Ketika tidak ada regenerasi

“Generasi tua takut jika generasi muda diberi jabatan tidak amanah dan Generasi muda tidak mau menjabat dan bahkan tidak mau tahu apa yang telah dilakukan oleh generasi sebelumnya”

Wawancara dengan pengawas koperasi "KUWAT", Ponjong, Gunungkidul, Yogyakarta.

Wawancara dengan pengawas koperasi “KUWAT”, Ponjong, Gunungkidul, Yogyakarta.

Penggalan kalimat diatas salah satu cermin kondisi Kopwan “KUWAT” yang terletak di Desa Ponjong, Kecamatan Ponjong, Gunungkidul, Yogyakarta yang saya temui minggu kemarin_(13/06/2014).

Koperasi tersebut berdiri pada tahun 1967 yaitu pada masa pemerintahan orde baru. Rata-rata pengurusnya sudah sangatlah tua yaitu diatas 65 tahun. Bisa dibilang mereka adalah nenek-nenek saya.

Koperasi yang berdiri pada tahun ’67 ini sempat mati dan tidak ada usaha yang dijalankan selama 20 tahun mulai tahun 1987. Hal tersebut dikarenakan terdapat penyalahgunaan wewenang yang dilakukan oleh pengelola pada waktu itu.

Pengelola telah membawa uang koperasi senilai kurang lebih 5jt. Dimana jika pada waktu itu dihitung maka nilainya terbilang cukup tinggi.

Setelah sempat mengalami trauma kurang lebih 20 tahun, akhirnya atas inisiatif Dinas PERINDAGKOP & ESDM kabupaten Gunungkidul melalui PKK Desa, koperasi tersebut dihidupkan kembali.

Koperasi mulai beroperasi kembali pada tahun 2007 dengan jumlah anggota sebanyak 30 orang dan 75% mempunyai usaha. Hanya saja 30 anggota tersebut terdiri dari kaum tua yang rata-rata umurnya diatas 50 tahun.

Produktifitas Menurun

Selang beberapa tahun setelah mulai beroperasi yaitu di tahun 2009 koperasi mendapat suntikan dana dari Kementrian Koperasi dan UMKM yaitu senilai 50jt.

Ditengah tuntutan para anggotanya, pengurus koperasi mengalami kesulitan dalah melayani kebutuhan anggota. Dimana koperasi tidak bisa melakukan peningkatan jumlah anggota, pengurus kurang mampu menangani kredit macet, dan pengurus tidak bisa memenuhi kebutuhan anggota ketika anggota ingin mengkases modal pinjaman.

Pengembangan koperasi yang masih jalan ditempat tidak lain karena faktor usia para pengurus yang sudah tua atau alias kurang produktif.

Tidak produktifnya pengurus disampaikan oleh ketua koperasi dalam sebuah wawancara (Painah/65) berikut ini, “mbk kita itu sudah tua, melihat aja susah, jalan aja sudah pelan-pelan dan tidak bisa cepat,gimana kita bisa lari kesana kemari.”

Terlepas dari kurang produktifitas para pengurusnya, mereka mempunyai semangat yang tiggi untuk menghidupkan koperasi yang telah mereka rintis. Hal tersebut seperti yang diungkap oleh ketua koperasi dalam lanjutan wawancara, “Tapi jangan salah, kita masih semangat mbk, meskipun sudah tua karena yang muda juga belum tentu mau.”

Regenerasi

Tuanya umur koperasi sejalan dengan tuanya umur para pengurusnya. Tidak ada regenerasi, itu sangat terlihat dari ungkapan-ungkapan diatas dan “Status Quo”dipertanyakan.

Rasa takut masih menghantui para pengurus lama untuk merekrut pengurus baru. Selain itu rasa kepemilikan menurut mereka adalah sebuah penghargaan, karena mereka yang merasa berjuang untuk menghidupkan koperasi. Lumrah jika para generasi tua enggan untuk memberikan jabatannya atau “Status Quonya” kepada generasi muda.

Hal tersebut seperti yang diungkap oleh ketua koperasi (Painah/65), ketika ada pertanyaan kenapa tidak ada regenarasi buk di koperasi “KUWAT”? beliu menjawab,”Kita masih terauma dengan kejadian sebelumnya, karena uang dibawa lari, selain itu sebagai wujud penghargaan pengurusnya yang sudah berjuang dan belum merasakan apa-apa, maka kami belum melakukan regenerasi.”

Kondisi tersebut diperparah dengan segelintir generasi muda yang tidak mau tahu ruang lingkup perkoperasian dan mereka bisanya menuntut. Hal tersebut seperti yang disampaikan oleh ketua koperasi, ketika terdapat pertanyaan, “Dimana generasi mudanya buk?” Beliu menjawab,”Halah mbk, yang muda-muda itu malah pada tidak mau tahu kok mbk.”

Angan-angan kedepan pengurus koperasi tetap akan melakukan regenerasi. Mau tidak mau mereka menyadari bahwa pengurus sudah tidak produktif untuk menjalankan koperasi lagi. Angan-angan muncul dari ketua koperasi ketika menyampaikan pendapatnya, “Kami sadar mbk untuk melakukan regenerasi, tapi bertahap dan dimulai pada ketika periodesasi jabatan kita selesai, karena kita baru terpilih kemarin dan masa jabatan 4 tahun.”

Paling tidak uangkapan diatas mengindikasikan mereka sadar bahwa mereka sudah tua, tidak produktif dan butuh regenerasi.

Surakarta, 19 Juni 2014

Yuliana Paramayan

T

This entry was posted in Catatan Lapangan and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s