Kemandirian dari istri-istri nelayan..

“Meski kami hanya lulusan SD (Sekolah Dasar), kami punya tekat untuk maju” (Kata istri nelayan sekaligus ketua koperasi perempuan “Mina Mandiri” (Sumarsiyem/51) dalam sebuah wawancara)

sumber:lampost.co

sumber:lampost.co

Penggalan kalimat diatas benar-benar menunjukan bahwa dengan kemauan dan tekat yang kuat, rendahnya tingkat pendidikan tidak menjadi soal untuk perempuan mandiri.

Dalam sebuah wawancara lanjutan penelitian tentang “Peluang dan Tantangan Pengembangan Koperasi Perempuan Di Kabupaten Gunungungkidul” (20/0602014)___terdapat banyak cerita yang menginspirasi.

Berawal dari ketidakberdayaan masyarakat sekitar pesisir pantai selatan tepatnya di Desa Kemadang, Tanjungsari, Gunungkidul, Yogyakarta, para istri nelayan ini membentuk kelompok untuk menjalankan usaha bersama.

Mereka berharap dengan adanya kelompok perempuan, usahanya maju dan berkembang. Sulitnya perempuan  dalam mengakses modal untuk membeli peralatan, kemudian mengembangkan usaha pada waktu itu (1999) membuat mereka kehabisan akal.

Adanya kunjungan dari Dinas Perikanan Kabupaten Gunungkidul sangatlah membantu meraka dalam berkelompok. Berawal dari hanya kegiatan arisan, kemudian diadakan simpanan pokok senilai Rp.10.000,- dan simpanan wajib senilai Rp 5.000,- , sedikit banyak telah membantu mereka dalam mengembangkan usaha.

Kelompok yang terdiri dari 20 orang perempuan istri nelayan tersebut diberi nama “Badri Manunggal”. Dimana usaha utama pada waktu itu adalah membuat produk olehan makanan dari bahan baku yang ada di laut seperti, peyek ikan, kripik rumput laut, bakso. ikan asin, dendeng dll)

Terbatasnya fasilitas pada waktu itu, seperti tidak adanya kios untuk jualan di sekitar wisata panati, kemudian belumadanya tempat pengelolaan ikan, membuat mereka bekerja keras.

Sedikit demi sedikit kelompok mengalami perkembangan yang cukup baik. Hal tersebut terlihat dari beberapa lembaga keuangan yang ada diwilayah sekitar seperti bank atau lembaga keuangan mikro yang lain telah memberikan pinjaman kepada kelompok mereka.

Selain itu, kelompok juga pernah mendapatkan soft loan dari PT. Pertamina senilai 90jt untuk pengembangan usaha dengan bunga 0,6% perbulan dengan periode angsuran selama 4 tahun.

Semua angsuran tersebut telah terlunasi sebelum kelompok diubah menjadi koperasi pada tahun 2008.

Setelah kelompok diubah menjadi koperasi terdapat beberapa kebijakan dan perubahan diantaranya adalah:

– Simpanan Pokok yang awalnya Rp 10.000,- sekarang Rp.1.000.000,-

– Simpanan wajib yang awalnya Rp.5.000,- sekarang, Rp.10.000,-

– Nama koperasi menjadi “Mina Mandiri”

Kemudian terkait dengan perkembangan asset koperasi yang awalnya hanya sekitar Rp. 29.000.000,- per 31 Desember 2013 telah menjadi 2.046.111.473 (sumber: laporan keuangan Koperasi Mina Mandiri tahun buku 2013)

Sementara tanggungan ke pihak III, koperasi hanya memiliki tanggungjawab senilai Rp. 171.200.000,-.

Kok,bisa?

Semua orang pastinya kaget, kok bisa ya…, koperasi dengan anggota yang hanya 30 orang, kemudian pengurusnya hanya lulusan SD tapi assetnya sudah milyaran? Apa sih tipsnya?

Kata ketua koperasi perempuan “Mina Mandiri” (Sumarsiyem/ 51), “sukses itu tinggal kemauan kita, tidak harus berpendidikan tinggi”.

Pernyataan diatas tidak sekedar slogan saja, tapi juga diwujudkan dalam tindakan, diantaranya adalah:

1. Tingkat kedispilinan dalam semua hal (kegiatan simpan-pinjam, pembuatan laporan, pelaksanaan tugas dan tanggung jawab dll).

2. Kepercayaan antar satu dengan yang lain dalam menjalankan usaha.

3. Keuletan dan kesabaran dalam  menghadapi permasalahan yang ada.

4. Keramahan dan keterbukaan pengurus dalam menjalin relasi dengan pihak ke-3 atau menerima tamu ketika berkunjung.

5. Ketegasan dalam setiap pelaksanaan aturan yang telah disepakati.

6. Kesukarelaan dalam mendengar dan terjun ke masyarakat dalam mengatasi permasalahan-permasalah yang ada.

Sedikit banyak hal-hal tersebut yang saya tangkap dan saya tulis dalam wawancara.

Sekarang koperasi mereka sebagai lembaga yang kuat dan besar di desanya. Paling tidak mereka telah mampu berkontribusi kepada masyarakat, sehingga masyarakat sekarang lebih mudah dalam mengakses modal untuk memajukan dan mengembangankan usahanya.

Catatan kecil

Koperasi yang besar seharusnya menjadi soko guru perekonomian di masyarakat, sehingga koperasi kemanfaatnya bisa dirasakan oleh masyarakat luas dan tidak hanya segelintir oarng saja.

Jumlah anggota yang baru 30 orang di koperasi perempuan “Mina Mandiri” dengan aset yang sangat besar, sekitar 2 M, itu menunjukan tidak sebanding.

Sehingga agar koperasi mempunyai nilai manfaat yang luas bagi masyarakat khususnya perempuan dan tidak hanya dinikmati segelintir orang saja, maka kedepan koperasi “Mina Mandiri” harus meningkatkan jumlah keanggotaanya.

Surakarta, 23 Juni 2014

Yuliana Paramayan

This entry was posted in Catatan Lapangan and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s