Ketika Perempuan Sadar dan Bicara

Pertemuan anggota koperasi "Sekar Arum", Semin, Gunungkidul.

Pertemuan anggota koperasi “Sekar Arum”, Semin, Gunungkidul.

Selasa (22/ 04/ 2014)___, Dalam pertemuan anggota koperasi “Sekar Arum” Desa Semin, Kecamatan Semin, Gunungkidul, Yogyakarta terjadi perbincangan yang sangat menarik.

Dalam pertemuan tersebut dihadiri oleh 30 anggota koperasi (75%) dan pendamping koperasi dari Yayasan Satu Karsa Karya (YSKK).

Menarik ketika salah satu anggota koperasi mengawali acara pertemuan dengan bertanya. Dimana ibu Purwanti (30) bertanya,..”Buk bagaimana pendataan anggota yang akan mengikuti pelatihan menjahit dan komputer?”

Hal tersebut jarang ditemukan dalam pertemuan-pertemuan anggota diwaktu sebelumnya. Dari pertanyaan tersebut memunculkan diskusi yang cukup menarik sehingga hampir semua anggota mengemukakan pendapatnya.

Ketua koperasi yang ikut hadir dalam pertemuan yaitu ibu Karyati (35) menjawab pertanyaan ,..”Itu sudah didata dan saya berikan kepada pendamping (Mbak Yuli/27), kemudian untuk lebih lanjutnya nanti akan disampaikan oleh pendamping…”

Tidak lama kemudian ibu Karyarti memberi waktu dan mempersilahkan pendamping untuk memberikan informasi terkait pelatihan tersebut.

Dimana pendamping memberikan informasi bahwa pelatihan menjahit dan komputer akan dilaksanakan pada bulan Juni 2014 di Balai Latihan Kerja, Siraman, Gunungkidul. Dimana peserta akan dites terlebih dahulu dan ketika lolos baru bisa ikut pelatihan.

Sebelum pendamping memberikan informasi yang lain, ditengah-tengah sesi salah satu anggota koperasi Ibu Indri (27) bertanya,…”Mbk kalau pelatihannya diadakan di Desa apa tidak bisa? Jadi BLK yang kesini….”

Pertanyaan tersebut dijawab pendamping, “Bisa, tapi pelatihan tersbut harusnya sudah masuk dalam program BLK ditahun sebelumnya melalui usulan saat musrenbang atau pengajuan proposal ditahun 2013.”

Kemudian pendamping bertanya kembali kepada seluruh anggota,”Gimana usulan perempuan dalam musrenbang ibuk-ibuk?”

Beberapa anggota koperasi menaggapi cukup beragam, mulai dari masalah kualitas usulan sampai pada keterlibatan perempuan dalam musrenbang. Hal tersebut seperti yang diungkapkan oleh beberapa anggota kopersi berikut ini;

“….Biasanya itu yang diajukan itu hanya masalah honor para pendidik PAUD mbk…” (Panti/ 29)

“….kita aja tidak pernah dilibatkan mbk dalam membuat usulan…” (Purwasih/ 35)

“…Perempuan yang diundang dalam musrenbangdes itu jarang yang datang yang datang hanya kader-kader yang tidak tahu apa-apa…” (Warni/ 40)

“…Usulan kita biasanya kalah dengan usulan bapak-bapak..” (Saptini/ 26)

“..perempuan yang tidak datang pada musrenbang itu kebetulan ada acara yang sama pentingnya ditempat lain mbk..”(Erna/ 35)

Melihat beberapa tanggapan dari para anggota koperasi, ternyata banyak permasalahan yang dihadapi oleh perempuan di desa, diantaranya adalah masalah kualitas usulan, kesibukan perempuan, mental perempuan yang masih lemah ketika berhadapan dengan kaum laki-laki, ketidak tahuan/ kurangnya akses dan lain sebagainya.

Dari beberapa kesulitan yang dihadapi oleh para perempuan khususnya anggota koperasi “Sekar Arum” di Desa Semin, mereka berkomitmen untuk mengevaluasi setiap usulan yang akan dibawa dalam musrenbang. Kemudian mereka akan mengawalnya mulai dari musyawarah dusun, desa, kecamatan, sampai kabupaten.

Selain itu, Dalam rangka meningkatkan kapasitas, mereka akan membangun jejering dengan pihak lain seperti Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), PMPN, Satuan Kerja Pemerintah Daerah (SKPD), Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), dan instansi lainnya.

Diskusi tersebut memang sangat menarik untuk ditindaklanjuti dilain waktu. Karena masih ada beberapa informsi yang terpotong, pendamping melanjutkan informasi yang akan disampaikan selanjutnya. Dimana terkait dengan perijinan No.P-IRT (Produk-Industri Rumah Tangga) untuk produk hasil olah pertanian, pemproduk harus melalui beberapa tahapan.

Tahap pertama , pemproduk harus mendaftarkan diri ke Dinas Kesehatan. Tahap kedua, pemproduk harus mengikuti penyuluhan dari Dinas Kesehatan kurang lebih selama 3 hari. Tahap ketiga, Dinas Kesehatan akan melakukan kunjungan lapangan untuk melihat kondisi tempat produksi. Tahap terakhir, jika hasil survai menunjukan baik dan layak maka pemproduk akan memperoleh nomer ijin P-IRT.

Dari informasi tersebut muncul pertanyaan dari anggota Kasiyem (50),..”Berapa jumlah anggota yang sudah didaftarkan mbk?”

Pendamping menginformasikan bahwa semua produk telah didaftarkan dan terkait yang akan mengikuti penyuluhan hanya diminta perwakilan dari pengurus koperasi.

Dari bincang-bincang diatas, memang peran pendamping untuk mendorong kemandirian perempuan dalam semua lini sangat dibutuhkan.

 

Surakarta, 25 April 2014

Yuliana Pramayana

This entry was posted in Catatan Lapangan, Pra Koperasi Sekar Arum and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s