Catatanku: Blusukan di dusun-dusun

“Desaku yang indah membuat hatiku tenang, tentram dan nyamam……”

Seperti ungkapan diatas, ketika saya tinggal selama kurang lebih 3 hari 2 malam bersama penduduk desa Purwodadi, Tepus, Gunungkidul. Keindahan alamnya yang luar biasa tanpa batas. Terlihat rumah-rumah penduduk disela-sela kaki gunung bebatuan, kemudian dari jauh kulihat pantai selatan yang terlihat masih alami dan perawan. Keramahan masyarakatnya membuat hati semakin nyaman dan enggan pergi. Tapi sayang desa itu banyak ditinggalkan oleh penduduknya. Kenapa masyarakat meninggalkan desa itu? Disisnilah jawabannya;

Bukan, tanpa tujuan saya menginap 3 hari 2 malam di desa Purwodadai. Dasar saya menginap di desa tersebut adalah ingin mengetahui sejuah mana peran perempuan dalam pemilihan BPD dan Pilkades. Sebelum kulangkahkan kakiku menyusuri dusun satu ke dusun yang lain, bersama dengan teman ku cari rumah penduduk yang bisa kita gunakan untuk beristirahat. Rasa-rasanya tidak mudah mencari rumah peristirahatan yang sesuai. Kemudian atas rekomendasi bapak kepala desa kita diminta menginap di rumah Pak Dukuh Cepogo. Meskipun agak mutar-mutar akhirnya ketemu juga. Sesampainya dirumah pak dukuh ternyata rumah beliu tidak menyediakan kamar. Kemudian kita agak kebingungan, masak kita tidur bareng diluar, khan kondisi tersebut sangat tidak memungkinkan. Akhirnya kita menemukan alternatif untuk saya menginap dirumah yang berbeda dan saya akhirnya menginap dirumah bu Mantan kepala desa (Ibu Suprih).

Adapun rumah-rumah yang kita kunjungi diantaranya adalah:

  1. Ketua BPD (Bpk Sugiyanto)
  2. Mantan Kepala Desa (Bu Suprih)
  3. Calon Kepala Desa yang tidak terpilih (Bpk Iwan & Bambang)
  4. Tokoh Perempuan (Ibu Sulastri)
  5. Kepala Desa terpilih
  6. Ketua Panitia pemilihan BPD
  7. Ketua Panitia Pilkades dll

Tidak dekat rumah satu dengan rumah yang lain, dimana kita harus blusukan dari dusun satu kedusun yang lain dari mulai pagi sampai larut malam. Dengan penerangan yang minim, kami mencoba untuk selalu semangat untuk bertemu dengan tokoh-tokoh desa. Adapun hasil dari kita ketemu adalah sebagai berikut:

  1. Budaya Priarkhi di masyarakat desa sangatlah kental. sehingga hal tersebut menghambat peran perempuan dalam publik strategis.
  2. Politik Dinasti sangatlah kental, dimana sebarapapun uang yang dikeluarkan, kekuasaan itu akan selalu dipertahankan.
  3. Rata-rata penduduk Desa setelah SMP jika tidak melanjutkan jenjang berikutnya, langsung merantu ke kota dengan rata-rata menjadi pembantu atau buruh.
  4. Tingkat pernikahan dini dan perceraian tinggi..
  5. Money politic masih terjadi dalam pilkades.
  6. Mark up data masih ditemukan
  7. Politik dagang sapi juga terjadi di desa
  8. Banyaknya kasus tukar guling tanah yang belum terselesaikan.
  9. tidak adanya perempuan yang masuk menjadi anggota BPD.
  10. Hanya terdapat 2 perempuan yang duduk dalam pemerintahan desa dll

Demikian catatan singkat dari bulusukan saya di Desa Purwodadi, kecamatan Tepus Gunungkidul pada hari Senin-rabu tanggal 20-23 januari 2014. lebih lengkap nanti bisa dilihat dari hasil riset kami.

Surakarta, 29 Januari 2013

Yuliana

This entry was posted in Catatan Lapangan and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s