Kapan Bisa Nonton Layar Tancap Lagi?

‘Sudah lupa’, itu yang mama-mama desa Hueknutu, Takari, Kupang-NTT katakan ketika ditanya, kapan terakhir nonton film. Karena lamanya tidak nonton film, merekapun tidak ingat kapan terakhir nonton.

Saat tangan bekerja menyusun benang-benang tenun, mereka menuturkan bahwa mereka terakhir nonton film saat ada program KKN (Kuliah Kerja Nyata) dari Universitas Nusa Cendana di desanya, setelahnya tidak pernah sama sekali. Mereka menyebut nonton film bersama itu dengan nonton film ‘layar tancap’.

“Pada waktu itu sebelum nonton film layar tancap, kepala desa mengumumkan kepada seluruh warganya untuk datang ke pelataran balai desa  pada waktu yang telah ditentukan”, tutur mama Rambu (49).

Pengumuman itupun disambut antusias oleh warganya. Pada hari-H mereka berduyun-duyun membawa keluarga masing-masing, membawa bekal dari rumah dan menuju ke pelataran balai desa tempat untuk nonton film.

‘Sangat senang’, itu yang mama-mama rasakan ketika nonton layar tancap bersama dengan warga lain. Karena memang itu pertama kali mereka nonton film lewat layar tancap.

Ketidak ada-an listrik menjadi salah satu faktor mereka tidak bisa nonton film.Ketika ditanya, “Lha itu ada tiyang listrik, tapi kenapa tidak ada listrik?” Mereka menjawab, bahwa tiyang listrik tersebut tidak sesuai dengan standar, sehingga listrik belum bisa dialirkan.

Indikasi dikorupsi, itu bisa dipastikan, karena memang hasil audit tiyang-tiyang yang dibangun tidak sesuai dengan spesifikasi dan anggaran yang direncanakan. Tapi sayang tiyang-tiyang listrik yang tidak sesuai itu, tidak segera dipugar dan digantikan.

Merekapun tidak tahu sampai kapan mereka hidup dalam kondisi gelap tanpa adanya aliran listrik.Dalam perbincangan waktu itu (16/02/2015), mereka berkata, “Gimana kalau kapan-kapan nona adakan nonton film bareng”.

Terlihat bahwa mereka sangat rindu dan ingin nonton film dan dari wajah-wajah mereka terlihat haraapan besar agar desanya dialiri listrik, sehingga mereka bisa nonton film, berita lewat TV dan rumah mereka bisa terang kalau malam.

Dalam benaku berkata, bagaimana rakyat bisa pintar kalau masalah listrik aja tidak bisa atasi, itu belum yang lainnya seperti masalah air, masalah infrastuktur dan masalah-masalah lainnya.

Apakah memang mereka dibiarkan untuk bodoh, sehingga mereka mudah untuk dibohongi, dijadikan objek-objek programnya, tapi arah dan hasilnya tidak jelas, atau mau diseperti apa?

Disisi lain, sudah sepatutnya orang yang selalu merasa kurang untuk lebih belajar dari mereka. Belajar bagaimana mereka bisa selalu bersyukur, menghargai, merawat atas apa yang mereka miliki dan belajar bagaimana mereka bisa bertahan hidup dengan serba keterbatasan.

Koepang, 21 Februari 2015

Yuliana Paramayana

This entry was posted in Catatan Lapangan and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s