Belajar Kehidupan Dari ‘Ora’

Panggil saja dia Ora (19), seorang anak perempuan yang manis, berambut keriting agak pirang, dan berkulit sawo matang. Suaranya yang lembut dan matanya yang selalu menunduk kebawah membuat diriku semakin penasaran aka dirinya.

Kutemui dia saat sedang mengantar neneknya untuk minta didoakan oleh seseorang yang rumahnya saya kunjungi di Desa Teunbaun, Amarasi Barat, Kupang-NTT (20/02/2015). Terlihat pada waktu itu neneknya sedang berjalan sempoyongan dan menahan rasa sakit.

Dalam awal pertemuanku, langsung perhatianku teralih pada dia (Ora/19), dan sapaan awalpun saya lontarkan,”Selamat siang, silahkan masuk, sudah pulang sekolah ko nona?”. Diapun menjawab, “Saya sudah tidak sekolah.”lalu pertanyaan itu menjadi awal saya bertanya dan bertanya lagi yang akhirnya kami saling berbincang selayaknya teman.

Sambil menunggu neneknya untuk didoakaan, sayapun mengajak dia berbincang-bincang. Dalam bincang-bincang terlihat bahwa dia memang tidak seberuntung teman-teman sebayanya.

Sejak lulus SMP (Sekolah Menengah Pertama), dia hanya dirumah dan tidak melanjutkan sekolah lagi. Bahkan keinginan untuk bekerja ke kotapun dia urungkan, karena dia harus merawat mama dan neneknya yang sedang sakit.

Sementara enam saudaranya tidak dirumah, lima saudara sudah berkeluarga dan sibuk dengan keluarganya masing-masing sehingga tidak mau peduli dengan dia dan ibunya, sementara satu saudaranya lagi merantau ke Surabaya untuk mengais rejeki.

Dari saudaranya di Surabaya-lah, dia menghidupi kebutuhan sehari-hari dia dan mamanya. Ketika kiriman uang telat, diapun ikut bantu-bantu pekerjaan tetangga dengan harapan untuk mendapaatkan upah.

Bapaknya sebagai kepala rumah tangga ternyata sudah lama pisah dengan mamanya. Bapaknya yang sering mabok dan memukuli mamanya, itu yang menjadi alasan mamanya minta pisah.

Sesekali dia melerai bapak dan mamanya bertengkar, justru dia yang kena tamparan. Seketika itu pula dia takut untuk melerai kembali. Rasa trauma itu susah untu dihilangkan, itu yang saya amati dari tutur kata yang dia sampaikan.

Betapa luar biasa perjuangannya untuk bertahan hidup, itu yang saya rasakan. Dia rela megorbankan masa anak-anaknya untuk merawat mama dan neneknya. Diapun harus mencari penghasilan tambahan untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya.

Hanya satu keinginannya saat ini yaitu ingin bisa belajar menjahit, punya mesin jahit sehingga bisa melakukan pekerjaan menjahit dirumah dan membantu ekonomi keluarga. Sederhanaa memang, tapi itupun tak bisa dia wujudkan, karena memang dia tidak punya uang untuk itu semua.

Beberapa saat kemudian neneknya selesai didoakan, dan percakapan kitapun terhenti. Kemudian saya minta dan sarankan untuk dia bergabung dalam kelompok pengrajin tenun Kaine’e.

Harapannya, dengan usianya yang masih muda, dia bisa mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya dengan baik. Dia bisa berlatih berorganisasi, dia bisa mengakses pelatihan-pelatihan yang diperoleh kelompok, dan dia bisa keluar untuk mengaktualisasikan dirinya dalam kehidupan sosial masyarakat sehingga dia menjadi perempuan yang mandiri.

Koepang, 20 Februari 2015

Yuliana Paramayana

This entry was posted in Catatan Lapangan and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s