Menuju koperasi perempuan yang mandiri..

Usaha rambak yang dijalankan oleh anggota Kopwan Mitra Usaha Permpuan di Dusun Gununggambar

Usaha rambak yang dijalankan oleh anggota Kopwan Mitra Usaha Permpuan di Dusun Gununggambar

Wajah yang penuh semangat itu kini saya lihat kembali. Dimana pada Rabu, 17 September 2014 saya mendapatkan kabar bahagia dari teman-teman perempuan koperasi wanita Mitra Usaha Perempuan Desa Kampung, Ngawen, Gunungkidul, Yogyakarta.

Terdapat dua kabar gembira dari mereka. Pertama, SK (Surat Keputusan) dari Kementrian Negara Koperasi dan UMKM  mengenai penerimaan dana bansos telah turun. Dimana pada tanggal 3-4 Sepetember koperasi telah melakukan pemberkasan. Sehingga saat ini koperasi tinggal menunggu transferan dana dari kementrian melalui rekening bank.

Terdapat cerita tersendiri dari proses pelengkapan berkas bansos, dimana pengurus koperasi harus berjalan memutari Kota Yogyakarta untuk cari tempat foto copy-an, yang susah ditemukan, kemudian mengganti juklak sebelumnya yang salah, dan  kemudian harus mengembalikannya kembali. Tapi semua itu mereka lakukan dengan senang.

Apa yang dilakukan oleh pengurus adalah dampak dari kebijakan Dinas Perindagkop & ESDM yang baru. Dimana jika sebelumnya dinas yang menguruskan dan membantu kelengkapan data-data yang dibutuhkan, sekarang tidak. Dalam perkiraan, hal ini dilakukan agar tidak ada praktek KKN dalam bentuk balas jasa pengurusan bansos.

Penguruspun menyambut baik kebijakan tersebut, karena pengurus tidak harus “ewuh-pekewuh” sehingga merasa punya hutang budi kepada orang yang menguruskannya. Selain itu koperasi juga lebih leluasa untuk menggunakannya.

Kedua, seluruh pengurus koperasi pada tanggal 1-5 September mendapat undangan dan mengikuti pelatihan “Peningkatan Kualitas dan Desain Packing/ Pengepakan Olahan Makanan Kabupaten Gunungkidul”. Pelatihan tersebut bagian dari serangkaian proposal yang sebelumnya telah diajukan, yang telah disetujui.

Pelatihan tersebut diikuti oleh 20 orang dari 3 kelompok. Hasilnya adalah pengurus bisa melakukan packing yang bagus sesuai dengan keinginannya. Selain itu koperasi juga memperoleh mesin packing dengan kapasitas besar dan 2 timbangan.

Sebagai rencana tindak lanjut, mesin packing tersebut akan digunakan oleh anggota koperasi di Gununggambar terlebih dahulu karena banyak anggota yang mempunayi usaha olehan makanan.

Dimana pada tanggal 22 September 2014 anggota koperasi yang ada di Gununggambar akan mengadakan pertemuan guna mendiskusikan penggunaan mesin press tersebut baik dari segi pembiayaan, penempatan mesin, keberlanjutan penggunaan mesin.

Ketiga, usaha gaduhan kambing koperasi mulai di lirik oleh orang diluar koperasi (investor) . Paling tidak sudah terdapat 2 orang  yang menanyakan soal bagaimana jika mereka ingin melakukan investasi di usaha gaduhan kambing.

Sehingga guna mengakomodir maksud dan keinginan para investor, koperasi membuat kebijakan baru. Dimana koperasi memisahkan usaha gaduhan dengan usaha simpan-pinjam sehingga investor bisa langsung melakukan investasi ke usaha gaduhan kambing melalui unit usaha gaduhan kambing.

Semnetara sistem bagi hasil yang diterapkan adalah 50% untuk penggaduh, 20% untuk koperasi dan 30% untuk investor. Sedangkan peraturan lainnya masih menggunakan peraturan yang sama, yang telah disusun dan disepakati sebelumnya.

Ketiga hal tersebut membuat pengurus koperasi menjadi optimis untuk menjadikan koperasi lebih maju dan mandiri tanpa harus tergantung pada pihak ke-3.

Surakarta, 19 September 2014

Yuliana Paramayana

This entry was posted in Catatan Lapangan and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s