Karena Peduli, Aku Berbagi

Talita KumSelasa (22/ 07/ 2014)___Koperasi Mitra Perempuan Desa Kampung, Kecamatan Ngawen, Gunungkidul mendapat kunjungan dari komunitas “Talita Kum” yang beralamat di Kota Solo, Jawa Tengah.

Menurut salah satu pengurus (Yophy), “Talita Kum” menurut bahasa Aram  artinya adalah “bangkitlah para pemudi”. Organisasi tersebut konsen dalam merespon isue-isue perempuan seperti kekerasan terhadap perempuan, kesehatan reproduksi, human traficking, dll.

Tujuan mereka berkunjung di Kopwan Mitra Usaha Perempuan salah satunya adalah untuk menyalurkan dana sosial untuk para anak yatim,piatu ataupun yatim-piatu dan anak terlantar.Kegiatan tersebut adalah program tahunan yang diselenggarakan oleh organisasinya.

Kedatangan mereka disambut hangat dan terbuka oleh para pengurus koperasi. Sebelum masuk dalam sesi perkenalan, saya bersama dengan teman-teman “Talita Kum” sejenak menghelakan nafas dan merentangkan badan yang sedikit kelelahan.

Gaya pakaian dan penampilan para temen-temen “Talita Kum” sempat membuat para pengurus agak sedikit  bingung bagaimana memanggilnya (mbk/ mas), karena memang beberapa dari mereka mempunyai penambilan yang biasa masyarakat kenal istilah tomboy. Tapi suasana kembali cair ketika satu persatu dari teman-teman koperasi meperkenalkan diri dan diikuti teman-teman “Talitakum” memperkenalkan dirinya.

Dalam inti acara, pengurus koperasi sedikit menjelaskan mengenai sejarah berdirinya koperasi Mitra Usaha Perempuan. Dimana mereka menjelaskan bahwa koperasi berdiri difasilitasi oleh YSKK ( Yayasan Satu Karsa Karya) dari menggabungkan kelompok-kelompok yang ada di dusun (Candi, Gununggambar dan Suru).

Kemudian pengurus menginformasikan bahwa kondisi masyarakat saat ini masih banyak yang miskin atau kurang mampu dan koperasi hanya bisa membantu pada saat di bulan Ramadhan melalui dana Sosial.

Terkait penyaluran dana sosial, koperasi hanya bisa mengeluarkan uang senilai Rp 525.000,- untuk 25 anak yatim, piatu, yatim-piatu dan terlantar. Nilai sebesar itu memang dirasa sangat kurang dan jauh dari layak. Cuma meraka sangat antusias dan mempunyai niat bahwa “Memberi tidak harus banyak dan yang penting bisa berbagi untuk sedikit meringankan”.

Mendengar adanya informasi bahwa ada teman-teman Solo ingin membantu dan menajdi donatur, pengurus sangat senang menyambutnya. Karena itu sangat-sangat membantu bagi mereka yang membutuhkannya.

Begitu juga dari teman-teman Solo, mereka juga sempat kebingungan ketika akan mendonasikan dana sosialnya ke panti asuhan yang ada di Solo. Dimana, ternyata di Solo kondisi pantiasuahan sudah ada donatur tetapnya dan ketika musim puasa banyak donatur yang mendonasikan ke panti tersebut sehingga kondisi sampai over load.

Kondisi tersebut yang membuat mereka mencari informasi, anak-anak yaitim di wilayah mana yang sangat membutuhkan bantuan mereka, agar bantuan tepat sasaran. Melalui informasi yang diperoleh dari seorang teman, akhirnya mereka memutuskan untuk mendonasikan dana sosialnya ke anak yatim yang ada di Desa Kampung, Kecamatan Ngawen, Gunungkidul melalui Koperasi Mitra Usaha Perempuan.

Kondisi Anak Yatim, Piatu, Yatim-Piatu dan Terlantar

Jumlah anak yatim, piatu, yatim-piatu dan terlantar yang terdata oleh koperasi sejumlah 25 anak. Dimana kondisi mereka sebagian besar ditinggal oleh bapaknya pergi keluar kota dan tidak pernah pulang, ditinggal nikah dengan perempuan lain dan tidak pernah dinafkahi.

