usaha Perempuan” dengan agenda evaluasi pelaksanaan gaduhan kambing dan penyampaian informasi pasca pendamping mengikuti Temunas di Depok.

Evaluasi Operasionalisasi Usaha Dagang

Bulan kemarin yaitu Oktober 2013 telah disepakati terkait dengan aturan main usaha dagang “Perempuan Mandiri” yang baru. Adapun aturan main usaha dagang yang baru tersebut meliputi; mekanisme usaha dagang, struktur pengurus usaha dagang, sirkulasi produk dan pencatatan keuangan, produk keluar, produk masuk dll. Guna mengetahui dan memastikan sejauhmana aturan main itu dilaksanakan maka dalam rapat pengurus usaha dagang kali ini lebih fokus mendiskusikan sejauh mana semua aturan tersebut terlaksana.

Dalam proses evaluasi, karena tidak ada yang memulai, maka pendamping mencoba membuka ruang untuk semua bisa mengeluarkan pendapatnya, dimana saya melontarkan sebuah pertanyaan dari informasi yang sebelumnya sudah saya peroleh, “kemaren saya mendengar, kalau ada anggota yang harusnya dalam pembayaran pakai aturan lama tapi pembayarannya pakai aturan baru ya?” kemudian yang merasapun ikut menjawab,”apa iya mbk?…… coba tak lihat dulu.” setelah dilihat ternyata benar adanya terdapat satu anggota yang pembayarannya menggunakan aturan lama. Kemudian saya meluruskan, bahwa ketika dalam jual beli di koperasi transaksinya dilakukan dg menggunakan transaksi yang lama maka harus menggunakan peraturan yang lama pula begitu juga sebaliknya. kemudian ibuk-ibuk menjawab,”iya mbk…kayak simpan-pinjam koperasi itu ya mbk…jadi kalau waktu pinjam menggunakan peraturan yang lama, maka dalam pelaksanaannya juga menggunakan peraturan yang lama meski sudah ada peraturan baru.”

Kemudian untuk terkait dengan relasi usaha, saya melontarkan pertanyaan, “bulan kemarin kalau tidak salah devisi marketing mau menambah relasi ya……, sekarang sudah bertambah atau belum?”, kemudian devisi marketing menjawab,”belum…..”saya balik tanya,”kapan relasinya akan ditambah dan berapa relasi yang akan diajak kerjasama?” kemudian devisi marketing menjawab “untuk bulan ini 2 dulu mbk…”

Setelahnya terkait dengan laporan keuangan, dimana setelah saya pelajari informasi yang saya peroleh hanya posisi kas sementara untuk posisi utang, piutang, modal pihak ke-3 dan laba belum terdektif. Kemudian saya memberi arahan kepada bendahara untuk setiap bulannya menyajikan informasi terkait dengan jumlah uang di kas, persediaan barang, piutang, utang, modal pihak ke-3 dan laba. Dimana untuk Utang dagang bendahara berkoordinasi dengan devisi produksi dan untuk piutang bendahara berkoordinasi dengan devisi pemasaran. Sehingga masing-masing devisi wajib memiliki catatan keuangan yang keluar masuk dari devisinya.

Terkait dengan modal, karena pendamping sebelumnya mendengar banyak informasi yang simpang siur maka pendamping mengajak para pengurus untuk melakukan analisa kebutuhan usaha dagang. Dimana dengan uang kas yang saat ini ada di usaha dagang apakah sudah memenuhi kebutuhan usaha dagang. Setelah dianalisa ternyata uang yang ada dikas tidak memenuhi untuk operasionalisasi usaha dagang sehingga berdasarkan analisa, usaha dagang meminta koperasi untuk menambah modal investasi ke usaha dagang sejumlah Rp 750.000,- . Sehingga total modal koperasi yang diusaha dagang senilai Rp. 3.000.0000,-. Sedangkan terkait dengan sistem pencatatan saya mengarahkan untuk semua pihak mematuhi prosedur yang telah dibuat.

Terdapat informasi tambahan bahwa anggota koperasi yang memiliki usaha, mendapat pelatihan dari Dinas Kelautan Kabupaten Gunungkidul. Dimana yang dikirim dari koperasi adalah 2 orang yaitu Bu Yatmini dan Bu Sukarni. 2 orang yang dikirim tersebut diharapkan mampu mengaplikasikan ilmu dan ketrampilannya dalam membuat inovasi produk. Sehingga harapannya, dari pelatihan tersebut akan muncul produk-produk yang di elaborasi dengan produk yang telah ada. Selain itu kedepan Dinas kelautan akan mandampingi intens pasca pelatihan tersebut.

Seharunya beberapa pertanyaan diawal dilontarkan oleh pengawas dan dipimpin oleh ketua. Hanya saja karena keadaan yang kurang memungkinkan maka, pendamping yang mengambil alih agar tidak ada kesalah pahaman. Saya sebagai pendamping hanya mencoba memfasilitasi agar semua terbuka dengan permasalahan yang ada dan tidak ada istilah bicara di belakang.

Evaluasi Gaduhan Kambing

Sebelumnya pendamping telah melakukan monitoring dan evaluasi usaha gaduhan kambing di Dusun Candi, dan pada kesempatan ini bertepatan dengan pertemuan anggota Koperasi wanita “Mitra Usaha Perempuan”, pendamping juga melakukan evaluasi dan monitoring usaha kambing di Gununggambar. Dimana hasli evaluasi terdapat informasi bahwa dari ke-4 kambing yang ada di Gununggambar 1 dalam keadaan sakit mata dan saat ini dalam proses penyembuhan, 1 dalam kondisi flu, dan 2 dalam kondisi sehat. Dari keempat kambing tersebut 3 kambing sudah dikawinkan, tinggal 1 kambing yang belum karena belum mau dikawinkan.

Kemudian pendamping juga memberi oleh-oleh yang sama seperti pertemuan anggota di KOPWAN “Karya Perempuan Mandiri” yaitu terkait dengan pentingnya untuk peduli pada ketahanan pangan, energi, lingkungan dan financial. Dimana dalam kesempatan ini pendamping menjelaskan bahwa ketahanan pangan dilakukan agar kita bisa memenuhi kebutuhan pokok sendiri dan tidak beli dari negara lain. Kemudian untuk energi, sebagai bentuk peran kita sebagai warga negara saya mengajak ibuk-ibuk untuk hemat energi selain mengurangi beban negara kita juga bisa menghemat keuangan keluarga. Sehingga aktivitas yang tidak penting tapi membutuhkan energi seperti listrik, gas, bbm dll untuk dikurangi. Kemudian untuk lingkungan, masyarakat bisa berpartisipasi dengan tidak melakukan eksploitasi besar-besaran terkait dengan penambangan batu, menebang pohon dll. Karena hal tersebut akan merusak alam dan akibatnya akan berbalik lingkungan yang tidak akan bersahabat dengan manusia (banjir, tanah longsor, dll). Sedangkan untuk financial jika sekarang banyak lembaga yang menawarkan pinjaman, ibu-ibu sudah harus untuk berniat menolaknya, sekarang yang terpenting adalah menabung. Bisa pinjam asalkan benar-benar untuk usaha dan bukan untuk konsumtif semata.

Itulah catatan kecil pada pendampingan di 2 wilayah yang berbeda pada hari yang sama. semoga catatan ini bermanfaat………

Surakarta, 18 November 2013

Yuliana

This entry was posted in Catatan Lapangan, KOPWAN Karya Perempuan Mandiri, KOPWAN Mitra Usaha Perempuan and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s