Perempuan untuk Perempuan

IMG_6053Melihat sepak terjang perempuan di Kabupaten Gunungkidul dalam berkoperasi ternyata masih rendah. Dimana, dari 278 koperasi yang ada di wilayah Kabupaten Gunungkidul hanya terdapat 11 koperasi perempuan atau hanya 3,95%.

Belum lagi jika dibandingkan dengan jumlah penduduk perempuan dan jumlah perempuan yang bergabung dalam koperasi perempuan. Dimana dari 257.576 jumlah penduduk perempuan usia produktif, hanya 596 perempuan yang bergabung dalam koperasi atau baru 0,23%.

Kondisi diatas, memperlihatkan bahwa perempuan belum banyak bergabung menjadi anggota koperasi perempuan. Sehingga pantas bila perempuan jauh tertinggal dibanding dengan kaum laki-laki.

Perempuan untuk perempuan

Perlu penyadaran bagi perempuan untuk bisa bersama-sama dan saling tolong-menolong, kerjsama dalam semua bidang.Sehingga dengan tolong menolong dan kerjasama, perempuan bisa mandiri dan mampu mengaktualisasikan dirinya baik di kehidupan keluarga, lingkungan kerja, sosial, ekonomi, politik dan budaya.

Salah satu wadah yang sesuai adalah koperasi. Dengan koperasi perempuan bisa mendapatkan pendidikan, pelatihan, melakukan konsultasi usaha, akses ke sumber produktif, dam yang lebih penting perempuan akan meningkat kesadarannya atas hak-hak dasarnya.

Kamis, 3 April 2014, tiga Koperasi Perempuan (Sekar Arum, Karya Perempuan Mandiri, Mitra Usaha Perempuan) bergabung dan melakukan kegiatan pembekalan pengurus. Kegiatan tersebut dilakukan guna persiapan sosialisasi, untuk kemudian mengajak perempuan-perempuan yang belum bergabung dalam koperasi ikut bergabung menjadi anggota koperasi.

Inisiasi tersebut murni muncul dari para pengurus di tiga koperasi tersebut. Guna memperlancar dan menyalurkan ide tersebut 3 koperasi menggandeng salah satu Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yaitu Yayasan Satu Karsa karya (YSKK) untuk memfasilitasi.

“Memang tidak mudah dalam fasilitasi”…itu salah satu pendapat yang dikemukakan oleh beberapa peserta yang hadir. Kondisi tersebut dikarenakan keterbatasan Alat Bantu Belajar (ABB) dalam fasilitasi dan peserta yang akan menjadi sasaran sosialisasi.

Melihat kondisi perempuan yang pendidikannya masih rendah, kemudian budaya patriarkhi yang masih kental, berdampak pada sulitnya menyadarkan perempuan untuk bergabung ke koperasi. Apalagi ditambah dengan trauma masa lalu, dimana banyak koperasi yang tinggal gedungnya tetapi tidak ada kegiatan apapun dalam kesehari-harianya.

Meskipun demikian, dari 20  (90,90%) yang hadir merasa sangat optimis. Mereka optimis setelah dilakukan sosialisasi, akan banyak perempuan yang tertarik dan bergabung menjadi anggota koperasi. Sikap optimis muncul karena 3 koperasi (Sekar Arum, Mitra Usaha Perempuan, Karya Perempuan Mandiri) telah mampu membuktikan manfaat koperasi ke anggotanya.

Sebagai tindak lanjut, dalam waktu dekat  mereka yaitu minggu ke-2 dibulan April 2014 ini akan menjalin komunikasi dan kerjasama dengan PKK dusun untuk menyusun jadwal sosialisasi.

Sudah saatnya

Memang sudah saatnya sesama perempuan harus saling bekerjasama,  tolong-menolong, dan tidak bekerja sendiri-sendiri. Sehingga perempuan mempunyai nilai tawar yang sama dengan laki-laki.

Mungkin sudah banyak kita melihat perempuan yang mandiri, berperan diranah publik strategis. Tapi tidak sedikit perempuan yang masih terbelakang dan tidak tahu apa-apa. Selain itu beberapa perempuan sukses belum mampu mengangkat sesama kaumnya untuk bangkit, maju dan mandiri

Kalau tidak sekarang kapan lagi?

 

Surakarta, 4 April 2014

Yuliana Paramayan

This entry was posted in Catatan Lapangan and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s