Prospek usaha kambing…

WP_20131114_008Banyak peluang usaha yang bisa dilakukan oleh siapapun, baik di desa maupun di kota. Tinggal bagaimana kita mampu melihat peluang tersebut atau tidak.  Selain itu bagaimana cara kita bisa memanfaatkan peluang tersebut, sehingga menjadi usaha yang memiliki nilai ekonomis .

Dalam konteks Desa, banyak peluang usaha yang bisa dipilih. Mulai dari menjadi pedagang, bertani, indutri makanan kecil, berkebun, beternak, maupun menjadi pengrajin. Hanya saja yang menjadi pertanyaan, apakan masyarakat sudah menjalankan usahanya dengan cerdas sehingga mampu meningkatkan kesejahteraannya.

Ambil salah satu contoh,  usaha koperasi Mitra Usaha Perempuan (MUP) Desa Kampung, Kecamatan Ngawen Gunungkidul dalam gaduhan kambing. Dimana koperasi selalu menganti usahnya dengan alasan tidak sesuai, terlalu banyak resiko dan lain sebagainya.

Awal-awalnya koperasi menjalankan usaha dengan memfasilitasi pemasaran produk anggota. Diamana hasilnya, koperasi mampu memfasilitasi pemasaran produk anggota. Akan tetapi lama-kelamaan banyak anggota yang tidak produksi sehingga pemasaran terhenti ditengah jalan.

Yang menjadi alasan, banyak anggota yang sibuk dengan urusan pertanian sehingga tidak sempat berproduksi. Kemudian dihentikanlah usaha jasa pemasaran tersebut.

Dipertengahan jalan setelah usaha jasa pemasaran produk terhenti, banyak anggota koperasi yang mengajukan untuk koperasi menyediakan bahan-bahan pokok seperti; minyak, tepung, sabun, beras dan lain sebagainya. Kemudian koperasi menururuti permintaan anggota. Diawal tahun 2012, koperasi membuka usaha kelontong.

Usaha tersebut hanya berjalan 1,5 tahun. Hal tersebut dikarenakan pengelola kurang disiplin dalam administrasi dan banyak anggota yang kurang disiplin dalam melakukan pembayaran. Sehingga koperasi mengalami kerugian.

Gaduhan Kambing

Banyak belajar dari pengalaman tersebut diatas, pengurus koperasi Mitra Usaha Perempuan (MUP) mulai melakukan pemetaan dan menganalisa kebutuhan anggota koperasi.

Hasil pemetaan dan analisa, pengurus mengambil kebijakan untuk melakukan usaha baru, yaitu “gaduhan kambing” dengan alasan sebagai berikut:

  • Resiko usaha jauh lebih kecil
  • Sesuai dengan kebutuhan anggota, yang mana sebagian besar anggotanya adalah petani. Sehingga, keduanya bisa saling menopang.
  • Lebih menguntungkan dan bisa dilakukan oleh siapa saja.
  • Dari segi waktu lebih fleksibel

Dalam rapat pengurus koperasi, (7/03/2014), diperoleh informasi terkait dengan perkembangan usaha gaduhan kambing sebagai berikut:

  • 10 kambing yang di gaduhkan, terdapat 9 kambing yang bunting. Dimana salah satu diantaranya sudah ada yang akan beranak.
  • 1 kambing lainnya di prediksi mandul dan penggaduh minta untuk di tukarkan dengan kambing yang lain.
  • 10 kambing dalam keadaan sehat dan tidak cacat.
  • Perkiraan di tahun 2014, 9 kambing sudah beranak semua.

Prospek Usaha Kambing

Berternak kambing, dapat digunakan sebagai sumber pendapat alternatif dari pedesaan. usaha tersebut sangat menjanjikan jika ditekuni secara serius. Biaya yang di keluarkan untuk pembuatan kandang dan operasional tidak terlalu besar. Apalagi kalau di pedesaan lahan masih luas dan semua bahan untuk membuat kandang juga sudah tersedia.

Sebagai gambaran, seandainya pada awal usaha hanya memelihara 5 ekor betina, maka dalam waktu 7 bulan ternak 5 ekor kambing betina akan beranak minimla 5 ekor (padahal biasanya 1 induk beranak 2 ekor kambing). Kemudian 8 bulan berikutnya induk kambing akan melahirkan kembali.

Sementara jika penggemukan kambing, belum tentu akan mudah diperhitungkan keuntungannya. Hal tersebut dikarenakan, harga kambing selalu mengalami fluktuatif. Biasanya kambing akan memiliki nilai jual tinggi menjelang hari raya “Kurban”. Setelahnya, harga kambing cenderung mengalami penurunan.

Dengan gambaran diatas, beternak kambing dapat digunakan sebagai sumber pendapatan dari penjualan anakan. Selain itu, luasnya lahan dan mudahnya mencari makanan untuk kambing  di wilayah pedesaan menjadi faktor yang dominan untuk mengembangkan usaha tersebut.

Kebutuhan akan konsumsi daging setiap tahun selalu meningkat, sementara itu pemenuhan kebutuhan relatif sedikit (negatif), artinya jumlah permintaan lebih tinggi dai pada peningkatan produksi daging (kambing, domba, sapi, kerbau) sebagai konsumsi (Murtidjo, 1992).

Produksi daging ternak nasional sebanyak 1.228.000 ton. Kambing menyumbangkan hasil sekitar 48.000 ton. Sumbangan kambing itu masih kecil jika dibandingkan produksi daging sapi yang mencapai 349.000 ton, ayam buras 294.000 ton, dan ayam broiler sekitar 280.000 ton.

Rendahnya produksi ternak kambing ini karena orientasi pasar kambing masih sangat domestik (lokal daerah setempat) sehingga pertumbuhan populasinya lamban. Namun, bagiamanapun  kondisinya, bisnis kambing tak mengenal krisis. Harga kambing hidup dan daging kambing dari tahun ke tahun terus mengalami kenaikan.

Tahun 1998 harga kambing hidup sekitar Rp 7.500/kg dan harga daging kambing sekitar Rp 17.000/kg. tahun 1999 naik menjadi Rp 10.000/kg untuk kambing hidup dan Rp 20.000/kg untuk daging kambing. Pada tahun 2000 harga kambing hidup sudah mencapai Rp 12.000/kg dan daging kambing juga naik menjadi Rp 24.000/kg.

Sudah saatnya masyarakat mulai melihat kondisi ini sebagai peluang usaha yang bisa ditangkap dan di manfaatkan

Surakarta, 12 Maret 2014

Yuliana

Sumber:

-catatan lapangan yuliana tanggal 7 Maret 2014.

http://cara-berternak-kambing.blogspot.com/2013/02/beternak-kambing.html

digilib.litbang.deptan.go.id/repository/index.php/repository/…/5611

This entry was posted in Catatan Lapangan and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s