Kalau Sudah Murah, Jangan Ditawar

Pagi itu (07/03/2015), sepanjang perjalananku dari Kota Kupang menuju WP_20150307_11_53_25_ProTeunbaun, Kabupaten Kupang ku lihat mama-mama sedang menjajakan hasil kebunnya.

Mereka menjual sebagian besar hasil kebunnya di pinggir-pinggir jalan, di sepanjang jalan yang saya lewati.

Terlihat sepiring jamur yang diletakan diatas meja, ditemani dengan sayuran lainnya seperti terong, labu, bayam, kacang panjang mentimun dll.

Di tempat lain terlihat mereka juga menjajakan berbagai macam buah seperti jambu biji merah, sirsak, pisang, jaruk bali dll.

Sempat terpikir dalam benaku, “Nanti kalau pulang beli ah..”, dan akhirnya niatan itu menjadi kenyataan.

Meski awalnya sempat ragu karena cuaca waktu itu mendung dan hampir hujan, akhirnya saya putuskan putar balik kendaraan dan berhenti untuk membeli buah-buahan yang mama-mama jual.

Ketertarikanku pada jambu merahlah yang membuatku harus berhenti, terlebih karena maanfaatnya yang banyak mengandung vitamin dan dapat meningkatkan hemoglobin (sel darah merah) pada tubuh.

Jambu merah itu diwadahi dalam dua rantang, yang satu ada pada rantang  berukuran sedang dan yang satunya ada pada rantang yang berukuran besar.

Harga satu rantang jambu merah yang berukuran sedang mereka jual dengan harga 5 rb dan harga satu rantang jambu merah yang berukuran besar mereka jual dengan harga 10 rb.

Bagi saya harga segitu sangatlah murah, karena kalau beli di mall atau di toko-toko buah bahkan di pasar-pasar tradisonal sudah pastilah harga segitu tidak dapat apa-apa. Tanpa tawar-menawar, akhirnya saya beli satu rantang besar jambu merah.

WP_20150307_11_52_34_ProSetelahnya, kurang lebih 50 meter dari penjual jambu merah, terlihat mama-mama menjual sirsak dan pepaya.

Secara tiba-tiba sayapun langsung berhenti, dan langsung saya tanya, “Mama, berapa ko harga ini sirsak dan pepaya?”. Mereka jawab, “sepuluh ribu”.

Langsung kaget, itu reaksi pertama yang saya rasakan, “Murah sekaliiii….”. padahal satu buah sirsak  dengan ukuran yang sama di pasar harganya 20-30rb. lha ini dengan hanya mengeluarkan uang 10 rb, saya sudah dapat 1 sirsak dan 1 pepaya yang besar. Tanpa ku tawar, dua buah itupun aku bayar.

Sejenak  ‘ngobrol’

Sejenak ku luangkan sedikit waktu untuk ngobrol-ngobrol dengan mereka. Hasi ngobrolpun cukup membuatku semakin kagum dengan mereka. Mama-mama bercerita bahwa sehari-hari selain bertani, mereka juga berkebun, kemudian hasil kebun mereka jual.

Selain itu, mereka sering kali pergi ke hutan untuk mencari buah-buahan maupunn sayur-sayuran untuk dijual. Apa yang saya beli, itu adalah hasil mereka cari di hutan.

Mereka kerahkan segenap tenaga untuk mencari sesuatu dan menghasilkan sesuatu untuk mereka bisa bertahan hidup, untuk mereka bisa menyekolahkan anak-anak mereka, untuk membeli beras, dan untuk membeli kebutuhan pokok lainnya.

Paling tidak dari catatan kecilku ini, saya bisa belajar banyak hal, bagimana kita harus menghargai jerih payah orang lain, bagaimana kita harus hidup dari rejeki yang halal tanpa mengambil hak orang lain, belajar tentang kesederhaan, dan belajar tentang kebersamaan serta kegotongroyongan.

Sesampainya di kantor, itu buah sirsak dan jambu merah langsung dilahap bareng-bareng. Kebetulan kondisi badan baru tidak fit, jadi bisa untuk meningkatkan kekebalan imun tubuh.

Koepang, 9 Maret 2015

Yuliana Paramayana

This entry was posted in Catatan Lapangan and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s