Bosen dengan wajah birokrasi

Ada kesamaan yang saya temui ketika berhadapan dengan para birokrat (Pegawai Negeri Sipil) di beberapa wilayah. Baru masalah sepele atau sederhana yaitu masalah pemberian “stempel” pada lembar konfirmasi penerimaan surat yang saya minta.Dimana beberapa kali bahkan sering kalau saya mengantar surat undangan di beberapa SKPD saya selalu menerima tanggapan yang sangat reaktif.

Banyak pertanyaan atau pernyataan yang muncul mulai dari, “surat kayak gini aja kok pakai lembar konfirmasi”, kemudian ketika saya minta “ibu mohon di beri stampel?”, rata-rata SKPD menjawab,”wah mbk ini tidak bisa pakai stampel, stempel hanya di digunakan untuk pejabat.”

Kondisi tersebut di perparah dengan bualan-bualan mereka ketika mereka menolak memberi stempel pada lembar konfirmasi, yang mana seharusnya bualan-bualan tersebut seharusnya tidak layak untuk mereka keluarkan seperti,”brangkat juga belum tentu”, kemudian ,”riwil banget perasaan”, dan lainnya

Kondisi tersebut membuat saya ambil sikap diam, tenang tapi tetap kritis, dimana saya mulai menanyakan ,”apakah ada aturannya ibu, terkait hal tersebut?”, kemudian pertanyaan saya tersebut mereka jawab, “ada mbk , tapi saya lupa, yang jelas ada”, ketika saya minta ditunjukan, tidak ada satupun pejabat diinstansi tersebut ingat. Akhirnya sebelum saya pamitan saya memberi pernyataan, “kalau tidak di kasih tidak apa-apa kok buk.”

Melihat saya adalah salah seorang aktivis LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat), ada kemungkinan mereka mengalami ketakutan. Sehingga lembar konfirmasi diminta kembali dan mereka (SKPD) memberikan cap stempel pada lembar tersebut. Dengan wajah masam ibu yang memberi stampel tersebut mengiringi langkahku keluar dari ruangan tersebut.

Ada perbedaan dari salah satu SKPD yang saya temui, dimana saya baru menginjakan kaki dan masuk pada salah satu ruangan yang saya tuju, mereka sudah menyambutku dengan tatapan sinis. Tatapan sinis itu terlihat ketika seorang yang menjabat sebagai ketua di salah satu lembaga, dimana wajah serius, pandangan tajam, mulut terbungkam dan mata agak melotot.

Kondisi tersebut terlihat dari awal sampai akhir saat saya memberi surat. Kondisi tersebut diperparah dengan tak satu patah katapun keluar dari mulut dia , dalam batinku berkata, “ini manusia apa bukan ya, kayak orang paling penting aja”.

Ditengah orang yang sinis masih terdapat salah satu ibu yang masih bersikap ramah, selain dia mau menerima surat dan beliu juga memberi contact person orang yang saya butuhkan, dia juga mau mengisi lembar konfirmasi, hanya saja beliu tidak berani memberi stampel dengan alasan yang tidak jauh berbeda dengan SKP yang sebelumnya saya temui.

Dari beberapa pengalaman tersebut, saya mulai sedikit demi sedikit mengamati. Paling tidak terdapat beberapa aspek yang perlu diperhatikan, diantaranya adalah:

 

Pandangan birokrasi terhadap LSM

LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) adalah salah satu lembaga yang di luar pemerintahan. LSM biasa di kenal masyarakat atau instansi pemerintah adalah sebagai salah satu lembaga yang selalu mengkritisi kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh pemerintah.

Dalam hal mengkritisi sering kali beberapa pihak kurang open (terbuka) terhadap LSM. Kondisi tersebut seperti kejadian diatas, dimana hanya gara-gara stampel yang hanya sebagai tanda bukti, tanggapan para pelayan publik serasa ditodong dan takut jika disalah gunakan.

Memang harus selektif dalam penggunaan stampel, tapi harus dilihat penggunaannya. Apakah penggunaannya untuk kepentingan KKN(Korupsi Kolusi Nepotisme) atau untuk hal-hal yang bersifat merugikan. Dalam kondisi ini jelas bahwa apa yang saya minta bukan hal yang merugikan, justru itu bukti bahwa instansi telah menerima surat tersebut.

Saya kira ketakutan tersebut berlebihan, karena memang saya belum memperoleh penjelasan terkait dengan penggunaan stampel. Dimana jika seseorang diberi penjelasan mengenai dasar hukum atau aturannya, saya kira seseorang yang meminta akan memahami hal tersebut.

Bukan malah bualan-bualan yang tidak pantas itu muncul, sehingga hal tersebut semakin memperburuk institusi tersebut.

