Apa sih yang disenangi mama-mama saat menenun?

Pertanyaan diatas terlihat sederhana, tapi tidak mudah untuk menjawabnya. Begitulah yang dialmi oleh mama-mama pengrajin tenun di NTT. Selama kurang lebih 7 hari pelatihan di 3 tempat yang berbeda yaitu Manutapen, Hueknutu, Teunbaun. Rata-rata waktu yang dibutuhkan mama-mama untuk menjawab pertanyaan itu membutuhkan waktu kurang lebih 45 menit.

WP_20150320_09_14_31_Pro

Waktu itu dirasa lama, karena mama-mama sebenarnya sudah lama mengenal tenun, bahkan sudah menjadi seperti teman hidup. Dimanaa setiap pagi, siang, sore, malam-pun mereka sering melakukannya.

Hal yang disenangi saat menenun

Mereka menyukai atau menyenangi kegiatan menenun dikarenakan beberapa hal, diantaranya adalah:

  1. Senang melihat gambar yang sedang dikerjakan saat menenun.
  2. Bisa minum kopi.
  3. Bisa makan sirih pinang.
  4. Sebagi teman dalam istirahat.
  5. Ditunggui suami saat menenun dan suami membantu gulung benang.
  6. Menenun dapat membantu perekonomian dalam keluarga.
  7. Menenun dalam kelompok bisa menjadikan semangat dalam menjalankannya.
  8. Dapat dipakai untuk hari-hari raya.
  9. Waktu yang dipakai hanya untuk tenun.
  10. Motif diminati oleh tamu dari manca negara.
  11. Hasil tenun dibeli oleh tamu yang datang.
  12. Melestarikan kain dan budaya daerah.

Dari sekian hal yang disukai mama-mama, hal yang membuatku tertarik untuk membahasnya adalah ketika mama-mama menenun, mama-mama ditemani oleh suaminya dan suaminya ikut membantu gulung benang.

Ternyata setelah ditelusuri, mama-mama selama ini menenun jarang mendapatkan dukungan yang penuh dari suami. Sehingga kegiatan menenun hanya menjadi sampingan.

Pandangan laki-laki tentang perempuan menunjukan bahwa pekerjaan pokok yang harus dikerjakan perempuan adalah mengurus rumah tangga dan saat musim hujan adalaah bertanam, baru setelahnya mereka diberi kebebasan untuk menenun.

Mungkin karena tenun belum berkontribusi dalam peningkatan ekonomi rumah tangga, sehingga para suami-suami belum mendukung secara penuh.

Tapi alasan tersebut tidak sepenuhnya benar, karena waktu banyak pesanan tenun di kelompok, sementara waktu musim tanam, mereka lebih memilih dan meminta perempuan untuk bertanam di sawah. Sehingga pesanan tenun-pun tertunda untuk beberapa waktu sampai mereka selesai bertanam.

WP_20150319_17_10_17_Pro

Faktor yang menjadi penghambat kemajuan terbesar perempuan sebenarnya para suami-suami mereka, kenapa? Karena selama menenun bagi kaum laki-laki di wilayah Timor adalah hal yang tidak diperbolehkan, mereka bilang pamali atau lebih tepatnya dibilang tidak laki-laki, sehingga tidak ada laki-laki Timor yang bisa menenun dan membantu kaum perempuan dalam memenuhi pesanan.

Selain itu faktor terbesar kedua karena para laki-laki tidak bisa melakukan tanam padi di sawah, entah karena pamali atau entah karena tidak mau belajar, atau entah karena apa. Sehingga hal tersebut menjadikan kewajiban perempuan khusussnya mama-mama di suku Timor untuk melakukan kegiatan tanam. Karena dari mereka bertanam, mereka bisa makan dan minyimpananya dalam waktu yang lama untuk persediaan.

Hal yang tidak disukai saat menenun

Meski menenun sudah menjadi seperti sahabat sendiri bagi mama-mama di Nusa Tenggara Timur, ternyata ada beberapa hal yang tidak disukai mama-mama saat menenun, diantaranya adalah sebaagai berikut:

  1. Benang saat menenun putus-putus.
  2. Hasil tenunan tidak ada yang membeli.
  3. Hasil tenun tidak baik atau tidak bagus.
  4. Saat menenun ada tamu yang datang dan mengganggu.
  5. Saat menenu diajak bercerita.

Hal yang paling tidak disukai saat menenu yang sering mereka utarakan adalah ketika hasil tenun mereka tidak ada yang membeli. Sehingga mereka tidak bisa melakukan produksi lagi dan tidak ada pendapatan yang masuk untuk membantu perekonomian keluarga.

Selain itu kualitas tenun yang dihasilkan tidak bagus seperti benang putus, tidak rapi, tidak padat, menjadikaan kekecewaan tersendiri bagi mama-mama ketika mereka selesai menenun. Hal tersebut berakibat pada hal yang sama yaitu, tenun tidak laku, karena tenun kualitasnya kurang baik. Sehingga produksi tennun mereka ikut berhenti.

Meski laku atau tidak tenun yang mereka buat, mereka selalu senang dalam melakukan kegiatan bertenun. Dimana jika tenun-tenun yang mereka buat tidak laku, sebagian besar dari mereka tenun disimpan atau kalau tidak mereka pakai sendiri tenun yang sudah dibuat.

Begitulah kehidupan para perempuan pengrajin tenun di Nusa Tenggara Timur. Tidak selamanya hal yang mereka senangi selalu bisa menyenangkan mereka. Tapi hal yang tidak menyenangkan bisa mereka ubah untuk menjadi hal yang menyenangkan yaitu melakukannya dengan hati, bersungguh-sungguh, dan terbuka atas hal-hal yang baru tanpa meninggalkan warisan adat dan budaya nenek moyang mereka.

Koepang, 23 Maret 2015

Yuliana Paramayana

This entry was posted in Catatan Lapangan and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s