Damai itu, Sederhana….

WP_20140225_003[1]Siang kemarin,(25/02/2013), saya melihat seorang suster (Pelayan Gereja), sedang menuntun sepeda mininya, di Desa Kampung, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta.

Terlihat suster tersebut berhenti di depan bengkel sepeda dan dia memasukan sepeda ke bengkel yang terletak didepan pasar. Kemungkinan ban sepeda yang dipakai oleh suster tersebut bocor atau tidak ada bagian yang rusak.

Jarak pandang yang lumayan jauh, membuat saya hanya bisa mengamati apa yang dilakukan tukang bengkel  terhadap sepeda  tersebut.

Dengan penuh keramahan terlihat, tukang bengkel tersebut melayani suster tersebut. Dengan penuh kesabaran suster tersebut menunggu sepedanya selesai diperbaiki.

Tidak lama kemudian, terdapat seorang laki-laki berbaju Pegawai Negeri Sipil (PNS) melintas di depan bengkel. Dia menyapa suter tersebut,”Sus, ngapain disitu?”. Sepintas, kudengar suster tersebut menjawab, “ini sepeda mini saya bocor”.

Dengan pakaian yang berbeda dibanding dengan perempuan lain, rasa-rasanya tidak membuat sungkan untuk orang lain menyapa. Hal tersebut jarang saya temu di tempat-tempat lain khususnya di wilayah perkotaan.

Damai

Dari keramahan layanan yang dilakukan seorang tukang bengkel kepada seorang pengguna jasa (suster), telah mampu memberi warna yang berbeda, bahwa di desa tersebut masih bisa ditemui sikap saling menghargai dan saling menghormati anatar pemeluk agam yang berbeda.

Melihat tutur-sapa sesesorang tersebut kepada suster, mencerminkan  bahwa kaum minoritas tidak selalu dipandang sebelah mata oleh kaum mayoritas.

Beda dengan kondisi dibeberapa wilayah yang ada di negara ini. Rasa-rasanya masalah kecil sering menjadi besar karena ulah beberapa oknum yang memiliki kepentingan atas semua itu.

Sehingga seakan-akan negara ini sudah tidak ramah lagi bagi kaum minoritas, dan negara ini abai terhadap intoleransi yang ada.

Sederhana

Sedikit cerita diatas sudah mampu menggabarkan bahwa sebenarnya damai itu sederhana. Tidak harus dengan memberi yang lebih atau tidak harus di gembar-gemborkan, tapi dilakukan.

Senyum, sapa, saling membantu, saling menghargai itu adalah kunci dari sebuah perdamaian.

Setiap orang mempunyai pandangan masing-masing atas apa yang mereka yakini. Hubungan antara manusia dengan Tuhannya adalah hubungan masing-masing individu. Tidak berhak setiap individu mempengaruhi individu lain untuk memaksakan atas apa yang diyakini.

Jika hal itu, sudah tidak diperhatikan oleh seseorang, maka bukannya tidak mungkin akan terjadi konflik anatar umat beragama akan terjadi.

Karena sering ditemui kesalah pahaman yang kecil, sering menyulut dan memunculkan konflik yang akhirnya meluas. Tanpa menggunakan hati dalam penyelesaiannya, maka egoisme yang akan muncul dan setiap orang akan beranggapan bahwa apa yang mereka lakukan itu benar.

Semoga “damai” itu tersebar dimana-mana, diseluruh plosok penjuru dunia di negeri Indonesia ini. Dimulai dengan melakukan hal-hal yang sederhana, termasuk dalam berbagi dan berkomunikasi di media sosial.

Salam damai untuk semuanya,…

Semoga tulisan ini bermanfaat

Surakarta, 26 Februari 2014

Yuliana

This entry was posted in Reportase and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s