Menunggu:Akibat Dari Ketidakdisiplinan

Menunggu adalah kegiatan yang paling menjenuhkan dan menyebalkan. Hal tersebut saya alami ketika saya melakukan pendampingan rapat pengurus di koperasi wanita Mitra Usaha Perempuan (Kopwan_MUP) Desa Kampung, Ngawen Gunungkidul pada hari Jum’at, 9 Mei 2014.

Dalam undangan rapat tertera bahwa rapat pengurus akan dimulai pada pukul 09.30 WIB. Pada waktu itu, saya datang tepat waktu sesuai dengan yang ada diundangan. Hanya saja setelah lama menunggu kurang lebih 30 menit para pengurus juga tak kunjung datang.

Mencoba bertanya kepada pengawas koperasi (Darmi/45) dan beliu menginformasikan bahwa beliu juga tidak tahu kok sampai molor, padahal undangan pukul 09.30 WIB. Komunikasikan lewat handphone kepada pengurus lain sudah dilakukan tapi juga tidak ada jawaban.

Sampai terlambat 1 jam, acara juga belum dimulai. Dalam hatiku bertanya, “ini sebenernya jadi rapat apa nggak ya…kok belum datang-datang?”.

Sesaat kemudian,terdengar suara kendaraan yang berhenti di depan kantor koperasi, dalam pikirku,”Nah itu dia..”. Setelah mengucapkan salam, ternyata benar dia adalah ketua koperasi (Retno/ 30).

Kedatangan ketua koperasi disambut dengan pertanyaan dari pengawas koperasi, pengawas bertanya, “Pada kemana ini para pengurus?undangan jam 09.30 WIB, kok sampai jam segini (10.30WIB) juga belum pada datang.”

Ketua koperasi menjawab dan beliu berkata, “Iya..kok jam segini belum pada datang ya…?orang undangan juga sudah saya sampaikan dan sudah diterima dengan baik, mereka bisa datang,…. mungkin mereka dalam perjalanan,… ya coba tak sms-nya.”

Setelah disms beberapa menit, sekretaris dan bendahara koperasi datang. Mereka berdua menyampaikan alasan mereka terlambat, dimana di dusunnya baru terdapat kerja bakti dan kegiatan kerja bakti dihadiri oleh kepala desa. Sehingga mereka jika ingin meninggalkan dusun merasa tidak enak karena bendahara koperasi (Harmi/29) juga menjabat sebagai kepala dusun di wilayahnya.

Masih belum lengkap, dimana masih terdapat 2 pengurus koperasi yang belum datang. Tepat pukul 11.00 WIB, pengurus koperasi satunya datang dan yang satunya ijin tidak bisa hadir karena ada pekerjaan yang tidak dapat ditinggalkan. Langsung pada waktu itu pula acara rapat pengurus dimulai.

Pesan

Lengkap 1,5 jam saya menunggu di kantor koperasi. Sebal, jenuh, dan hawanya hanya emosi itu benar adanya. Karena waktu sebanyak itu terbuang sia-sia hanya untuk menunggu.

Kejadian tersebut terdapat pesan tersirat, dimana menunggu tidak selamanya buruk dan sia-sia, yang mana hal tersebut dapat kita gunakan untuk melatih dan mengukur sejauhmana kesebaran kita. Selain itu, kita bisa memanfaatkan waktu tersebut untuk aktivitas yang lain seperti, menulis, ngobrol dengan para tetangga, melihat lingkungan sekitar dll.

Melihat secara umum, mulai dari masyarakat dilapisan bawah sampai pada aparatur penyelenggara pemerintahan, budaya disiplin rasa-rasanya sudah mulai luntur.

Sudah seharusnya budaya disiplin untuk digalakan kembali.Hal tersebut penting karena sebagai awal untuk melangkah menuju perbaikan.

Apabila budaya disiplin sudah tidak di diperhatikan, bukan tidak mungkin kita sebagai pribadi yang aktif di berbagai lini kehidupan akan ditinggalkan oleh teman-teman lain yang disiplin.

Menumbuhkan budaya disiplin tidak perlu menunjuk orang lain, melainkan dimulai dari diri sendiri. Dimana ketika kita disiplin secara terus menerus dan konsisten maka seseorang yang tidak disiplin akan malu dan secara tidak langsung berdapak pada perubahan tingkah laku dan pola pikir pada seseorang tersebut.

Hasil Rapat

Dengan banyaknya waktu yang terbuang sia-sia untuk menunggu para pengurus lengkap dan memenuhi jumlah quorum rapat pengurus, maka rapat pengurus langsung membahas hal-hal yang sesuai dengan substansi, lugas, cepat dan tepat.

Hal-hal yang menjadi bahan diskusi diantaranya adalah; perkembangan jumlah anggota, laporan keuangan, kredit macet, perekembangan usaha (simpan-pinjam dan usaha gaduhan kambing)

Adapun hasil rapat adalah sebagai berikut:

1. Jumlah anggota koperasi dari 67 anggota sekarang meningkat menjadi 71 orang atau meningkat (5,97%).

2. Jumlah kredit macet menurun dari Rp.1.080.000,- menjadi Rp.400.000,- atau turun sebesar 62, 96%.

3. Jumlah anak kambing sebanyak 6 kambing (4 pejantan dan 2 betina) dan kambing yang bunting dan belum beranak sejumlah 5 kambing.

4.Jumlah ajuan kredit senilai Rp.9.000.000 tapi jumlah ketersediaan uang setiap bulannya hanya sekitar Rp.5.000.000,- dan belum lagi ditambah jika terdapat anggota yang mengambil pinjaman serta memenuhi kewajiban kepihak ke-3.  Sehingga pengurus mencoba membangun komunikasi dengan dinas koperasi pada hari Rabu, 14 Mei 2014.

5. Hasil evaluasi ke dusun-dusun pengurus akan kembali mendatangangi dusun yang telah dilakukan sosialisasi untuk mengambil formulir anggota koperasi.

6. Agar lebih tersistematis dalam penyampaian materi, terdapat pembagian tugas dalam penyampaian materi. Dimana untuk pengantar masalah perkoperasian adalah ketua koperasi, keanggotaan dalah sekretaris dan usaha adalah bendahara dan sie usaha koperasi.

7. Sosialisasi dibulan Mei ini adalah di Dusun Kampung Wetan.

Kemudian diakhir rapat dibahas terkait komitmen untuk kedepan pengurus koperasi lebih disiplin.

 

Surakarta, 13 Mei 2014

Yuliana Paramayana

This entry was posted in Catatan Lapangan and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s