Jangan Ditawar!!!!

Dalam kunjungan beberapa hari yang lalu ke pengrajin tenun di Kota dan Kabupaten

Kelompok Pengerajin Tenun Kaine'e, Desa Teunbaon, Kecamatan Amarasi Barat, kabupaten Kupang.

Kelompok Pengrajin Tenun Kaine’e, Desa Teunbaon, Kecamatan Amarasi Barat, Kabupaten Kupang.

Kupang (20/01/2015, menyisakan cerita tersendiri. Saya bersama-sama dengan tim dari YSKK (Yayasan Satu Karsa Karya) Solo menempuh perjalanan seharian penuh.

Jarak tempuh yang lumayan jauh ddan kondisi jalan yang terjal serta tidak bersahabat menjadikan siapa saja orang yang melewati untuk selalu waspada. Wilayah tepatnya yang kami tuju adalah Desa Hueknutu Kecamatan Takari, Desa Tuenboun Kecamatan Amarasi Barat, dan Kelurahan Manutapen Kota Kupang.

Dalam setiap tempat yang kami kunjungi selalu saya temui hal-hal yang menarik untuk saya catat dan saya refleksikan. Terdapat beberapa kesamaan antara satu desa dengan desa yang lain selama saya berproses dan berinteraksi dengan kelompok pengrajin tenun.

Kesamaan tersebut terdengar saat saya melakukan komunikasi melalui telephon dan memberi tahu bahwa saya bersama dengan tim YSKK akan berkunjung ke kelompok pengrajin.

Respon dengan penuh semangat dan antusias itulah yang saya rasakan dari para peremuan pengrajin tenun, sampai-sampai untuk memastikan lebih lanjut, ibu-ibu selalu melakukan komunikasi dengan saya, meski sinyal seluler sangat susah untuk diakses.

Sesampainya di masing-masing kelompok, kutemui kesamaan lagi, yang mana ibu-ibu sangat senang dan gembira ketika kami datang.

Kesenangan dan kegembiraan tersebut terlihat ketika ibu-ibu pengrajin tenun menceritakan bagaimana proses menenun, bagaimana proses memasarkan hasil tenun sampai pada bagaimana membagi waktu antara urusan domestik dengan pekerjaan menenunnya.

Terlihat harapan dari wajah para perempuan pengrajin tenun agara kami bisa membeli kain tenun yang sudah mereka buat, meski ketiganya tidak menawari kami untuk membeli kain tenun.

Pertanyaan hargapun muncul dalam tengah-tengah perbincangan kami , berapa harga satu sarung tenun atau berapa harga satuan setiap kain tenun untuk ukuran yang berbeda. Harga memang cukup bervariatif mulai dari 25 ribu sampai juta-an.

Murah dan mahalnya harga ditentukan oleh kualitas bahan baku, pewarnaan, kerapian dalam menenun, lamanya waktu mengerjakan dan motif tenun itu sendiri.

Beberapa dari kami ketika akan membelipun mencoba untuk menawar dengan harapan kain tenun yang akan dibeli memiliki kulitas bahaan yang bagus, motif yang mempunyai cerita, tapi harga murah.

Sesekali menawar dengan orang yang berbeda-beda memunculkan tanggapan dari beberapa tim yang ikut berkunjung. Seperti diungkapkan oleh direktur kami berikut ini;

“Halah kalian itu lho kalau mau beli tidak usah nawar, orang mau memberdayakan orang kecil kok malah memperdayai , udah kalau mau beli segera dibeli, gak usah nawar terlalu merijik (keterlauan)” (Kangsure/33)

Hal tersebutpun langsung di respon posit oleh teman-teman yang ingin membeli kain tenun. Tanpa basa-basipun beberapa teman-teman yang membeli langsung bertanya harga pasnya berapa, kemudian langsung dibayaar.

Refleksi

Setelah saya telaah lebih jauh ternyata apa yang dibilang oleh direktur saya ada benarnnya. Dimana akses jalan yang rusak, jarak rumah ke pasar atau pusat kota yang jauh, dan pembuatan kain tenun yang mengerahkan seluruh upaya dan daya, sudah sepantasnya kita tidak menawar. Karena belum tentu satu bulan mereka mampu menjualkan kain tenun.

Sayapun beranggapan, bahwa mereka sangat senang kehadiran kami dan ada harapan kami membeli kain tenun mereka. Karena jika tidak ada yang memesan tenun buatan mereka, para pengrajinpun akan berhenti berproduksi dan ketika berhenti berproduksi, sudah bisa dipastian pendapatan mereka akan turun.

Perlu rasanya seseorang untuk tahu waktu, tempat ketika akan menawar sesuatu barang yang akan dibeli. Selain itu siapa yang menjual dan bagaimana proses produksinya itu bagian yang tak kalah pentingnya untuk di ketauhi dan ditelusuri.

Sehingga kita tidak akan salah menilai dan menghargai barang barang yang akan dibeli . Karena setiap karya mempunyai nilai tersendiri, dan setiap karya adalah buah pikir dan daya yang mereka ciptakan.

Ibaratnya ketika kita mampu membeli dan membayar berapapun barang yang dijual dan ditawarkan di mall-mall, pastinya kita juga mampu dan membayar kain tenun yang harganya sebanding.

Kupang, 24 Januari 2015

Yuliana Paramayana

This entry was posted in Catatan Lapangan and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s