Menari dan Bernyanyi Bersama

IMG_1342Menari dan bernyanyi, itulah secuil pelajaran yang saya peroleh dari mama-mama selama pelatihan enam hari di Desa Hueknutu, dan Kelurahan Teunbaun, Kabupaten Kupang-NTT.

Betapa senang dan percaya dirinya mereka ketika alunan musik mulai dimainkan. Tangan dan kaki bergerak serentak dan saling bergantian.

Tawa dan candapun mulai pecah dan lepas, tanpa rasa malu bahkan terlihat sangat-sangat menikmati. Sekali-kali mereka saling sahut-menyahut dengan bahasa mereka yang susah aku pahami.

Manari dan bernyanyi adalah obat untuk mengusir kejenuhan dan kebosanan sehingga pikiran menjadi fresh. Akhirnyapun saya ikut menari dan bernyanyi. Berusaha lepas tanpa beban, dan menyatu  dengan gerakan mama-mama.

Awalnya memang saya merasa malu dan tidak percaya diri. Tapi setelah saya pikir-pikir, kenapa harus malu, orang saya bagian dari yang menghibur dan dihibur. Masak saya kalah sama mama-mama, nona-nona, dan nenek peserta pelatihan (bisikan hatiku).

Dengan selendang yang diberikan mereka kepadaku, mereka menarik dan mengajaku menari, serta mengajariku bagaimana menari yang benar sesuai dengan adat, budaya mereka.

“Lihat gerakan saya, ayo ikuti, pelan-pelan, tangan kanan naik, tangan kiri turun, kaki agak dibenggangkan..”, arahan mama Paulina (58)???????????????????????????????

Kaki yang begitu rapat, badan harus bergerak naik dan turun, kemudian tangan harus mengikuti gerakan kaki sesuai dengan alunan musik.

Capek!!!Iya memang capek, itu yang saya rasakan, benar-benar tidak budah. Sesekali saya sempat jatuh, ketika gerakan badan harus turun sedikit demi sedikit, kaki tidak boleh pindah dari tempat, dan saya harus menahan sesuai alunan musik.

Senang, ya saya merasakan senang dan puas, seluruh keringat keluar dari tubuh saya, serasa saya kembali ke kehidupan kecil saya, yang suka menari.

Dari hal kecil yaitu menari dan berjoget, kita bisa ambil pelajaran bahwa setiap orang mempunyai potensi dan kemampuan. Tidak usah kita bersusah payah untuk mencari permainan untuk menghibur mereka, karena pada dasarnya merekalah sumber dari permainan itu sendiri, untuk menghibur diri dan sesamanya.

Koepang, 1 Maret 2015

Yuliana Paramayana

This entry was posted in Catatan Lapangan and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s