Perempuan Berhadapan dengan Birokrasi Pemerintahan

Selasa (26/05/2015)_, bendahara (koperasi “Sekar Arum” (Niken/30) bersama dengan pendamping dari Yayasan Satu Karsa Karya Solo (Yuli/28) melakukan koordinasi di Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi  Energi dan Sumber Daya Alam (Perindakop & ESDM) dan Dinas Kesehatan pemerintah daerah Kabupaten Gunungkidul.

Agenda yang diangkat dalam koordinasi adalah pemberkasan koperasi dan pengurusan nomer P-IRT. Sesampainya disana, terlihat ruangan bagian koperasi kosong tak satupun orang bisa ditemua. Pendamping mencoba bertanya kepada tetangganya dibagian perdagangan, ternyata semua staf sedang melakukan kgiatan lomba “Tangkas” tingkat SMA di Gedung PGRI. Tapi kenapa tidak ada orang satupun yang menjaga kantor, bagaimana kalau ada maling?

Karena tidak dapat informasi yang utuh, langkah yang diambil selanjutnya adalah menghubungi Kabag koperasi (Sigit/45) lewat telphon. Hasilnyapun memang para staf ada yang tugas di provinsi dan ada pula yang sedang ada kegiatan di Gedung PGRI. Kemudian terkait berkas pembadan hukuman koperasi “Sekar Arum” Kabag koperasi menyampaikan untuk berkas minta diletakan di Meja ibu Giayarti yang mengurusi pemberkasan untuk kemudian agar segera ditindak lanjuti.

Tak lama kemudian mereka meninggalkan kantor bagian koperasi dan lanjut ke dinas kesehatan untuk mengurus nomer P-IRT. Sesampainya di Dinas Kesehatan ketemulah dengan bapak Suanryo yang sebelumnya mengunjungi atau melakukan survey ditempat pemproduk.

Ketika ditanya-tanya mengenai kenapa sertivikat kenapa belum jadi. Ternyata sertifikat dan nomer P-IRT belum ditemukan dokumennya, entah sudah dibuat atau belum. Tapi setelah ditelisik dan melihat arsip, hasil sebenarnya ibu-ibu koperasi telah lulus dan mendapatkan sertivikat. Kanapa tidak ada?

Ternyata setelah ditelisik pasca pergantian kepala dinas, ada beberapa data yang belum ditindak lanjuti. Kemudian terkait sertivikat setelah kurang lebih 30 menit mencari, akhirnya ketemu.

Diakhir sesi, ibu-ibu meminta untuk nomer P-IRT masing-masing produk jadi setbelum puasa tiba. Selain itu mereka memberikan masukan kepada dinas, agar kedepan kejadian tersebut tidak terulang kembali. Sehingga harapannya hambatan-hambatan bagi perempuan pengusaha mikro dalam berusaha bisa terminimalisir

“Dibilang rumit juga tidak tapi melelahkan, itulah ketika berurusan dengan birokrasi, tinggal kita ada kemauan atau tidak”, tukas pendamping dari YSKK. Harus tegas dan berani beradu argumen untuk menuntut hak-hak mereka yang belum dipenuhi oleh pemerimtah.

Kesabaran juga menjadi kunci utama dalam menjalaninya,diselingi dengan candaan selayaknya teman itu jauh lebih enak serta mudah diterima dalam menjalin komunikasi. Tidak boleh putus asa, pesimis ataupun berasumsi sebelum semuanya jelas, Itulah tips berinteraksi dengan birokrasi.

Surakarta, 27 Mei 2015

Yuliana Paramayana

This entry was posted in Catatan Lapangan and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s