Seperti ini pasarku, Seperti apa pasarmu?

Apa yang terbesWP_20140217_010it dalam pikiran ketika mendengar kata “pasar”?ada yang menjawab pasar adalah tempat bertemunya antara penjual dan pembeli. Pertanyaan selanjutnya dimana sekarang bisa menemukan antara penjual dan pembeli, dimana mereka saling melakukan transaksi, tawar -menawar? Pasti jawabanya di pasar tradisional. Dimana kita dapat menemukan pasar tradisonal? Pasti jawabannya di desa, meskipun di kota ada, tapi di kota sekarang yang lebih familiar adalah “Mall”. Kemudian ada berapa jenis pasar tradisional berdasarkan tempat dan waktunya? Yang jelas pasti banyak. Kali ini saya mencoba memotret kondisi pasar di wilayah perbatasan (perbatasan antar desa, kecamatan, dan provinsi).

Biasanya udara pagi itu sangat menyejukan dan semua orang pasti menyukainya, tapi pagi itu saya tidak menemukannya. Dimana ketika saya mulai melangkahkan kaki keluar rumah kemudian pergi bersama sepeda motor tepat pukul 05.15 WIB menuju Gunungkidul Yogyakarta, ternyata sepanjang perjalanan saya disambut dan ditemani oleh debu abu vulkanik Gunung Kelud. Meskipun telah menggunakan masker, tapi tetap saja abu itu mengganggu pernafasan dan mengganggu penglihatan. Akan tetapi, kondisi tersebut tidak lantas menyurutkan niat saya untuk menuju tempat tujuan. Hanya saja dalam perjalanan saya harus ekstra lebih hati-hati dan mawas diri.

Tepat pukul 06.30 saya sampai di pasar Semin Gunungkidul, Yogyakarta. Sambil menunggu orang yang akan mengantarkanku ke lokasi selanjutnya, saya mencoba melihat semua anggota badan dan ternyata pakaian, jaket, dan tas berwarna putih semua karena kena debu. Kucoba membersihkannya, tapi memang abu vulkanik itu sulit untuk dibersihkan. Tidak lama kemudian, orang yang mengantarkanku datang dan kamipun menuju ke lokasi. Diantarkanlah langsung saya ke lokasi yaitu ke pasar tumpah atau masyarakat Gunungkidul “Pasar Memble”.

Kulihat para perempuan yang rata-rata umurnya sudah diatas 40 tahun masih dengan semangat menjajakan produk yang mereka jual. Tak luput dari pandanganku terdapat nenek-nenek yang kurang lebih umurnya 90 tahun masih menjajakan dagangannya. Dan yang membuat saya agak terheran-heran adalah tidak adanya perempuan-perempuan muda yang berjualan di pasar. Ada apa dengan mereka? Mereka sekarang dimana?

Mulailah saya melontarkan beberapa pertanyaan kepada ibu-ibu dan nenek-nenek yang berjualan disana,”Nek sejak kapan berjualan di pasar sini?”, nenek tersebut menjawab, “sejak waktu masih muda sampai sekarang, nak.” Kemudian saya lanjutkan pertanyaan saya, “lha dimana anak dan cucu nenek sekarang kok nenek masih berjualan?” jawab nenek tersebut,”anak dan cucu pada cari uang ke kota dan saya senang rasanya menjadi pedagang, karena kalau g ada kesibukan badan justru sakit semua.” Sekilas percakap tersebut menginformasikan bahwa kebanyakan para pemuda dan pemudi di daerah tersebut memang lebih memilih untuk merantau meninggalkan kampong halaman guna mencari penghidupan yang lebih layak.

Sekilas setelah saya lihat-lihat beberapa tulisan di wilayah tersebut, memang pasar berada di wilayah perbatasan antara Kecamatan Semin dan Kecamatan Ponjong. Kemudian tidak adanya kios atau los yang bisa meraka gunakan untuk berdagang menjadi pertanyaan yang menggelitik pikiran saya, “Apakah pemerintah tidak melihat ini?” Kemudian untuk memperoleh informasi yang lebih menyeluruh, saya dengan ditemani oleh pengurus koperasi “Sekar Arum” (Ibu Wiji) berkujung ke kepala Desa Sawahan. Karena masih pagi, jadi tidak sulit untuk bertemu dengan Kepala Desa. Dengan keramahan beliu menyambut kami, tak ketinggalan hidangan ala orang desa dan minuman the hangat disajikan. Kemudian kami berbincang-bincang masalah pasar. Adapun informasi yang saya peroleh adalah:

