Semangat Sekolah Anak-Anak Indonesia Timur di Tengah Keterbatasan

“Selamat siang!!!!!”, demikianlah sapa anak-anak secara bersamaan sepanjang perjalananku menuju Desa Hueknutu, Kacamatan Takari, Kabupaten Koepang, NTT (27/01/2015). Tidak ada beban yang terlihat setiap sapaan yang mereka lontarkan, justru sebaliknya dengan membawa drigen ditangannya, mereka terlihat riang dan penuh semangat.

Anak-Anak Pulang Dari Sekolah Di Desa Hueknutu, Takari, Kabupaten Koepang, NTT.

Anak-Anak Perjalanan Pulang Sekolah di Desa Hueknutu, Kecamatan Takari, Kabupaten Koepang, NTT (27/01/2015).

Tak lepas dari pendengaranku, ketika mobil yang saya tumpangi melintas di depan anak-nak, ada seorang anak laki-laki dengan rambut berwarna merah, ikal, tidak pakai sepatu berkata, “Wuee….lampunya nyalahe…, gagahe…”.

Terasa sekali bahwa anak-anak ini jarang melihat mobil atau lebih tepatnya mereka jauh dari kegemerlapan kota yang banyak lalu-lalang kendaraan.

Kaca mobilpun kami buka, kami-pun menjawab satu persatu anak-anak yang mengucapkan salam kepada kita, sampai-sampai mulut ini terasa lelah untuk menjawab.

Kami selalu berusaha menjawab salam mereka dengan senang agar mereka juga senang dan tidak kecewa atas kita, karena jarang kita bisa menemui kebiasaan salam-sapa seperti itu.

Selain salam dan sapa, kulihat anak-anak berjalan, menempuh jarak yang cukup jauh antara 15-20 KM dari sekolah menuju rumah. Canda dan tawa-pun terlihat dari wajah riangnya, dan tawa lebarpun selalu mereka keluarkan diantara teman-temannya.

Sesekali terlintas dalam benakku, “luar biasa perjuangan anak-anak ini untuk menimba ilmu di sekolah, kira-kira apa cita-cita mereka dengan kondisi wilayah yang seperti ini, jalan rusak, ada tiang listrik tapi tidak ada penerangan (listrik masuk rumah), ada pipa air tapi tidak ada air bersih.”

Dalam hatiku muncul keyakinan bahwa dari sekian anak yang saya lihat dan temui, pasti akan ada beberapa anak yang akan sukses dan mempu membangun wilayahnya menjadi jauh lebih baik dari sekarang.

Saya tidak tahu apakah apa yang saya pikirkan bisa menjadi kenyataan atau tidak, karena banyak teman-teman saya yang berasal dari Kupang, ketika mereka belajar ke Jawa, justru mereka enggan pulang, mungkin di Jawa jauh nyaman dan menjanjikan dari pada di tanah kelahirannya, itu pikirku.

Dalam do’aku, semoga anak-anak itu kelak dewasa menjadi orang yang pakar dalam bidangnya, berbudi pekerti luhur, dan mampu membangun wilayahnya yang terbelakang menjadi wilayah yang masyarakatnya sejahtera.

Koepang, 28 Januari 2015

Yuliana Paramayana

This entry was posted in Catatan Lapangan and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s