Tiga Jam Bicara Kemandirian Ekonomi dan Posisi Politik Perempuan

Satua jam setelah menjadi pendengar dan pengamat yang baik dihadapan para perangkat-perangkat desa yang sedang bersantai ria di Balai Desa Semin, Gunungkidul (22/05/2015), yang terdiri dari bapak-bapak semua, akhirnya tiba pula waktu untuk berbincang-bincang dengan para perempuan dalam rapat pengurus dan pertemuan anggota koperasi.

Banyak agenda yang didiskusikan dan dilakukan oleh para perempuan pada hari itu, mulai pembahasan pembadan hukuman koperasi, kredit macet, latihan pembuatan sirup, pengurusan P-IRT,  kegiatan simpan pinjam, dan mendorong perempuan terlibat dalam ranah publik strategis.

Dalam rangka pembadan hukuman, tabungan dalam bentuk deposito sebagai persyaratan terakhir sudah jadi dan akan diserahkan pada tanggal 26 Mei 2015. Kemudian terkait dengan kredit macet pengurus akan membuat surat penagiahan dan peringatan. Selanjutnya terkait dengan pelatihan pembuatan sirup yang sudah tertuda selama 5 bulan, koperasi akan mengadakannya pada tanggal 26 Mei 2015 pukul 13.00 WIB di rumah ketua koperasi. Sedangkan terkait pengurusan P-IRT, pengurus akan mengkonfirmasinya pada saat perjalan ke dinas.

Sementara dalam rangka mendorong perempuan untuk tergugah motivasinya dalam berwirausaha dan  berperan dalam ranah publik strategis, pendamping dari Yayasan Satu Karsa Karya (YSKK) membagi pengalamannya saat tinggal beberapa bulan di Kupang dan  membagi pengalamannya saat satu jam berbincang-bincang dengan perangkat desa.

Pada dasarnya kondisi perempuan di Jawa jauh lebih baik dibanding dengan perempuan di Kupang. Dimana dari segala akses, perempuan di Jawa aksesnya jauh lebih mudah dan dekat, baik akses air, infrastuktur, penerangan dll. Sehingga para perempuan di Jawa diajak belajar dan mengambil hikmah dari bagaimana perempuan di Kupang bisa bertahan hidup dengan segala keterbatasannya. Bukan lantasan ketika akses mudah justru membuat perempuan malas untuk melakukan sesuatu.

Dari sudut pandang para laki-laki, ternyata perempuan mempunyai posisi yang berbeda. Mereka biasa dijadikan bahan perbincangan bahkan sampai bahan pecandaan. Dari sisi keterlibatan dalam pembangunan desa, perempuan hanya dilibatkan dalam pembuatan dan pelaksana program. Sementara kebijakan masih dipegang oleh kaum bapak-bapak baik dalam forum formal maupun non formasl. Sehingga kondisi tersebut perlu untuk perempuan terlibat dan aktif dalam ranah publik strategis untuk menyuarakan hak-hak kaumnya.

Dari dua sudut pandang tersebut, ibu-ibu yang awalnya tidur saat pertemuan akhirnya terperangak dan bangun dari tidurnya. Terlihat para ibu-ibu mulai bersemangat dalam berkoperasi, apalagi dengan adanya doorprize untuk para anggota yang hadir dalam pertemuan. Dalam ranah publik strategis, banyak kaum perempuan yang mendaftar dalam seleksi perangkat desa pada tahun 2015 ini. Agar perempuan lolos seleksi, para perempuan akan megawal jalannya seleksi dan mendorong agar panitia seleksi ada yang dari perempuan.

Surakarta, 25 Mei 2015

Yuliana Paramayana

This entry was posted in Catatan Lapangan and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s