Susah Senangnya Jadi Tukang Pos

Pagi itu (10/04/2014), sejenak pandangan saya teralih. Seringnya saya bertugas di wilayah Kabupaten Gunungkidul, tapi kali ini saya harus menjadi “Tukang Pos” di wilayah Kabupaten Boyolali dan kota Surakarta.

Saya harus mengantar surat ke beberapa tempat terkait dengan seminar yang bertema “Sinergi Membangun PAUD Berbasis Masyarakat” yang akan dilaksanakn pada hari Selasa, 15 April 2014 di Hotel Dana Surakarta. Adapun surat yang harus saya antar  diantaranya ke:

  • TP.PKK Kabupaten Boyolali
  • Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Boyolali
  • Dinas Pemberdayaan Perempuan Kabupaten Boyolali
  • PG.PAUD UMS
  • Radio Mentari FM
  • Jejer Wadon

Wilayah Boyolali

Tidak mudah menjadi tukang pos di wilayah yang tidak kita tahu, apalagi kita belum pernah menjamahnya, khususnya di wilayah Kabupaten Boyolali.

Pikiran awal saya, ketika saya harus mengantar surat di beberapa Satuan Kerja Khusus Daerah (SKPD) Kabupaten Boyolali, saya harus berfikir dimana letak kantor pemerintah daerah. Sempat lewat, tapi belum pernah masuk, tapi paling tidak saya sedikit punya gambaran bahwa pertama-tama saya harus saya tuju adalah kantor pemerintah daerah tersebut.

Rencana yang ada dalam pikirkan langsung saya jalankan, dimana diawal saya langsung menuju kantor pemerintah daerah Kabupaten Boyolali. Sesampainya disana, saya dikejutkan dengan kondisi kantor belum banyak orang atau masih sepi (10.00 WIB), dengan asumsi belum hadirnya mereka karena baru melakukan pemilihan legeslatif

Sempat mengalami kebingungan, dalam pikirku bertanya, “Saya masuk ke dalam atau tidak, jangan -jangan saya salah masuk…,kok kantornya sepi banget..”. kemudian kuputuskan untuk bertanya pada seorang tukang parkir.

Dari tukang parkir saya mendapat petunjuk bahwa memang benar bahwa kantor PKK Kabupaten Boyolali bagian dari beberapa kantor yang ada di kantor Bupati.

Dengan pelan-pelan saya mulai memasuki kantor tersebut. Kondisi masih sepi, saya hanya geleng-geleng kepala dan tidak habis pikir. Kenapa kantor sangat sepi dan mau bertanya kepada siapa? kenapa tidak ada petunjung dimana letak sekretariat PKK Kabupaten atau sekretariat yang lain?

Kurang lebih 5 menit, aku berjalan mencari kantor PKK. Tak lama kemudian saya melihat ada seorang pria yang mengendarai sepeda dan saya bertanya. Dari bertanya, saya mendapat petunjuk dan akhirnya saya bisa menemukan kantor PKK Kabupaten.

Sesampainya di Kantor PKK, hanya kutemui seorang pria yang sedang bersih-bersih. Kondisi kantor juga masih sepi, dimana hanya terdapat seorang pria dan seorang ibu-ibu yang sedang bersih-bersih dibelakang.

Akhirnya surat tersebut diterima oleh salah satu anggota PKK yaitu ibu Yani. Beliu bilang, kalau surat akan disampaikan kepada ibu Ketua Tim Penggerak PKK.

Sebelum meninggalkan kantor PKK, untuk mempermudahkan misi saya selanjutnya, saya bertanya kepada ibu Yani letak kantor Dinas Pendidikan dan Pemberdayaan Perempuan. Ternyata kedua letak kantor tersebut tidak dalam satu lingkup dengan PKK. Dimana letaknya berada di wilayah ring road selatan.

