Kenapa bukan karena aku (perempuan)?

Karyawan Koperasi Perempuan "MAWAR", Kepek. Wonosari, Gunungkidul.

Karyawan Koperasi Perempuan “MAWAR”, Kepek. Wonosari, Gunungkidul.

Masih dalam lanjutan penelitian  tentang “Peluang dan Tantangan Pengembangan Koperasi di Kabupaten Gunungkidul”. Dimana dalam penelitian ditemukan beberapa hal yang sama antara koperasi satu dengan koperasi yang lain, sehingga menjadi perhatian tersendiri untuk didiskusikan.

Dimana, terdapat beberapa koperasi perempuan yang maju dan berkembang seperti koperasi “SRIKANDI” dan “MAWAR”  yang terletak di Kecamatan Wonosari dan Palyen, ternyata  perkembangan dan kemajuan koperasi tersebut karena pengaruh dominan para suami-suami mereka.

Kenapa suami bisa memberikan pengaruh yang begitu dominan terhadap perkembangan koperasi?

Ternyata setelah ditelusuri dari satu persatu sumber informan berkata lain dimana ada kesamaan dan perbedaan. Ketika diawal wawancara dengan ketua koperasi “MAWAR” (Suci Rahmani/ 55), beliu tidak memberikan informasi apapun terkait dengan peran suami dalam perkembangan koperasi dan cenderung menutup-nutupi.

Akan tetapi setelah dikonfirmasi dan ditelusur lebih jauh dengan narasumber yang berbeda (sekretaris & bendahara), ternyata diketahu bahwa keberhasilan koperasi tak lepas dari peran suami-suami para pengurus koperasi.

Misalnya di koperasi perempuan “MAWAR”, setelah di telusur ternyata yang mencetuskan ide bahwa ibu-ibu perlu membentu kelompok kemudian menjadi koperasi adalah Bapak Suyanto (suami ketua koperasi).

Dimana bapak Suyanto waktu menginisiasi terbentuknya koperasi “MAWAR” dia masih menjabat sebagai kepala bidang koperasi di Dinas PERINDAGKOP & ESDM di Kabupaten Gunungkidul.

Sekarang, meskipun telah pensiun beliu masih diberi posisi, dimana  posisi beliu sekarang adalah menjadi penasehat koperasi.

Beberapa koperasi yang lain tidaklah berbeda dalam hal ini koperasi “SRIKANDI”, hanya saja yang menjadi pembeda suami-suami para pengurus koperasi bukanlah menjabat sebagai salah satu birokrasi di bagian koperasi, tapi mempunyai kedekatan dengan para pejabat di Dinas PERINDAGKOP & ESDM khususnya bagian koperasi.

Karena memang rata-rata suami-suami pengurus koperasi di koperasi “SRIKANDI” adalah seorang PNS (Pegawai Negeri Sipil). Jadi wajar jika mereka punya kedekatan dan sangat tahu mengenai akses permodalan yang ada di pemerintah. Sehingga koperasi tersebut bisa maju dan berkembang.

Tidak salah dengan dia (Laki-laki)

Dalam beberapa kasus ini tidak ada yang salah dengan laki-laki. Karena justru mereka mempunyai jasa yang besar terhadap kemandirian dan kesejahteraan mereka.

Dimana seperti yang diuangkap oleh bendahara koperasi “MAWAR” (Suhartini/ 62),”kami sangat berterimaksih mbk dengan pak Yanto, tanpa dia koperasi kita tidak bisa berkembang seperti itu.”

Dari pernyataan tersebut, jelas bahwa Pak Yanto mempunyai andil besar dalam tumbuh kembang koperasi tersebut (Koperasi “MAWAR).

Peran pak Yanto tidak hanya sebagai pendiri, tapi juga masuk dalam penasehat yang salah satu fungsinya adalah ikut mengevaluasi dan mengarahkan koperasi kedepan akan di bawa kemana.

Hal tersebut seperti diuangkap oleh bendahara (Suhartini/62), “Sampai sekarang, beliuanya masih aktif mbk dan sering hadir dalam rapat, kemudian mengevaluasi dan memberi arahan ke koperasi.”

Kenapa bukan perempuan?

Kondisi diatas memperlihatkan bahwa sebenarnya perempuan masih tertinggal dengan kaum laki-laki. Hal tersebut seperti di uangkap oleh sekretaris koperasi “MAWAR” (Sujaryati/ 48), “wah mbk kalau tidak ada pak Yanto, kita nggak tahu mbk koperasi itu seperti apa dan gimana.”

Hal tersebut terlihat jelas ketika awal pendirian koperasi mereka tidak bisa mengerjakan sendiri perangkat administrasinya. Dimana semua difasilitasi oleh beliu (Pak Yanto/ 56). Tidak hanya masalah administrasi, tapi juga modal, dimana beliu meminjamkan uang 15 jt guna pengurusan badan hukum.

Pernyataan diatas menegaskan bahwa sebenarnya perempuan butuh dorongan dan motivasi serta pendidikan untuk lebih mengenal hal-hal yang bisa mengangkat harkat dan martabatnya. Dalam kata lain tidak hanya dapur, sumur, dan kasur.

Sebenarnya, jika keberhasilan sebuah koperasi perempuan itu karena peran para perempuannya maka koperasi bisa menjadi model yang sangat baik, bagi koperasi lain.

Koperasi lain bisa  melihat dan mencontoh dari semangatnya, kegigihannya dan keuletan pengurusnya. Selain itu koperasi lain bisa belajar dengan baik bagaimana mengelola koperasi yang profesional dan mempunyai tujuan untuk kesejahteraan anggotanya.

Dalam konteks ini yaitu koperasi perempuan “MAWAR” yang terletak di Desa Kepek, Wonosari, Gunungkidul dengan anggota yang sudah 247 dan nilai asset sejumlah 250jt yang dinilai perkembangannya sangat pesat dan bagus, ternyata belum mandiri para pengurusnya.

Kemudian PR selanjutnya bagi koperasi-koperasi yang masih tergantung pada tokoh tertentu dalam hal ini adalah suami (laki-laki) maka mereka perlu melakukan evaluasi dan menyusun strategi untuk lepas dan mandiri dari sebuah ketergantungan.

Menuju Kemandirian

Guna melepaskan ketergantungan pada seseorang tidaklah mudah. Iya, kalau seseorang yang mempunyai peran tersebut selalu bisa mendampingi, jika tidak maka bukan tidak mungkin sebaliknya (koperasi akan hancur).

Perempuan harus bangkit dan sedikit demi sedikit melepaskan ketergantungan dari seseorang yang telah membuat perempuan bangga. Banyak cara yang bisa dilakukan, diantaranya adalah:

1. Membuat laporan mulai dikerjakan sendiri tanpa bantuan pihak manapun.

2. Membangun jaringan secara sendiri tanpa minta bantuan suami.

3. Menginisiasi pelatihan untuk anggotanya secara mandiri.

4. Memahamkan kepada anggota pentingnya berkoperasi. dll

Itu bagian contoh kecil yang bisa dilakukan. Karena memang kemandirian itu tidak mudah untuk dicapai, tapi jika perempuan mempunyai kemauan, perempuan akan leluasa dan bebas mengontrol dirinya sendiri.

Pilhannya “Mau atau Tidak”

Mungkin di koperasi lain ada yang berbeda…

Tunggu tulisan saya selanjutnya…

 

Surakarta, 12 Juni 2014

Yuliana Paramayana

 

This entry was posted in Catatan Lapangan and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s