Aku (Perempuan), Sekarang Berani Bicara di Depan

Memberikan pemahaman mengenai penting berkoperasi di dusun-dusun memberikan pelajaran yang berarti bagi para pengurus koperasi “Sekar Arum” Desa Semin, Kecamatan Semin, Gunungkidul Yogyakarta.

2 Dusun dari 19 Dusun yang dijadikan tempat sosialisasi telah mampu membawa perubahan kepada beberapa pengurus koperasi.

Perubahan itu nampak dan menjadi berarti ketika dalam rapat pengurus__(18/062014) di rumah ketua koperasi beberapa pengurus mencereitakan pengalamannya.

Rapat yang dihadiri 6 orang (90%) dari 7 jumlah pengurus tersebut cukup berjalan sangat ramai dan terfokus pada evaluasi hasil sosialisasi.

Dimana dalam evaluasi kegiatan sosialisasi terdapat beberapa hal yang menarik, yang memaksa mereka untuk belajar.

Ketika Gilirannya

Sebelum sosialisasi telah disepakati bahwa semua pengurus diwajibkan mengikuti sosialisasi, kecuali jika benar-benar berhalangan karena sesuatu hal.

Selain itu, dalam sosialisasi telah disepakati “siapa, bicara apa”, sehingga tidak ada pengurus yang diam (semua bicara).

Memang dari 7 pengurus, yang dianggap fasih berbicara didepan umum ada 2 orang (Ketua dan Sekretaris) dan diantara keduanya yang paling fasih adalah Sekretaris koperasi (Bu Erna/34)

Pada kali pertama sosialisasi di dusun Jirak, semua pengurus hadir. Pembukaan dilakukan oleh sekretaris koperasi, kemudian selanjutnya mengalir sesuai dengan tugas yang telah disepakati.

Hanya saja ketika giliran pengurus yang belum fasih bicara (pengawas, pengelola, bendahara), mereka kebingungan karena lupa tidan membawa buku catatan dan poin-poin yang akan disampaikan habir lupa semuanya.

Meskipun tidak lengakap, akhirnya semua pengurus bicara di depan para ibu-ibu PKK Dusun. Kemudian pada akhirnya satu sama lain saling melengkapi.

Sosialisasi kedua di Dusun Tukluk, bener-benar memaksa para pengurus untuk menguasai materi dan menyiapkan mental. Hal tersebut dikarenakan sekretaris yang menjadi tumpuan dalam pemaparan materi sosialisasi tidak bisa ikut bergabung sosialiasi karena saudaranya meninggal dunia.

Berbekal dari pengalaman sosialisasi di dusun sebelumnya, pengurus koperasi mulai menata dan menyiapkan beberapa hal terkait dengan materi yang akan disampaikan.

Hingga pada akhirnya, mereka bisa melakukan sosialisasi denga lancar. Meskipun kurang mantap karena sekretaris koperasi tidak ikut hadir dalam sosialiasi.

Hasil Evaluasi

Kurang lebih 1 jam, pengurus bercerita tentang pengalamannya masing-masing ketika berbicara di depan umum. Misalnya pengelola koperasi (Saptini/27), beliu berkata,”awalnya itu kita takut, karena kita lupa tidak bawa buku dan catatan, tapi setelah kedua kalinya kita sudah lancar meskipun agak kurang mantap.”

Kemudian pengelola satunya (Siti/30) bilang,”jujur mbk saya awalnya bingung apa yang akan diomongkan, tapi yang kedua lumayan lancar, semua akhirnya ngomong.”

Kemudian evaluasi dibawa sampai wilayah ketika perempuan bicara di depan masyarakat umum, yang pesertanya ada laki-laki dan perempuan.

Dimana pengalaman sekretaris koperasi (Erna/34), awalnya juga seperti pengurus-pengurus yang lain. Karena keberanian dan seringnya beliu berbicara di depan umum maka beliu sering dimintai tolong untuk berbocara didepan umum.

Dalam kesempatan tertentu, yaitu ketika Bu Erna secara mendadak diminta mengisi mengenai penanganan kasus KDRT dan kesehatan reproduksi di depan bapak-bapak.

Pada waktu itu beliu kaget dan terkejut, tapi karena sudah ditunjuk tanpa persiapanpun, akhirnya beliu memberanikan diri untuk mengambil peeran tersebut

Respon dari para peserta sangat postif dan akhirnya berdampak pada bu Erna, yang beliu selelu dimintai tolong ketika kegiatan-kegiatan tertentu.

Kemudian ketika ditarik dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan Desa, pengurus koperasi menyampaikan bahwa pada kepemimpinan kepala desa periode sebelumnya suara perempuan cenderung diremehkan dan tidak dianggap.

Dimana ketika perempuan mengajukan usulan lewat MKP (Musyawarah Khusus Perempuan) yang di bawa ke musrenbangdes, usulan perempuan memang ditampung, tapi setelah dilakukan pengawalan dan pengecekan, ternyata usulan tersebut tidak dibawa sampai tingkat kecamatan.

Tapi sekarang mereka menyadari bahwa mereka harus berani menyuarakan apa yang menjadi haknya untuk disuarakan. Karena kemandirian itu dimulai dari keberanian kita untuk berbicara didepan umum.

 

Surakarta, 19 Juni 2014

Yuliana Paramayan

This entry was posted in Catatan Lapangan and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s