Petunjuk yang saya peroleh dari bu Yani langsung saya jalankan dan saya merasa tidak mengalami kesulitan karena saya sedikit memahami rutenya. Hanya saja, sesampainya dilokasi saya mengalami kebingungan, karena banyak gedung-gedung baru yang terpencar-pencar tidak karuan. Hal tersebut diperburuk peta di lokasi yang tidak jelas.

Kuberanikan diri untuk masuk dan memutari seluruh lokasi tersebut, tapi tak kunjung kutemukan kantor yang akan saya tuju. Kemudian kubertanya lagi kepada seorang pria yang berpas-pasan dijalan. Pria tersebut sangat baik, aku diantar samapi depan kantor Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (DIDIKPORA). Beribu-ribu terimakasih kuucapkan pada pria tersebut.

Sesampainya di ruang tata usaha kantor DISDIKPORA, kudisambut dengan senyum dan keramahan tugasnya. Surat akhirnya diterima dengan baik oleh ibu Febriyanti (petugas TU) dan sudah tercatat dengan baik di buku Agenda dengan No 1217.

Sebelum ke Dinas Pemberdayaan Perempuan , saya bertanya letak kantor Dinas Pemberdayaan perempuan. Ternyata letak kantor tersebut tidak satu komplek dengan kantor Dinas yang lain dan saya harus keluar dari kompleks Pemerintah Daerah Kabupaten Boyolali.

Setelah sampai dilokasi saya belum menemukan kantor Pemberdayaan Perempuan, yang saya lihat dilokasi hanya kantor pertanah, Sekolah Menengah Pertama (SMP), sawah-sawah dan jalanan yang baru diperbaiki. Di lokasi tersebut saya bertanya lagi, dan saya diberi petunjuk bahwa di jalan yang sedang diperbaiki tersebut, terdapat kantor Pemberdayaan Perempuan.

Dengan penuh keraguan saya mencoba memasuki lokasi tersebut. Ternyata benar, dilokasi yang saya masuki terdapat Dinas Pemberdayaan Perempuan. Kondisi sangat memprihatinkan, karena belum tertata dengan baik dan agak kotor.

Akhirnya surat tersebut diterima oleh Bpk. Sarwoto (Staf Dinas Pemberdayaan Perempuan) dengan baik.

Wilayah Surakarta

Tugas belum selesai, dan saya masih harus mengantar surat dibeberapa instansi di wiliayah Surakarta. Tapi tidak menjadi kendala, karena sedikit banya saya sudah mengetahu lokasinya yaitu di UMS Kartasura, Jajar, dan Keprabon.

Justru karena ketemu banyak teman lama, maka mengantar surat tidak hanya sekedar mengantar, tapi saya saling berbagi dan bertukar informasi terkait dengan aktivitas yang sekarang baru dikerjakan

Susah dan Senang

Dari 2 pengalaman tersebut dapat diambil pelajaran bahwa menjadi “Tukang Pos” itu susah-susah gampang (dalam bahasa jawa). Susah jika kita belum mengetahu rute/ lokasi yang akan di tuju, sehingga menuntut kita untuk selalu bertanya dan mencari-cari lokasi tersebut. Mudah jika kita sudah mengetahui lokasinya.

Harapannya bagi Pemerintah Daerah maupun Kota dimanapun, bahwasanya peta lokasi sebuah tempat pelayanan umum sangat dibutuhkan oleh masyrakat, sehingga kedepan setiap wilayah memiliki peta kantor pelayanan umum yang bisa diakses oleh masyarakat.

Terlepas dari semua itu, jika kita melakukan aktivitas dengan senang (tanpa beban) dan dilandasi dengan niatan yang tulus maka semuanya akan berakhir bahagia dan menyenangkan.

 

Surakarta, 14 April 2014

Yuliana Paramayanan

 

 

This entry was posted in Catatan Lapangan and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Susah Senangnya Jadi Tukang Pos

  1. Prabu says:

    Kawan aku saran, untuk judulnya, frase -tukang pos- diberi tanda kutip. thank’s.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s