Berumah Tangga Tidak Menjadi Batasan Untuk Perempuan Beraktualisasi

Kemarin malam (22/01/2015), sebagai warga baru yang menghuni rumah kontrakan, saya bersama dengan teman satu kantor melakukan kunjungan di rumah Ketua RT (Rukun Tetangga) kampung Kuanino, Kupang, NTT.

Terdapat cerita menarik dalam kunjungan kami, salah satunya adalah terkait dengan relasi antara suami-istri dalam kehidupan berumah tangga.

Selama saya berkunjung dan berkeliling wilayah dari tempat satu ketempat yang lain di Kabupaten dan Kota Kupang tak sedikit saya dengar curhatan dari para ‘mama-mama’ (sebutan ibu-ibu di Kupang), bahwa ketika akan melakukan kegiatan apapun mereka harus ijin suami dan pekerjaan domestik terselesaikan.

Lain halnya dengan relasi dalam rumah tangga ketua RT kali ini, yang mana justru ketua RT (Emu Bulan) memberi kesempatan seluas mungkin untuk istrinya (Mike Bulan-francis) berperan di ruang publik.

Ibu Mike Bulan-Francis, selain menjadi aktivis gereja ternyata beliu juga menjadi Ketua RW (Rukun Warga) dan aktivis perempuan di NTT.

Kesempatan sebagai ketua RW diberikan oleh suaminya karena suaminya menginkinkan istrinya untuk tidak bekerja terlalu berat.

“Menjadi ketua RW lebih pada urusan administrasi dan menyampaikan aspirasi warga ke kelurahan dan tidak terlalu mengeluarkan tenaga banyak, sementara menjadi ketu RT dituntut untuk mengerjakaan pekerjaan teknis yang sering kali harus keliling rumah warganya untuk melakukan pendataan dan mendengarkan serta menampung aspirasi warganya”, ungkap ketua RT selaku suami ibu Mike Bulan-Francis.

Jelas dari ungkapaan diatas, suami dari ibu Mike sangat berprespektif perempuan. Selain itu dengan kesibukan istrinya, baik di gereja atau di forum kota, suami tidak pernah marah dan menuntut untuk istrinya selalu ada dirumah.

Hal tersebut terlihat ketika akan menyuguhkan makanan, beliu minta maaf atas makanan yang dihidangkan hanya sekedarnnya, karena beliu sendiri baru pulang dari aktivitasnya diluar selaku aktivis perempuan dan gereja.

Ketika beliu bilang dia aktif di Forum Aktivis Pembelaan Hak-Hak Perempuan di NTT, sayapun merasa tergugah, tertarik, dan ingin mengikuti aktivitas-aktivita yang beliu ikuti.

Akupun tak segan menawarkan diri untuk bersedia dan meluangkan waktu agar dilibatkan dalam aktivitas yang beliu tekuni, kemana-manapun saya siap untuk diajak. Kondisi tersebutpun semakin membuat saya nyaman untuk tinggal di Kupang, serasa mendapat teman yang sehati.

Dalam perjalanan pulang, sayapun bertanya-tanya dan semakin penasaran untuk mengetahui lebih lanjut relasi yang mereka bangun dalam rumah tangga, sehingga mereka masih terlihat harmonis satu sama lain.

Kupang, 23 Januari 2015

Yuliana Paramaayana

This entry was posted in Catatan Lapangan and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s