Pasar Perbatasan Butuh Perhatian

WP_20140217_010Jalan-jalanku tempo hari, Kamis (17/02/2014), ke Pasar tradisional di wilayah Desa Sawahan, Kecamatan Ponjong, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta,

kondisinya sangat memprihatinkan.

Belum adanya ruang atau lahan membuat para pedagang pasar berjualan dipinggir jalan. Kondisi terseb

ut, sering menghalangi pengguna jalan yang lewat.

Letak pasar yang berada di perbatasan (antara Kecamatan Semin dan Ponjong), membuat pasar begitu ramai di kunjungi penjual dan pembeli.

Jumlah pedagang yang ada sejumlah 25 orang. Terdiri dari 23 pedagang perempuan dan 3 pedagang laki-laki. Selain itu, rata-rata pedagang pasar di dominasi oleh kaum tua.

Salah satu penyebabnya adalah masalah ekonomi, adapun penuturan seorang pedagang, Samiyem

(80),beliu mengatakan bahwa,  “rata-rata para pemuda pemuda-pemudi yang ada disini, setelah lulus SMP atau SMA itu pada merantau keluar kota.”

Bermacam-macam produk yang dijual pasar, seperti; hasil tani, kebutuhan pokok (sayur, minyak, bumbu, tepung dll), jajanan pasar, alat pertanian, pakaian, dll.

Menurut penuturan Kepala Desa

Sawahan, Suyatno(51), bahwa pasar tersebut beroperasi jika hanya hari-hari tertentu, seperti hari “pahing” (sebutan hari pasaran di Jawa). Terkait dengan kondisi tersebut, pemerintah desa belum ada rencana untuk membangun pasar. Hal tersebut dikarenakan sedikitnya pemasukan APBDes.

Kondisi yang sama dialami oleh pasar desa yang lokasinya berbeda, dimana pasar desa hanya terdiri 1 los dan itupun kondisi sudah tidak layak pakai.

Sementara perhatian pemerintah daerah ataupun pusat sangat minim terhadap pasar-pasar tradisional

di desa dan di wilayah perbatasan.

Dari data yang dimiliki oleh Badan Pemberdayaan Masyarakat, Perempuan dan KB (BPMP &KB) Kabupaten Gunungkidul terdapat 144 pasar desa dimana 113 kondisinya masih berkembang dan 31 kondisinya maju.

Sedangkan untuk pasar tumpah, atau mas

yarakat Gunungkidul sering sebut “Pasar Memble”, mereka belum mempunyai datanya. Hal tersebut memperlihatkan bahwa pemerintah daerah belum mempunyai perhatian khusus pada kondisi pasar di wilayah perbatasan.

Kondisi serupa juga di alami “Pasar Memble” yang ada di wilayah Desa Tancep, Kecamatan Ngawen, Ka

bupaten Gunungkidul. Dimana masalah sarana dan prasarana belum ada sama sekali. Letak pasar di wilayah perbatasan antara Kecamatan Ngawen dan Cawas, Jawa Tengah.

Pedagang pasar berharap, kedepan pasar di wilayah perbatasan mendapat perhatian dari pemerintah. Dimana perlu adanya los-los untuk berjualan agar jika hujan tidak kehujanan dan jika panas tidak kepanasan. Selain itu, ada ruang khusus (tidak dipinggir jalan) dan nada fasilitas-fasilitas yang lainnya.

Hal tersebut dipertegas oleh s

alah satu pedagang, ibu Wiji (45),”ini kalau ada los-losnya le

bih enak dan nyaman.”

Ini kondisi pasar di wilayah perbatasan, bagaimana kondisi pasar perbatasan di wilayahmu?

Surakarta, 23 Februari 2014

Yuliana

This entry was posted in Reportase and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s