Kualitas Pelayanan

Ketidak ramahan pelayan publik adalah salah satu faktor yang mempengaruhi citra buruk pelayanan publik di negeri ini. Dimana para pengguna pelayanan public (masyarakat atau lembaga lainnya) merasa kurang dimanusiakan dan cenderung diabaikan. Sehingga berakibat pada sebuah keengganan bahkan ketakutan.

Ketidakramahan tersebut nampak jelas pada kasus atau kejadian diatas. Dimana ketika saya menyapa, bertanya, dan meminta, tak satu patah atau dua patah katapun muncul dari mulut seorang pemangku kebijakan.

Senyum dan sapa seharusnya menjadi budaya yang harus diterapkan oleh semua pelayan publik. Paling tidak ketika ramah, sopan dan menanggapi apa yang menjadi kebutuhan masyarakat itu sudah merespon dan menghargai siapa yang menanyakan, bukan sebaliknya.

Menghindari wajah yang masam, mata melotot, diam itu seharusnya menjadi sebuah keharusan. Tapi kondisi tersebut, rasa-rasanya belum menjadi sebuah budaya atau sebuah kebiasaan. Sehingga kondisi-kondisi tersebut sering kali menjadikan seseorang pobia dan jika tidak penting banget maka seseorang tidak mungkin datang ke institusi tersebut.

 

 

Ada sesuatu

Sikap yang kurang ramah dan cenderung reaktif sering kali membuat seseorang termasuk saya curiga akan sebuah kondisi, termasuk kejadian diatas. Banyak pertanyaan yang muncul, mulai dari “Ada apa kok mereka bersikap seperti itu?”, kemudian, “jangan-jangan mereka melakukan sebuah kesalahan”, lalu,”jangan-jangan ada yang ditutup-tutupi.”

Hal tersebut hanya masalah lembar konfirmasi dan stempel, belum yang lainnya seperti ketika masyarakat meminta sebuah penjelasan terkait masalah akuntabilitas, transparansi maupun yang lainnya. Bisa dipastikan ketika kita ingin meminta data untuk tujuan tersebut, kita harus melalui berbagai macam prosedur. Sehingga pada akhirnya menjadikan seseorang putus asa atau bahkan semain curiga lalu muncul statement, “Pasti ada sesuatu dibalik semua itu dan jika tidak ada sesuatu kenapa kita dipersulit”.

Memang sudah banyak slogan,”Kami tidak menerima apapun”,”Jika ada pungutan, lapokan”, tapi itu hanya sekedar slogan. Dalam prakteknya masih banyak pungutan-pungutan yang dilakukan oleh oknum dengan berbagi modus kepada pengguna pelayan publik.

Jika tidak ada sesuatu, seharusnya segala sesuatunya bisa dibuat lebih sederhana dan mudah. Itulah wajah birokrasi yang diharapkan oleh masyarakat, sehingga kecurigaan masyarakat atau lembaga non pemerintah bisa terbantahkan. Masyarakat sekarang tidak butuh wacana saja, tapi bukti riil.

Momentum Pilpres

Pada tanggal 9 Juli 2014 adalah ajang demokrasi untuk memilih presiden dinegara ini yaitu Indonesia. Sebelum memilih, masing-masing calon presiden dan wakil presiden diberi kesempatan untuk memaparkan visi dan misi melalu debat kandidat yang diselanggarakan oleh KPU (Komisi Pemilihan Umum) maupun kampanye yang dilakukan oleh masing-masing kandidat.

Sudah sepatutnya kondisi birokrasi seperti diatas harus dirombak secara menyeluruh mulai dari personal yang duduk di birokrasi maupun system yang akan dibangun. Tidak ada yang jelek visi-misi dari masing-masing kandidat, yang penting adalah implementasinya.

Dalam konteks ini, siapapun calon presidennya, ketika mereka bisa menjelaskan secara gambling dan mudah diterima oleh masyarakat umum dari kalangan bawah sampai atas maka calon presiden tersebut akan dipilih oleh masyarakat. Kecuali jika memang banyak pihak yang tidak menginginkan birokrasi yang baik, bersih dan melayani dengan ramah, tapi saya yakin itu tidak ada dan ketika adapun paling hanya beberapa persen.

Sikap optimis dalam pemilihan presdiden harus ada, paling tidak ketika kita bisa belajar dan mempelajari tentang situasi nasional maupun lokal kita bisa mengawal apa yang telah diucapkan oleh capres dan cawapres yang kelak kita tagih ketika mereka terpilih.

This entry was posted in article, Catatan Lapangan and tagged , , . Bookmark the permalink.

One Response to Bosen dengan wajah birokrasi

  1. womenwindow says:

    It’s interesting note …. Dikemas lebih cantik lagi maka bisa menjadi tulisan yg great….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s