Perempuan Menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN

Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) tinggal menghitung bulan. Tak terlihat kepanikan sedikit apapun dari masyarakat Indonesia. Ternyata hasil diskusi dalam forum-forum pertemuan kelompok, banyak masyarakat khususnya perempuan tidak tahu apa itu MEA.

Seperti halnya kemarin (22/06/2015), saat Pra Koperasi Sekar Arum melakukan pertemuan anggota di Balai Desa Semin, Gunungkidul Yogyakarta, dimana mereka selaku perempuan pengusaha mikro baru mendengar MEA baru kali waktu itu juga.

Mulai kebingungan, itu yang terlihat ketika mereka mendapat penjelasan pendamping Pra koperasi dari Yayasan Satu Karsa Karya (Yuli/28). “Kira-kira apa yang harus dilakukan”, itulah ungkapan yang keluar dari pembicaraan mereka.

Cukup miris memang ketika mendengar para perempuan pengusaha mikro yang tidak paham tentang MEA. Apalagi kekurang siapan pemerintah dalam menghadapi MEA. Sementara negara tetangga sudah mulai mempelajari bahasa Indonesia, melakukan sosialisasi-sosialisasi ke sekolah-sekolah dan masyarakat.

“Tidak perlu muluk-muluk untuk berbenah dan bersiap diri”, itulah yang pendamping sampaikan kepada ibu-ibu dalam rangka menghadapi MEA. Dimana ketika pemerintah tidak menyediakan fasilitas dan memberikan pemahaman tentang jalurnya, maka hal kecil yang bisa dilakukan perempuan adalah membuat gerakan “Cinta Produk Olahan Lokal” dan melakukan inovasi-inovasi produk yang bisa dikembangkan.

Surakarta, 23 Juni 2015

Yuliana Paramayana

This entry was posted in Catatan Lapangan and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s