Dibalik kegigihan mama-mama….

Pengrajin Tenun di Desa Hueknutu, Takeri, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur

Pengrajin Tenun di Desa Hueknutu, Takeri, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur

Sepenggal cerita ketika bertatap muka dengan mama-mama di Kupang, Nusa Tenggara Timur selama kurang lebih 8 hari.

Pada waktu itu (21/10/2014) saya bersama dengan teman-teman yang lain berkunjung kerumah pengerajin tenun di Desa Hueknutu, Kecamatan Takeri, Kabupaten Kupang.

Tidak mudah ternyata untuk menjangkau rumah pengrajin tenun tersebut. Saya harus melalui jalan yang rusak, berliku dan berlubang sampai pada saya saatnya saya harus menumpang kendaraan lokal, karena mobil yang saya tumpangi tidak berani melewati jembatan yang rusak.

Disepanjang jalan terlihat babi, kambing, sapi, anjing yang berkeliaran tanpa ikatan tali apapun. Selain itu kamarau yang panjang juga memperlihatkan keringnya sungai-sungai, pohon yang tinggal dahan dan ranting serta tanah yang bisa dimasuki kaki.

Empat jam perjalanan yang dibutuhkan untuk menuju rumah pengrajin tenun. Pada waktu itu para mama-mama (sebutan ibu yang sudah berumah tangga di Kupang) sedang menjalankan aktivitas menenun.

Saya dan teman-teman di sambut hangat oleh ketua kelompok yaitu Mama Rambo. Ditengah perbincangan kami hanya disuguhi kopi dan teh panas, akan tetapi kami sangat bersyukur karena kami telah diberi minuman dari pada tidak sama sekali.

Memang sebelumnya kami tidak persiapan apapun baik minum maupun makanan untuk bekal perjalanan. Sementara dalam perjalanan kita tidak menemukan toko atau penjaja makanan satupun yang berjualan sehingga seharian kami kelaparan dan kehausan.

Singkat carita dalam perbincangan kami, terungkap beberapa kata yang terajut dalam satu kalimat dari mama Rambo. Mama Rambo berkata, “Maaf ibu-ibu semua, kami hanya bisa menyuguhkan air karena ini yang hanya kita punya, sementara kami makan cukup dengan nasi dan garam.”

Perkataan mama Rambo membuat kami semua tertegun dan terbelalak, dalam hati kecilku berkata,”Sebegitukah perjuangan mama-mama dalam mempertahankan hidup?”

Ternyata kondisi itu benar adanya, masyarakat di Hueknutu bisa beli ikan hanya seminggu sekali itu kalau ada yang jualan dan kalau mereka punya uang, mandi tidak setiap hari karena sumber air tidak ada, penerangan hanya menggunakan tenaga surya dan kalau tidak ada hanya menggunakan pelita, musim panen hanya sekali dalam setahun, akses jalan yang rusaj, angkuta umum (pick up) hanya ada pada hari-hari tertentu, jarak ke kota sangat jauh.

Beberapa menit saya menengok ke belakang ternyata terlihat para mama-mama sedang menenun dan tak kutemukan sedikitpun makanan disamping mereka. Kemudian ketika saya kebelakang (kamar mandir) terlihat air yang sangat keruh dan berwarna kuning dan ternyata air itulah yang mereka gunakan sehari-hari baik untuk minum, masak mandi mapun aktivitas lainnya. Dalam hati kecilku, “Berarti air yang saya minum tadi adalah air ini (air yang keruh dan kuning.”

Butuh perhatian lebih

Melihat kondisi mereka sudah seharunya mereka mendapat perhatian yang lebih dari pemerintah baik pemerintah lokal, daerah maupun pusat. sudah saatnya masyarakat di Indonesia Timur mendapatkan pembangunan yang layak.

Bila kondisi ini tidak segera di perhatikan oleh semua kalangan maka bukan tidak mungkin Nusa Tenggara Timur akan lepas dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) seperti Timor-Timor.

Masalah kemanusiaan adalah masalah bersama, ketika melihat kondisi sosial masyarakat yang seperti itu sudah seharusnya masyarakat yang lain ikut peduli dan manjadi bagian dari penyelesaian masalah tersebut.

Benar bila Lembaga Swadaya Masayarakat (LSM) harus mengkonsentrasikan pemberdayaannya di wilayah Indonesia Timur. Karena kondisi kesejahteraan masyarakat Indonesia Timur jauh di peradaban dan perkembangan zaman ini.

Harapan mama-mama

Mereka (mama-mama) berharap pemerintah yang baru di bawah pemerintahan Presdiden Joko Widodo memperhatikan kondisi dan nasib mereka sehingga mereka bisa maju dan berkembang seperti masyarakat yang lain khusunya masyarakat yang ada di wilayah perkotaan.

Surakarta, 28 Oktober 2014

Yulianan Paramayan

This entry was posted in Catatan Lapangan and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s