Selain itu terdapat anak yatim korban pemerkosaan, dimana anak tersebut lahir dari seorang perempuan yang berkebutuhan khusus karena di perkosa oleh tetangganya. Selain itu ada juga yang karena bapak dan ibunya meninggal.

Jumlah anak yatim tersebut terletak di 5 padukuhan (Candi, Gununggabar, Pagerjurang, Tembelan dan Ngawen) yang menjadi wilayah anggota koperasi. Sementara anak yatim di dusun lain belum teridentifikasi. Anak-anak tersebut jarang mendapatkan perhjatian dari pemerintah apalagi pihak lain.

Dari 25 anak, 14 anak adalah anak laki-laki dan 11 lainnya adalah perempuan. Rata-rata pendidikan mereka adalah SD (Sekolah Dasar) dan yang SMP (Sekolah Menengah Pertama) hanya 1 orang, dan ada juga yang PAUD tapi itu tak lebih dari lima.

Dalam mengenyam pendidikan khususnya di PAUD anak-anak yang tidak mempunyai bapak atau ibu diberi keringan untuk tidak membayar uang seragam dan SPP. Hal tersebut seperti diungkap oleh pengawas koperasi yang sekaligus pendidi PAUD berikut;

“Ada beberapa anak-anak yang masih PAUD dan ketika masih PAUD mereka kami bebaskan uang seragam dan SPP. kami mengambilkanya dari pembayaran para orangtua yang mampu” (Darmi/45)

Pernyataan diatas mengisyarakatkan bahwa masyarakat masih mempunyai kepedulian sosial yang tinggi.

Donasi yang diberikan

Dalam pemberian donasi, teman-teman Solo memberikan donasi kepada koperasi untuk anak yatim-piatu dan terlantar senilai Rp. 2.800.000,-. Total secara keseluruhan jika ditambahkan dengan dana sosial milik koperasi senilai Rp. 3.525.000,-. Kemudian terkait dengan penyaluran, semua diserahkan kepada pengurus koperasi.

Pengurus koperasipun menyambut dengan senang atas bantuan yang diberikan. Adapun konsep penyaluran yang pengurus koperasi sampaikan, para orangtua dan anak yatim akan dikumpulkan di Balai Dusun. Kemudian sebagai langkah tindak lanjut agar para orang tua anak terorganisir dengan baik dan mereka bisa terberdayakan, maka orangtua anak akan dimasukan menjadi anggota koperasi.

Masuknya orangtua anak menjadi anggota koperasi, tersimpan harapan yang besar. Dimana pengurus koperasi berharap ada peningkatan kesejahteraan bagi mereka dan pada akhirnya kebutuhan dasar anak bisa terpenuhi dan tujuan koperasi untuk mensejahterakan anggotanya bisa terpenuhi.

Akhir dari sebuah pertemuan

Tidak lama memang teman-teman Solo berbincang-bincang dengan pengurus koperasi. Kemudian saya mengajak temen -temen “Talitakum” untuk melihat beberapa obyek wisata di padukuhan Gununggambar. Disana mereka mengenal bagaimana keramahan masyarakatnya, kedamaian, dan peninggalan sejarah.

Melalui puncak Gununggambarlah kita bisa melihat wilayah Wonogiri, Solo, Yogya dan sekitarnya. Selain itu, petilasan Pangeran Samber Nyawa memberikan arti tersendiri bagi para pengunjunganya.

Perjalanan tidak berhenti disitu, dimana mereka saya ajak ke home industry diwilayah Semin Gunungkidul. Disana teman-teman akan kenal lebih dekat produk-produk lokal buatan para perempuan yang ramah pada tubuh manusia.

Merekapun akhinya menikmati santapan lokal ala Gunungkidul yaitu gatot. Sebagai buah tangan, mereka membeli beberapa produk dari anggota koperasi.

 

 

Surakarta, 23 Juli 2014

Yuliana Paramayana

 

 

 

 

 

 

This entry was posted in Catatan Lapangan and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s