“Manggleng” Sebagai Sumber Penghidupan Perempuan Gununggambar

Perempuan Bicara Kebutuhan Ekonomi Rumah Tangga

Perempuan Gununggambar Diskusi Tentang Inovasi Produk “Manggleng”

Pagi itu (22/ 09/ 2014)___.Dari kejauhan terlihat para perempuan sedang saling berbincang, penuh canda dan tawa. Saya mencoba menyapa dan mendatanginya, ternyata perempuan-perempuan tersebut sedang menunggu kedatangan saya. Dalam hati, saya menjadi tidak enak hati (malu) karena telat (10 menit). Guna mencairkan suasana, sayapun ikut bercanda dan tetawa bersama mereka.

Waktu menunjukan pukul 10.15 WIB, kemudian saya mengajak 18 perempuan di Gunuggambar, Desa Kampung, Kecamatan Ngawen, Gunungkidul untuk masuk kerumah dan segera memulai acara. Dimana obrolan yang awalnya hanya canda dan tawa, maka beralih menjadi obrolan yang agak serius. Ibu-ibu dituntun mengeluarkan kemampuan dan apa yang mereka miliki melalui kata-kata.

“Manggleng”

Manggleng adalah salah satu produk olahan hasil pertanian dari

Manggleng Mentah Produksi Perempuan Gununggambar

bahan baku ketela pohon yang telah di kupas, di panaskan, kemudian dipotong dan dijemur agar kering untuk siap dijual mentah atau digoreng sehingga menjadi makanan ringan (camilan). Sering kali orang lain ada juga yang bilang “Balung Kethek” ataupun “Sepe”.

Manggleng adalah salah satu atau bahkan satu-satunya produk unggulan di Gununggambar. Dimana melalui menggleng, mereka bisa memperoleh tambahan penghasilan yang lebih layak dibandingkan ketika ketela pohon hanya dijual glondongan dalam bentu “Gaplek”.

Harga per kilo  manggleng sekitar Rp. 8.000,- sampai rp Rp. 10.000,-, sedangkan harga per kilo gaplek hanya dihargai sekitar  Ro.1500 sampai Rp. 2.000,-. Maka dari itu sebagian besar ketela pohon di Gununggambar dibuat manggleng dan sisa pembuatan manggleng baru dibuat gaplek. Sedangkan untuk kulitnya dan daunnya dipakai sebagai makanan ternak, serta batangnya dipakai untuk kayu bakar ataupun sebagai embrio untuk ditanam kembali. Sehingga semua yang ada di ketela pohon bisa termanfaatkan dengan baik.

Melalui manggleng, salah satu ibu  dengan 2 anak ini (Sulastri/ 42) mampu menyekolahkan anaknya sampai SMA (Sekolah Menengah Atas). Berikut ungkapan yang beliu sampaikan;

“Syukur alhamdulillah mbk, melalui manggleng ini saya bisa menyekolahkan anak sampai SMA dan kebutuhan dapur selalu tercukupi.”

Mulai ber-inovasi

Diawal bulan, tepatnya tanggal 1-5 September 2014 melalui proposal yang diajukan oleh koperasi beberapa bulan yang lalu, pengurus koperasi mendapatkan pelatihan dari Dinas PEERINDAGKOP & ESDM Kabupaten Gunungkidul mengenai peningkatan kualitas produk dan packing. Pelatihan tersebut diikuti oleh 6 orang dari pengurus koperasi dan 12 orang lainnya dari kelompok yang wilayahnya berbeda.

Hasil pelatihan, mereka mampu membuat packing yang bagus dan bisa mengoperasionalisasikan sebuah mesin press. Selain itu mereka juga mendapatkan mesin press dengan kapasitas cukup besar dan mendapatkan dua alat timbang.

Setelah pelatihan pengurus membuat kebijakan,bahwa mesin dan alat timbang akan diperuntukan bagi anggota koperasi Gununggambar. Karena memang nama-nama yang dipakai dalam pengajuan adalah nama-nama anggota di Gununggambar, selain itu, anggota yang mempunyai produk olahan makanan sebagain besar juga ada di Gununggunggambar.

Kebijakan tersebutpun disambut baik oleh para anggota di Gununggambar. 18 perempuan yang mempunyai usaha hasil olah pertanian khususnya manggleng, akan melakukan inovasi produk. Dimana yang awalnya manggleng hanya dijual mentah maka mereka akan menjadikan produk makanan yang siap untuk dimakan. Agara usaha bisa berjalan lancar maka mereka memutuskan perlu adanya tim pemasaran. Dimana terdapat satu dari sekian anggota yang bersedia menjadi tim pemasaran yaitu mbk “Suharti”. Kemudian terkait dengan bagaimana sistem penetapan harga, akan dilakukaan komunikasi dan tawar menawar antar pemasar dan pemproduk.

Selanjutnya, terkait dengan penggunaan mesin, para anggota yang ada di Gununggambar membuat kebijakan bahwa setiap anggota yang akan menggunakan press akan dikenai biaya Rp. 20,- sekali press dan sebagai bentuk perawatan anggota mengadakan iuran senilai Rp. 500.,- per bulan. Agar pengelolaan misa termanage dengan baik maka dibentuk pengelola untuk membawa uang jasa press dan iuran perawatan mesin. Penanggungjawab untuk uang masuk dari jasa press adalah ibu Muryati dan pengelolaan dana iuran adalah ibu Sumarni.

Rencana Tindak lanjut

Agar semua bisa berjalan dengan baik dan hasilnyapun bermanfaat bagi para perempuan khususnya anggota Kopwan Mitra Usaha Perempuan yang ada di dusun Gununggambar terdapat beberapa rencana tindak lanjut diantaranya adalah;1) Setengah manggleng mentah yang dimiliki anggota koperasi akan dijadikan produk olahan makanan siap jual, 2) Sembari menunggu mesin press sampai di lokasi (gununggambar) maka anggota koperasi berkomitmen untuk selalu melakukan uji coba sehingga menghasilkan produk yang layak jual dan layak konsumsi.

Surakarta, 23 September 2014

Yuliana Paramayana

via WordPress for Phone http://goo.gl/j6Fzhf

This entry was posted in Catatan Lapangan and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s