Lebih Baik (Miskin) Semua

Sore itu melihat jam tangan, waktu menunjukan pukul 17.30 WITA. Aku mulai menapakan kaki dan berjalan selangkah demi selangkah berkunjung ke beberapa rumah para pengrajin tenun kelompok Naubina di Desa Hueknutu, Kecamatan Takari, Kupang-NTT  (24/02/2015).

Perjalanku tidak sendiri, Mama Rambu (ketua kelompok) menamiku. Kebetulan sore itu mama Rambu ada keperluan dengan mama Pendeta untuk mendiskusikan masalah kelompok dan aku sengaja untuk ikut karena rencana jalan-jalan sebelumnya sempat tertunda.

Nuansa gelap tiba-tiba terasa saat malam mulai tiba. Terlihat satu, dua, sampai tiga orang berlalu lalang sepanjang perjalanku tanpa kulihat wajahnya. Selama perjalanan saya tak henti-hentinya bertanya dan mendengar cerita dari mama Rambu tentang kondisi sosial masyarakat di Hueknutu.

Kudengar suara jenset mulai menderu-deru dari beberapa rumah yang saya lewati. Lampu-lampu mulai menyala, suara musik mulai dimainkan dengan suara yang sangat keras dan terlihat beberapa orang sedang melihat televisi, ada yang didalam dan ada yang ada melihat dari jalan.

Ternyata mereka yang mempunyai jenset adalah beberapa orang kaya yang ada di desa. Sementara orang yang melihat telivisi dari jarak yang lumayan jauh, ternyata mereka orang miskin, yang tidak mempunyai televisi, dan di rumah tidak mempunyai jenset. Karena memang desa Hueknutu belum ada aliran listrik.

Tepat pukul 18.00 WITA, aku bersama mama Rambu sampailah di rumah mama Pendeta. Dalam pertemuan itupun, saya coba manfaatkan untuk bertanya dan mengkonfirmasi setiap kejadian dan cerita yang saya dengar dan saya lihat, baik itu masalah listrik, air, bahkan masalah orang kaya yang ada desa Hueknutu.

Awal percakapan itupun dimulai dan pertanyaanpun saya lontarkan kepada mama pendeta, “Kenapa anak-anak atau orang-orang itu melihat televisi di tetangga dari jarak yang cukup jauh?”

Dari satu pertanyaan itu, saya sedikit banyak mengetahui kondisi sosial masyarakat di Hueknutu. Mama Pendeta menjelaskan bahwa memang yang mempunyai jenset di desa Hueknutu adalah hanyalah orang-orang yang mampu, karena selain harganya yang mahal, pengeluaran untuk mengoperasikan, mereka minimal dalam sebulan harus mengeluarkan 600 rb untuk membeli bensin. “Hanya orang mampulah yang bisa membeli itu”, tukas mama Pendeta.

Anak-anakpun tidak sembarangan bisa keluar masuk bahkan untuk menonton TV dirumah orang kayaa tersebut. Karena dalam satu kejadian, anak-anak ketika diperbolehkan nonton TV, tuan rumah mengalami kehilangan uang. Sehingga itupun menjadi alasan untuk anak-anak tidak boleh sembarang masuk dirumah, bahkan di pekaranganpun. Anak-anakpun akhirnya melihat TV dari luar pekarangan orang kaya yang jarak TV-nya tidak jauh dari jangkauan matanya.

Hatikupun tersayat sakit mendengar cerita itu, air mata inipun lepas tanpa kendali dan akhirnya jatuh kepangkuanku. Dalam hatiku berkata, ‘Sebegitukah mereka memperlakukan anak-anak yang tidak tahu apa-apa dan tidak punya apa-apa?’

Kini, jarang anak-anak yang nonton TV dirumah tetangga, karena selain tidak diperbolehkan oleh yang punya rumah, orangtuapun melarang anak-anak untuk nonton TV ke rumah tetangga.

‘Mungkin lebih baik semua orang yang ada desa itu (miskin) dari pada kaya’, itu spontan perasaan emosional yang langsung terlintas dalam benaku. Karena secara tidak langsung orang kaya telah mengajarkan orang lain (orang miskin) untuk sombong, tidak peduli, iri dan akhirnya merekapun belajar untuk mencuri.

Ditengah rasa pesimisku, saya masih melihat harapan besar pada mereka yang tidak mampu (perempuan pengrajin tenun), untuk bangkit, maju dan menjadi mandiri. Semangat itulah sekiranya yang selalu mendorong diri ini untuk mengandeng tangan mereka dan mengajak mereka untu bergerak.

Waktu sudah mulai larut malam, jam tangan sudah menunjukan pukul 20.00 WITA, saya dan mama Rambu pamit untuk pulang. Bersyukur, malam itu bulan sedikit mampu menerangi perjalananku yang gelap gulita. Sempat tersandung, tapi itu adalah hal yang kecil dibanding dengan penderitaan mereka.

Kunjungan ke mama-mama pengrajin tenununpun hanya dilakukan dibeberapa tempat dan beberapa saat, karena memang malam sudah mulai larut dan gelap, aktivitas wargapun sudah terhenti. Akhirnya kamipun sampai dirumah pukul 21.00 WITA.

Koepang, 27 Februari 2015

Yuliana Paramayana

This entry was posted in Catatan Lapangan and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s