Cerita Dibalik Pesanan….

Senin, 16 Desember 2013 kumulai aktivitasku dengan melakukan pendampingan di Koperasi Wanita Karya Perempuan Mandiri (Kopwan KPM) Desa Watusigar dan Mengambil pesanan dari pihak ke-3 ke koperasi “Sekar Arum” Desa Semin, Gunungkidul Yogyakarta. Sekilas pendampinganku di Kopwan KPM hanyalah membantu bendahara koperasi dalam persiapan RAT Tahun Buku 2013. Rasanya aktivitas ini biasa saja karena setiap tahunnya dilakukan. Lain halnya ketika saya mengambil pesanan pihak ke-3 di Koperasi “Sekar Arum”.

Pengambilan Pesanan

Awal, saya sudah janjian kepada pengurus koperasi “Sekar Arum” bahwa produk akan saya ambil pukul 14.30 di Balai Desa Semin. Tepat pukul 14.30, saya sampai di Balai Desa Semin. Karena pada hari tersebut bertepatan dengan pertemuan PKK Desa, sesampainya di Balai Desa acara belum selesai. Kemudian mau tidak mau saya menemui pengurus koperasi (Bu Wiji) untuk menanyakan terkait dengan produk yang saya pesan. Ternyata produk yang saya pesan kurang 1 kodi dan saya pada waktu itu juga merasa kebingungan dan dalam hatiku bertanya-tanya “…..Harus bagaimana ini?”

Tidak lama kemudian ibu Wiji menghubungkan  saya dengan pengrajin yang lain yang saat itu hadir dalam pertemuan PKK. Hanya saja, pengrajin tersebut harus menunggu kegiatan PKK selesai terlebih dahulu dan sayapun secara personal juga tidak etis ketika saya harus meminta pengrajin tersebut pulang terlebih dahulu. Akhirnya saya menunggu acara PKK desa sampai selesai.

Disesi akhir-akhir dalam pertemuan PKK, saya mewakili lembaga YSKK (Yayasan Satu Karsa Karya) diperkenalkan oleh ibu Tim Penggerak PKK Desa Semin (Ibu Murtini) kepada Kepala Desa Semin terbaru dan Istri Kepala Desa (Ibu Parsi). Tidak sebatas nama saya diperkenalkan, tapi juga sejauh mana program YSKK sudah berjalan di Desa Semin baik melalui pendampingan koperasi maupun Kepemimpinan Perempuan. Harapannya YSKK dan pemerintahan Desa yang baru bisa selalu bersinergi dan saling bekerjasama untuk membangun desa Semin menjadi lebih baik.

Mulai Beranjak

Kulalui jalanan yang berkelok-kelok dengan pemandangan yang sangat menkajubkan diantara bukit-bukit berbatuan menuju rumah pengrajin bambu. Suasana berbeda ku temui dari beberapa bulan sebelumnya saya berkunjung ke dusun-dusun di Desa Semin. Dahulu, jalan yang saya lalui sangatlah jelek dan takut ketika saya akan melaluinya, ditambah lagi keadaan baru musim kemarau sehingga tidak terlihat tanaman hijau yang menyejukan alam, yang saya temui hanyalah bukit berbatuan yang sangat gersang. Lain halnya sekarang, jalan menuju dusun sangatlah lebih dari baik, musim penghujan membuat perbukitan tampak hijau dan indah membuat hati serasa enggan pergi.

Sesampainya di rumah pengrajin (Ibu Niati) bambu, kulihat banyak sekali trompet/ sempritan, ethek-ethek, kerajinan dari akar wangi dan berbagai bahan baku untuk membuat kerajinan. Rasa-rasanya kondisi tersebut menguatkan saya untuk bisa membantu dan menjadi mitra para pengrajin bambu yang ada di desa Semin.

Mengantar Pesanan

Pukul 16.30 WIB saya mulai beranjak dari rumah Bu Niati dan melanjutkan perjalanan ke rumah Ibu Wibawa yang memesan produk kerajinan dari ibu-ibu Semin. Sepanjang perjalanan hujan tidak henti-henti, jalanan yang berlubang, angin yang bertiup kecang membuat saya harus ekstra hati-hati. Tepat pukul 18.00 saya sampai di Kota Solo dan saya belum menemukan rumah ibu Wibawa. Saya mencoba telphon tapi tidak diangkat, saya mencoba sms tidak di bales dan akhirnya saya mencoba tanya-tanya alamat yang sebelumnya telah diberikan Ibu Wibawa kepada saya.

Tak kusangka dan kuduga ternyata ibu yang memesan kerajinan ini adalah keturunan Chainise. Rumahnya yang begitu besar dan megah membuat saya antara percaya dan tidak percaya. Kuberanikan diriku untuk menekan tombol bel yang ada di menempel di pagar tempok samping. kulihat pembantu rumah akan membukakan pintu buat saya. Setelah kutanya-tanya ternyata benar bahwa rumah yang saya kunjungi adalah rumah Bu Wibawa. Sambil menunggu bu Wibawa, dalam hati dan pikiranku selalu berkata “apa benar ini?”, hatiku serasa gemetar dan enggan untuk bertemu dengan beliu.

Tidak lama kemudian beliu menyambut saya dan mempersilahkan masuk. tapi saya sungkan dan menolak untuk masuk. Kemudian saya berbincang-bincang dengan beliu di teras rumah dengan disuguhi teh hangat. Mulai dari keturunan Tionghua, peristiwa ’98, konflik antara umat beragama, teroris, pemimpin bangsa kami bicarakan seakan tidak ada sekat diantara kita.

Kurang lebih 1,5 jam saya berbincang, bercanda dengan beliu serasa dia adalah orang yang sangat baik dan berhati mulia. Saya berikan produk yang beliu pesan dan beliau memberikan saya uang dengan jumlah yang lebih dari seharusnya. Dengan keramahannya beliau meminta saya untuk berkunjung kembali. Dengan sepeda motor saya mengantarkan pesanan, beliu sangat perhatian dan meminta saya untuk memakai mantol, berhati-hati dijalan dan mengantarkan saya sampai saya tidak kelihatan di depan rumah.

Kelelahanku hilang, serasa saya menemukan berlian di lumpur yang hitam dan keruh. Semua anggapan mengenai sikap kurang sosialnya etnis Thionghua terbantahkan semua meskipun masih banyak pula etnis Thionghua yang individual….

Surakarta, 18 Desember 2013

Yuliana

This entry was posted in Catatan Lapangan, KOPWAN Karya Perempuan Mandiri, Pra Koperasi Sekar Arum and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s