Kebiasaan Minum ‘SOPI’ Perempuan Hueknutu

‘Upacara Adat’, ya…itu yang mama Rambu (Ketua kelompok pengrajin tenun ‘Naubina’) ungkap kepada saya (07/03/2015), ketika selesai pelatihan Managemen Organisasi dan Usaha selama 3 hari dirumahny.

Upacara adat, itu sudah menjadi tradisi setiap selesai aktivitas yang menurut mereka lama. Mereka melakukan itu diluar sepengetahuan saya, tapi segala sesuatunya sudah disiapkan.

Lantas saya tidak hanya diam begitu saja, saya mencoba menggali lebih dalam, apa yang menjadi alasan mereka menyembunyiakan itu semua.

Ketika saya tanya, “Kenapa mama tidak mengajak kita, kita kan bisa tahu seperti apa upacaranya, dan kita bisa ambil photonya?”

Mama Rambu-pun menjawab, “Kita kalau upacara adat berdoa sesuai keyakinan kita, kemudian kita minum ‘SOPI’….sampai mabok”.

‘SOPI’ adalah salah satu merk minuman keras sejenis Anker, Topi Miring, Bir Bintang, Mix Max, Anggur Orangtua, yang biasa orang-orang desa minum.

“Oya…!!!!”.., tiba-tiba terlepas suara itu dari mulutku. Kemudian mama Rambu bercerita, bahwa sesusai pelatihan, mama-mama masih melakukan upacara adat atas kelancaran pelatihan selama tiga hari.

Awal dalam melakukan upacara, ‘SOPI’ yang dikeluarkan hanya satu, diminum secara bergantian anatar mama-mama dengan menggunakan 1 gelas saja. Setelah habis, baru ditambah lagi dan ditambah lagi.

Jumlah total ‘SOPI’ yag dihabiskan selama upacara tersebut adalah lima botol, setelahnya mereka pulang dalam kondisi mabok. Mereka dijalan teriak-teriak, nyanyi-nyai, goyang-goyang, dan apa yang didapat dalam pelatihan mereka keluarkan.

Hanya mama Rambo yang tidak minum, karena memang sudah sejak kecil dia tidak diperbolehkan minum oleh keluarga. Terlepas dari itu semua, mama Rambu merasa senang karena mama-mama bisa merasakan nikmatnya ‘SOPI’, setelah lama mereka tidak pernah minum.

“Kebiasaan itu sudah menjadi budaya masyarakat di Hueknutu, baik laki-laki maupun perempuannya, jadi jangan heran…”, tukas mama Rambu kepada saya.

Mendengar cerita dari mama Rambu, rasa-rasanya saya ingin menelusur lebih lanjut, kenapa mereka mempunyai kebiasaan tersebut? Apa yang melatar belakangi? Apa mereka tidak memikirkan kesehatan? Bagaimana dengan anak dan suami mereka, begitu sebaliknya?

Atau memang ada banyak hal yang mereka pendam, mungkin beban ekonomi, beban keluarga, dan beban-beban lainnya, sehingga dengan minum ‘SOPI’ segala sesuatunya bisa tersalurkan, seakan bebas, ringan dan tanpa beban.

“Ya…, saya hanya ingin tahu”, karena kalau itu di wilayahku (Di Jawa) habis itu perempuan, tapi tidak bagi kaum laki-laki.

Mungkin mereka akan dibilang wanita jalang, tidak tahu sopan santun, tidak memikirkan keluarga, sampai disumpahin masuk neraka.

Pastinya lagi itu perempuan sudah diusir dari rumah, dibalikin ke orangtua, karena sudah mempermalukan keluarga.

Tapi tidak tahu kalau itu dilakukan oleh banyak perempuan, mungkin bisa kena razia oleh aparat, atau tidak kena razia dari segerombol orang yang menentang aktivitas tersebut, seperti berita-berita di TV.

Perlu melihat secara utuh tentang segala sesuatu, sebelum kita mengambil kesimpulan. Semua itu membutuhkan waktu, tenaga dan pikiran yang lebih untuk mengetahuinya, sehingga sikap menghakimi itu akan terminimalisir.

Koepang, 9 Maret 2015

Yuliana Paramayana

This entry was posted in Catatan Lapangan and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s