Kenapa kaum tua tidak tergantikan?

Masih lanjutan dalam penelitian tentang “Peluang dan Tantangan Pengembangan Koperasi Perempuan di Kabupaten Gunungkidul”_(16/06/2014)

Kali ini saya bersama dengan teman-teman berkunjung di koperasi “Anggana Ati Satya” Kompleks Gedung Sewokoprojo, Wonosari, Gunungkidul, Yogyakarta.

Koperasi “Anggana Ati Satya” adalah koperasi yang dimiliki oleh TP.PKK Kabupaten yang anggotanya terdiri dari istri-istri perangkat dan camat dengan jumlah total sebanyak 79 anggota. Dimana dari awal berdiri (2002) sampai sekarang total aset baru mencapai 42jt.

Karamahan ketika saya menyapa, kemudian bertanya dan meminta sedikit waktu untuk bertemu tidak sebanding dengan sambutannya.

Rasa acuh, cuek, dan sedikit meremehkan dengan kata-kata kurang mengenakan membuat saya sedikit merendahkan diri.

Sedikit mengangkat prestasi PKK, ternyata itu jurus yang manjur untuk meluluhkan para pengurus koperasi agar suasana mencair dan akhirnya mau terbuka.

Setelah dihubungi berkali-kali melalui telphon seluler selalu menjawab tidak bisa karena sibuk dan banyak urusan maka kali ini melalui kunjungan mendadak saya bisa menemuinya.

Tidak ada Regenerasi

Arah pembicaraan tidak jauh-jauh dari pembicaraan dihari-hari sebelumnya ketika wawancara ditempat lain. Kita menemukan kesamaan masalah antara koperasi “KUWAT” dengan koperasi “Anggana Ati Satya” yaitu masalah regenerasi.

Semua pengurus yang ada di koperasi “Anggana Ati Satya” rata-rata umurnya diatas 55 tahun. Usia tersebut masuk dalam golongan usia yang sudah tidak produktif. Selain itu sebenarnya mereka sudah pensiun beberapa tahun yang lalu.

Mereka menginformasikan bahwa tidak adanya regenerasi di koperasi karena kaum muda tidak ada yang menggantikannya. hal tersebut seperti yang diungkap oleh ketua koperasi (Lilin Sri Suyati/ 67),”Boro..boro..nganti mbk, peduli aja nggak.”

Tidak adanya regenerasi ikut ambil bagian dalam pengembangan koperasi. Dimana koperasi menjadi stucknan, tingkat pertumbuhan aset tidak mengalami peningkatan dan jumlah anggota bertambah jika terdapat pergantian camat.

Tidak berkembanganya koperasi berdampak pada pelaksanaan RAT (Rapat Anggota Tahunan) 2 tahun terakhir ini, dimana 2 kali RAT koperasi tidak mengundang Dinas PERINDAGKOP & ESDM karena tidak mampu memberi uang transport pejabat dinas.

Terlepas dari itu semua, koperasi pernah melakukan berbagai maca usaha untuk mengajukan tambahan modal ke pemerintah, tapi hasilnya tidak ada.

Setelah dikonfirmasi ternyata, pemerintah ragu ketika akan memberikan bantuan atau pinjama dana kepada koperasi karena pengurusnya yang sudah tua-tua dan belum ada regenarasi. Dimana mereka takut jika diberikan pinjaman atau abantuan mereka tidak bisa mengelolanya.

Lumrah jika pemerintah ragu untuk memberikan pinjaman atau bantuan kepada koperasi, karena memang koperasi tidak pernah melakukan regenerasi dan ketika adapun pergantian pengurus dan pengawas hanya diputar.

Catatan penting dari beberapa pengalaman sebelumnya dan ini kedua kalinya adalah pentingnya sitem pengkaderan untuk regenarasi kepengurusan koperasi lebih diperhatikan. Karena setiap orang akan mengalami tua dan kondisi yang kurang produktif

 

Surakarta, 19 Juni 2014

Yuliana Paramayana

This entry was posted in Catatan Lapangan and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s