  1. Pasar diwilayah perbatasan namanya adalah pasar “Sawur”. Pasar tersebut berada di wilayah Desa Sawahan Kecamatan Ponjong.
  2. Pasar buka sejak subuh sekitar jam 04.00 – 07.00 WIB
  3. Rata-rata pedagang dari Kecamatan Semin
  4. Jumlah pedagang 90% adalah perempuan
  5. Barang yang di perjual belikan adalah: hasil pertanian, jajanan pasar, sayur, makanan ringan , alat pertanian, perkakas rumah tangga, pakaian dll.
  6. Tanah masih dalam sengketa sehingga kedepan belum terdapat rencana untuk dibangun. Saat ini masih dalam proses penyelesaian
  7. Terdapat 1 pasar lagi yang setatusnya hampir sama yaitu pasar “Menggung” yang terdapat di pusat desa. Rencana tahun 2015 akan diajukan ke PNPM untuk pembangunannya.

Itulah sedikit informasi dari kondisi pasar di wilayah perbatasan anatara Kecamatan Semin dan Ponjong. Kemudian saya melanjutkan perjalanan ke koperasi “Karya Perempuan Mandiri” untuk melakukan pendamping para pengurus yang sedang melakukan pelatihan “Promosi UMKM melalui Media” kepada para anggotanya. Sebelum masuk ke-inti acara saya ajak para peserta bermain agar suasana cair dan tidak tegang. Setelah permainan dilakukan, ternyata mereka sangata senang dan merasa lebih siap dari pada sebelumnya untuk mengikuti pelatihan.

Masuk acara inti dipandu oleh Ibu Tri Yarsini. Dimana materi ini mendiskusikan trekait dengan promosi UMKM. Karena dirasa cukup baik dan menguasai, maka saya tinggalkan dan saya menuju ke Gununggambar, Kampung, Ngawen, Gunungkidul. Tujuannya adalah dengan hal yang sama yaitu melakukan pendampingan pelatihan. Sesampainya disana kulihat ibu-ibu sedang berdiskusi dan menungkan pikiranyya ke dalam beberapa carik kerta plano. Mereka di bagi menjadi 3 kelompok. Kemudian setelah selesai, mereka melakukan presentasi. Tak kusangka dank u duga ternyata ibu-ibu yang biasanya hanya bergulat dengan kesibukan ngurusi ladang, rumah, dan usahanya, sekarang mampu mempresentasikan hasil tulisan dan gambar yang mereka buat. Kemudian di sesi akhir, saya melakukan review atas apa yang disampaikan pengurus koperasi selaku pelatih. Dimana hasilnya para peserta telah paham, dan mereka meminta untuk kedepan terdapat pelatihan membuat media social.

Kemudian saya lanjutkan perjalananku untuk melihat pasar di wilayah perbatasan. Saya kunjungi pasar di Desa Tancep Kecamatan Ngawen yang berbatasan dengan Kecamatan Klaten Jawa Tengah. Karena waktu sudah sore, maka saya hanya bisa mengambil fotonya. WP_20140217_059Kemudian saya temui Kepala Desa Tancep untuk memperoleh informasi tentang pasar tersebut. Dimana setelah ngobrol kurang lebih 1 jam, informasi yang saya peroleh diantaranya adalah:

  1. Pasar buka jam 04.00 – 06.30 WIB
  2. Pedagang 50% dari wilayah setempat dan 50% dari luar.
  3. Belum terdapat rencana untuk pembangunan pasar.
  4. 75% pedagang adalah perempuan
  5. Barang yang di perjual belikan adalah: hasil pertanian, jajanan pasar, sayur, makanan ringan , alat pertanian, perkakas rumah tangga, pakaian dll.

Dimana bila di ambil kesimpulannya 2 pasar diwalayah tersebut kondisinya hampir sama yaitu belum mendapatkan perhatian lebih dari pemerintah (baik lokal maupun daerah)

Surakarta, 17 Februari 2014

Yuliana

This entry was posted in Catatan Lapangan, KOPWAN Karya Perempuan Mandiri, KOPWAN Mitra Usaha Perempuan, Pra Koperasi Sekar Arum and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s